Cegah Dampak Tanah Bergerak, Pakar UMS Soroti Peran Mitigasi Masyarakat

Cegah Dampak Tanah Bergerak, Pakar UMS Soroti Peran Mitigasi Masyarakat

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Sebagai negara dengan curah hujan tinggi dan banyak wilayah berlereng, Indonesia menghadapi risiko besar terhadap fenomena tanah bergerak. Kondisi alam tersebut menuntut kesiapsiagaan masyarakat serta pengelolaan wilayah yang berkelanjutan.

Guru Besar Bidang Ilmu Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., menjelaskan bahwa tanah bergerak umumnya terjadi di daerah berlereng, khususnya pada kawasan pegunungan vulkanik tua yang telah mengalami pelapukan tinggi. Kondisi ini diperparah oleh intensitas curah hujan tinggi serta karakteristik tanah yang didominasi lempung mudah mengembang dan retak.

Guru Besar Bidang Ilmu Geografi UMS, Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si

Menurutnya, gerakan tanah tidak selalu terjadi secara tiba-tiba seperti longsor besar, tetapi sering kali berlangsung perlahan dalam bentuk rayapan tanah yang tidak disadari masyarakat.

“Tanah bergerak itu sebenarnya bisa terjadi pelan-pelan. Dalam ilmu kami disebut rayapan, pergerakannya lambat tetapi terus berlangsung,” jelasnya saat diwawancarai pada Sabtu,(21/2)

Ia menambahkan, retakan kecil pada lereng atau lahan pertanian sering menjadi tanda awal. Ketika retakan tersebut terisi air hujan, lapisan tanah menjadi jenuh sehingga pergerakan tanah semakin cepat dan berpotensi merusak permukiman maupun infrastruktur.

Selain faktor alam, aktivitas manusia juga berperan besar dalam meningkatkan risiko. Alih fungsi lahan, terutama perubahan hutan menjadi lahan pertanian atau permukiman, menyebabkan daya serap tanah berkurang dan mempercepat infiltrasi air ke lapisan bawah.

“Alih fungsi lahan menjadi pemicu, karena air hujan masuk dalam jumlah besar ke zona bawah tanah dan mempercepat pergerakan lapisan lempung,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kuswaji menilai tingginya pertumbuhan penduduk turut mendorong pemanfaatan wilayah lereng yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan lindung vegetasi. Kondisi tersebut memperbesar kerentanan bencana, terutama di negara tropis dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia.

Dalam konteks mitigasi, ia menekankan pentingnya pendekatan berkelanjutan melalui tiga tahapan kebencanaan, yaitu pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Namun, selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada penanganan darurat, sementara tahap pencegahan masih kurang optimal.

“Mitigasi harus dilakukan terus-menerus, terutama pada tahap pra bencana, dengan penguatan masyarakat dan pengurangan risiko secara sistematis,” tegasnya.

Ia juga menekankan perlunya evaluasi tata ruang secara berkala serta peningkatan pendampingan masyarakat di wilayah rawan bencana. Pemerintah dan akademisi, menurutnya harus lebih aktif memberikan edukasi agar masyarakat mampu mengenali tanda awal pergerakan tanah.

Sebagai langkah sederhana, Kuswaji menghimbau masyarakat di wilayah pegunungan untuk rutin memantau kondisi lingkungan, termasuk retakan tanah atau perubahan struktur lereng.

“Kalau ada retakan di lahan, segera ditutup agar air hujan tidak masuk lebih dalam. Kita perlu ronda kondisi alam seperti ronda keamanan,” pesannya.

Ia berharap masyarakat dapat hidup berdampingan dengan risiko bencana melalui kewaspadaan, pengetahuan, serta kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan warga setempat. (Zahra/Humas)

Sabet Penghargaan Bergengsi ITAY 2026, UMS Makin Mantap di Kancah Global

Sabet Penghargaan Bergengsi ITAY 2026, UMS Makin Mantap di Kancah Global

muhammadiyahkaranganyar.or.id, JAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan capaian nasional dengan memborong dua penghargaan strategis dalam ajang Indonesia Top Achievements of the Year (ITAY) 2026 yang digelar di Grand Studio Metro TV, Jakarta, Jumat (20/2). UMS meraih Excellence in Islamic World Class University Performance 2026 untuk kategori institusi serta Best Transformational Leader in Islamic Higher Education 2026 yang diterima langsung oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.

Pengakuan ganda tersebut menegaskan posisi UMS sebagai perguruan tinggi Islam yang tidak hanya bertumbuh secara kuantitatif, tetapi juga bertransformasi secara sistemik. Dari sudut pandang institusi, penghargaan ini menjadi validasi atas langkah internasionalisasi, penguatan riset, serta reformasi tata kelola akademik yang dijalankan secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam sambutannya, Harun menegaskan bahwa apresiasi itu bukanlah capaian personal. “Penghargaan dan apresiasi ini sesungguhnya bukan pribadi. Ini adalah pengokohan terhadap institusi Universitas Muhammadiyah Surakarta,” ujarnya. Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Metro TV, dewan juri, serta seluruh keluarga besar UMS yang dinilainya menjadi fondasi utama transformasi kampus.

Menurut Rektor UMS itu, transformasi menjadi kata kunci yang diwariskan sejak UMS berdiri 78 tahun lalu. Ia menyebut empat pilar utama yang terus dijaga: transformasional, inovasi tiada henti, keberlanjutan, dan kontribusi berdampak luas bagi masyarakat. “Transformasi dan inovasi tidak cukup jika tidak dilakukan secara berkelanjutan dan memberi dampak nyata. Perguruan tinggi harus dicintai, dipercaya, dan memberi kontribusi untuk negeri,” tegasnya.

Bagi UMS, penghargaan ini bukan garis akhir. Harun optimis bahwa UMS akan terus memperluas jejaring global dan memperkuat kontribusi sosialnya. “Kami datang dari Surakarta, dari Jawa Tengah. Tetapi orientasi kami adalah global. Silakan datang ke Solo, kunjungi UMS, dan saksikan bagaimana transformasi itu kami jalankan,” ujarnya.

Dewan juri ITAY menilai UMS menunjukkan capaian signifikan dalam peningkatan reputasi nasional dan internasional, penguatan kerja sama global, pertumbuhan publikasi ilmiah bereputasi, hilirisasi riset berbasis nilai Islam, hingga pembaruan tata kelola pendidikan tinggi. UMS dinilai berhasil memadukan mutu akademik dan nilai-nilai Islam dalam satu kerangka universitas berkelas dunia.

Salah satu juri, Prof. Dr. Ricardi S. Adnan, M.Si., menyatakan bahwa UMS menjadi contoh bagaimana identitas keislaman tidak menjadi batas, melainkan energi penggerak reputasi global.

“Perguruan tinggi yang berprestasi adalah yang mampu berinovasi dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. UMS menunjukkan nilai Islam dan kualitas akademik dapat berjalan beriringan,” katanya.

Hal tersebut juga diperkuat Founder ITAY, Arief Hidayat Thamrin, menambahkan bahwa transformasi UMS terlihat konsisten dan terukur. Ia menyebut penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas komitmen menjadikan universitas sebagai pusat keunggulan akademik dan religi yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Acara ITAY 2026 dibuka oleh Suryopratomo selaku Komisaris Metro TV dan dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Arief Satria (Kepala BRIN), TB Ace Hasan Syadzili (Gubernur Lemhanas), serta Komarudin Hidayat (Ketua Dewan Pers), bersama jajaran direksi BUMN, BUMD, dan para rektor dari berbagai perguruan tinggi. Penilaian dilakukan secara independen berdasarkan lima kriteria utama: Prestasi, Inovasi, Transformasi, Kompetensi Inti, dan Kontribusi.

Penghargaan ITAY 2026 mempertegas langkah UMS sebagai universitas Islam berkelas dunia yang progresif, adaptif, dan berdampak. Di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang makin ketat, UMS memilih jalan transformasi berkelanjutan tajam dalam visi, kuat dalam eksekusi, dan kokoh dalam nilai. (Al/Humas)

Kampus Islam Berprestasi: UMS Borong Dua Penghargaan Indonesia Top Achievements 2026

Kampus Islam Berprestasi: UMS Borong Dua Penghargaan Indonesia Top Achievements 2026

muhammadiyahkaranganyar.or.id, JAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih dua penghargaan dalam ajang Indonesia Top Achievements of The Year 2026 yang digelar di Grand Studio Metro TV, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta, Jumat petang, (20/2). UMS dinobatkan sebagai penerima kategori Excellence in Islamic World Class University Performance 2026, sementara Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., meraih penghargaan Best Transformational Leader in Islamic Higher Education 2026.

Penghargaan tersebut diberikan dalam seremoni yang dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pimpinan institusi. Ajang ini menilai lembaga yang dinilai memiliki capaian dan inovasi unggulan di sektor pendidikan, kesehatan, dan digital. Proses penjurian dilaksanakan pada 11 Februari 2026 sebelum puncak acara penghargaan.

Indonesia Top Achievement of the Year 2026 dengan tema Transforming for Reinventing Indonesia adalah seruan untuk berani bergerak maju, berani melampaui zaman, berani memperbaiki sistem, serta berani menciptakan lompatan baru untuk membangun ulang kekuatan bangsa dengan inovasi, kepemimpinan, visioner, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dalam seremoni, UMS diumumkan sebagai penerima dua kategori sekaligus. Penghargaan diserahkan oleh Ketua Dewan Pers, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, didampingi perwakilan Metro TV. Pencapaian tersebut menegaskan posisi UMS sebagai perguruan tinggi Islam yang terus bertransformasi menuju orientasi global.

Rektor UMS, Prof. Harun, menegaskan penghargaan tersebut bukan semata capaian pribadi, melainkan bentuk pengakuan terhadap kerja kolektif institusi. “Penghargaan dan apresiasi ini sesungguhnya bukan pribadi. Ini adalah penghargaan untuk institusi, untuk seluruh keluarga besar UMS,” ujarnya usai menerima penghargaan.

Ia menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh sivitas akademika UMS serta pihak penyelenggara. Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari fondasi panjang yang telah dibangun sejak berdirinya UMS puluhan tahun lalu.

Harun menjelaskan, transformasi menjadi kata kunci utama dalam pengembangan UMS. Selain transformasional, kampus juga menempuh inovasi tiada henti yang dilakukan secara berkelanjutan. Ia menekankan bahwa transformasi dan inovasi harus mampu memberikan kontribusi nyata dan berdampak luas bagi masyarakat.

“Transformasi dan inovasi tidak cukup jika tidak berkelanjutan dan tidak memberi dampak. Perguruan tinggi harus dicintai, dipercaya, dan mampu memberi kontribusi untuk negeri,” tegasnya.

Melalui pengembangan kurikulum integrasi Islam dan sains, UMS terus bertransformasi dari kampus berorientasi nasional menuju perguruan tinggi dengan daya saing global. Pendekatan ini menjadi salah satu faktor yang mengantarkan UMS meraih pengakuan di tingkat nasional.

Bagi Harun, capaian dua penghargaan tersebut menegaskan komitmen UMS dalam memperkuat tata kelola pendidikan tinggi berbasis nilai Islam, inovasi berkelanjutan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Capaian ini sekaligus memperkokoh posisi UMS sebagai salah satu perguruan tinggi Islam yang progresif dan adaptif di Indonesia. (Al/Humas)

Lewat “Mindful Spending”, UMS Edukasi Diaspora di Jepang Kelola Keuangan

Lewat “Mindful Spending”, UMS Edukasi Diaspora di Jepang Kelola Keuangan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Psikologi sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertema “Penguatan Ketahanan Mental dan Kepercayaan Diri Finansial bagi Diaspora Indonesia di Jepang melalui Integrasi Pendidikan Keuangan dan Kesejahteraan Emosional.”

Program ini dilaksanakan dalam tiga pertemuan yaitu dua sesi daring dan satu sesi luring. Program ini terlaksana atas kerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang. Puncak kegiatan luring diselenggarakan di Masjid Indonesia Tokyo pada Ahad, 1 Februari 2026, dan diikuti dengan antusias oleh jamaah masjid yang terdiri dari komunitas PCIM Jepang serta diaspora Indonesia di wilayah Tokyo dan sekitarnya.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya jumlah diaspora Indonesia di Jepang yang menghadapi tantangan biaya hidup tinggi, kompleksitas sistem keuangan, serta tekanan sosial untuk tetap mengirim remitansi ke tanah air. Meskipun sebagian besar memiliki pendapatan relatif baik, banyak di antaranya belum memiliki perencanaan keuangan yang sistematis dan masih rentan terhadap utang konsumtif maupun stres finansial.

Dalam sambutannya, Pak Miftah selaku Bendahara PCIM Jepang menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi pekerja migran dan diaspora Indonesia.

“Literasi keuangan sangat penting untuk menghindari pekerja migran di Jepang terlilit utang dan memiliki kestabilan emosi dalam mengatur finansialnya. Penghasilan saja tidak cukup tanpa pengelolaan yang bijak,” ujarnya.

Sebagai Ketua Tim Pengabdi, Dhany Efita Sari, Ph.D., dosen Pendidikan Akuntansi UMS, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak hanya berbasis teori keuangan, tetapi juga mengintegrasikan aspek psikologis dalam pengambilan keputusan ekonomi. Materi utama yang disampaikan adalah konsep mindful spending, yaitu pendekatan pengelolaan keuangan yang menekankan kesadaran penuh sebelum melakukan pembelian.

“Peserta diajak memahami prinsip pause before purchase, berhenti sejenak sebelum membeli, mengevaluasi apakah pengeluaran tersebut benar-benar kebutuhan atau sekadar keinginan, serta memastikan bahwa keputusan finansial selaras dengan nilai dan tujuan hidup jangka panjang,” jelas Dhany, Jumat (20/2).

Melalui berbagai game, simulasi, dan studi kasus literasi keuangan, peserta berlatih membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun rencana pengeluaran, serta merefleksikan hubungan antara emosi dan keputusan belanja.

Pendekatan ini menjadi sangat relevan di tengah gempuran promosi digital, diskon musiman, serta tren wisata dan “healing” yang kian populer di kalangan diaspora. Tanpa kesadaran finansial yang kuat, pengeluaran impulsif dapat berujung pada beban utang dan tekanan psikologis.

Isnaya Arina Hidayati, M.Psi., dosen Psikologi UMS, mengulas aspek financial mental health. Ia memberikan tips dan strategi praktis untuk mengelola kecemasan finansial (financial anxiety), meningkatkan kepercayaan diri dalam pengelolaan uang (financial self-efficacy), serta melatih teknik mindfulness sederhana untuk menjaga keseimbangan emosi saat menghadapi tekanan ekonomi.

Menurut Isnaya, kesehatan mental dan literasi keuangan tidak dapat dipisahkan. Individu yang memiliki perencanaan keuangan yang baik cenderung lebih stabil secara emosional, lebih tenang dalam menghadapi ketidakpastian, dan mampu mengambil keputusan secara rasional.

Rangkaian kegiatan ini dimulai dari koordinasi dan analisis kebutuhan, dilanjutkan survei awal dan pretest literasi finansial serta ketahanan mental, pelatihan Mindful Spending (luring), pelatihan Financial Mental Health (daring), hingga posttest dan refleksi bersama. Evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku finansial peserta.

Melalui program ini, UMS berharap terbentuk komunitas diaspora Indonesia di Jepang yang tangguh secara finansial, stabil secara emosional, dan lebih percaya diri dalam mengelola pendapatan serta pengeluaran di lingkungan dengan biaya hidup tinggi. Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi internasional UMS dalam pengabdian masyarakat berbasis integrasi keilmuan akuntansi dan psikologi.

Kolaborasi antara UMS dan PCIM Jepang menunjukkan bahwa penguatan literasi keuangan bukan sekadar peningkatan pengetahuan, tetapi juga proses pemberdayaan yang menyentuh dimensi mental, sosial, dan spiritual diaspora Indonesia di luar negeri. (Maysali/Humas)

Tingkatkan Daya Saing, Akademisi UMS dan Pelaku UKM Gelar Forum Sinergi Inovasi Bisnis

Tingkatkan Daya Saing, Akademisi UMS dan Pelaku UKM Gelar Forum Sinergi Inovasi Bisnis

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Pusat Studi Inovasi, Kewirausahaan, dan Kewirausahaan Sosial (Puswirasos) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Forum Sinergi Akademisi-UKM: Penguatan Inovasi dan Daya Saing Bisnis Berkelanjutan pada Sabtu, (14/2) di Ruang Rapat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk membangun kolaborasi nyata antara kampus dan dunia usaha.

Ketua Puswirasos UMS, Soepatini, Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada peserta yang merupakan pelaku UKM. Ia menilai kehadiran praktisi sangat penting bagi mahasiswa.

“Kami mengapresiasi bapak ibu pelaku UKM yang sudah hadir. Semoga pengalaman panjenengan yang terjun langsung ke bisnis bisa memberi motivasi kepada mahasiswa untuk berani memulai dan mengembangkan usaha,” ujarnya, Jum’at, (20/2).

Dalam sesi materi, Maliyana Nur Wijayanti, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya manajemen dasar dan strategi berbasis data.

“Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM harus memisahkan keuangan usaha dan pribadi, menyusun pencatatan yang rapi, serta membangun strategi pemasaran berbasis data agar usaha bisa berkembang dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pemateri selanjutnya, Dr. Aflit Nuryulia Praswati, S.Sos., S.E., M.M., CMA, menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam penguatan UKM.

“Perguruan tinggi harus hadir melalui riset, pendampingan, dan inkubasi bisnis agar kolaborasi dengan UMKM benar-benar memberi dampak nyata bagi mahasiswa dan pelaku usaha,” tegasnya.

Ia memaparkan rencana magang terstruktur, sertifikasi kewirausahaan, serta penguatan soft skills dan business mindset mahasiswa.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah pelaku UKM menyampaikan tantangan riil di lapangan, mulai dari lemahnya digital marketing, keterbatasan manajemen ekspor, hingga kesiapan mental mahasiswa magang.

Salah satu peserta, Yani Mardiyanto, menyampaikan harapannya terhadap perubahan sistem pembelajaran.

“Tolong akademisi memberikan perubahan konsep pembelajaran agar bisa diterapkan saat kerja,” ungkapnya.

Ia menilai mahasiswa yang sudah lulus perlu lebih siap secara praktik, terutama dalam akuntansi dan manajemen usaha.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Kussudyarsana, Guru Besar UMS Bidang Ilmu Manajemen Strategi Kewirausahaan dan Tata Kelola Perusahaan Keluarga, yang turut hadir dalam acara tersebut menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk melakukan perbaikan.

“Mahasiswa harus dipersiapkan dengan ilmu, mental dan kesiapan praktik sebelum terjun ke dunia magang agar benar benar siap menghadapi tantangan dunia kerja dan bisnis,” ujarnya.

Forum ini, lanjutnya, menghasilkan komitmen untuk menyusun profiling kebutuhan UKM, memperkuat sistem magang berbasis kinerja, serta membangun pendampingan bisnis yang terukur.

“Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan mahasiswa sekaligus daya saing pelaku UKM secara berkelanjutan,” pungkasnya. (Adi/Humas)