muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan materi ketiga dalam rangkaian Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Fungsionaris Ormawa yang bertempat di Hotel Syariah Lorin Solo. Materi ini mengangkat tema “Manajemen Konflik Organisasi” sebagai forum penguatan kapasitas kepemimpinan dan tata kelola organisasi mahasiswa di tingkat universitas maupun fakultas.
Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa aktivis Ormawa UMS yang terdiri atas pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, serta Unit Kegiatan Mahasiswa baik di tingkat universitas maupun fakultas. Meskipun secara umum memiliki format pelatihan seperti LKMM pada umumnya, materi ketiga ini memiliki kekhasan karena secara khusus membahas dinamika konflik dalam organisasi dan strategi penyelesaiannya secara profesional dan konstruktif.
Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., selaku Wakil Dekan I Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik UMS, menegaskan bahwa konflik merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari dalam organisasi. Menurutnya, konflik bukan selalu sesuatu yang buruk, melainkan bersifat netral dan dapat menjadi destruktif atau konstruktif tergantung pada cara pengelolaannya.
Ia menjelaskan paradigma modern konflik yang menempatkan konflik sebagai tanda dinamika organisasi yang sehat apabila dikelola dengan baik. Materi disampaikan dengan mengulas anatomi konflik, mulai dari isu permukaan hingga akar terdalam seperti kepentingan, kebutuhan dasar, nilai, hingga identitas dan relasi.
“Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada tahapan eskalasi konflik menurut Louis R. Pondy serta lima gaya penyelesaian konflik berdasarkan Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI), yaitu competing, collaborating, compromising, avoiding, dan accommodating,” ungkapnya, Jumat, (13/2).
Pelaksanaan materi berlangsung melalui pemaparan konseptual, studi kasus organisasi mahasiswa, serta simulasi pendekatan mediasi. Nur Aklis menekankan pentingnya membedakan antara task conflict yang dapat memunculkan inovasi dengan relationship conflict yang berpotensi merusak tim. Peserta juga dibekali teknik mediasi seperti active listening, reframing, identifikasi kepentingan berbasis kebutuhan, hingga penyusunan kesepakatan bersama dengan pendekatan win-win solution.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu mahasiswa menanyakan bagaimana sikap pemimpin ketika menghadapi kondisi organisasi yang memiliki latar belakang beragam, komunikasi yang tidak efektif, serta adanya pengurus internal yang membawa permasalahan pribadi namun mengatasnamakan organisasi.
Menanggapi hal tersebut, Nur Aklis menjelaskan bahwa pemimpin harus mampu mengidentifikasi terlebih dahulu apakah konflik tersebut bersifat personal atau struktural. Pemimpin tidak boleh langsung menggunakan pendekatan bersaing (competing), melainkan perlu mengedepankan gaya collaborating dengan kecerdasan emosional.
Ia menekankan pentingnya dialog personal untuk memisahkan persoalan individu dari kepentingan organisasi. Pemimpin harus tegas dalam menjaga profesionalitas, namun tetap kooperatif dalam membangun komunikasi. Permasalahan pribadi perlu diselesaikan secara terpisah melalui pendekatan empatik, sedangkan keputusan organisasi harus tetap berbasis pada kepentingan bersama, transparansi, serta aturan yang telah disepakati. Dengan demikian, konflik tidak berkembang menjadi ‘relationship conflict’ yang destruktif.
Kegiatan ini dilaksanakan karena tingginya kompleksitas dinamika organisasi mahasiswa yang melibatkan perbedaan latar belakang, perspektif, serta kepentingan. Kemampuan mengelola konflik menjadi kompetensi penting bagi fungsionaris Ormawa agar organisasi tetap produktif, harmonis, dan berorientasi pada tujuan bersama.
Melalui materi ini, mahasiswa UMS diajak untuk tidak menghindari konflik, melainkan mengelolanya secara dewasa dan profesional. Aktivis Ormawa diharapkan mampu menjadi pemimpin yang tegas, kolaboratif, serta berintegritas dalam membangun budaya organisasi yang sehat dan berdaya saing. (Daffana/Fika/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan pelantikan Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik (KAMA FT) tahun 2026. Diselenggarakan di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah, Senin (9/2). Pelantikan KAMA FT UMS menjadi momen penting untuk menyosong masa depan kepemimpinan organisasi mahasiswa di lingkungan FT UMS.
Pelantikan ini dihadiri oleh jajaran Dekanat Fakultas Teknik, Kaprodi, Jajaran Pengurus dari setiap lembaga KAMA FT, serta tamu undangan serta demisioner dari masing-masing lembaga KAMA FT.
Wakil Dekan I bidang kemahasiswaan Dr. Ir. Nur Aklis, S.T., M.Eng., dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para mahasiswa yang masih semangat dan memiliki kemauan mengikuti organisasi kemahasiswaan.
”Bergabung ke organisasi mahasiswa memberikan pengalaman dan manfaat yang sangat banyak dan jangka panjang terutama melatih mahasiswa untuk berpikir kritis,“ tuturnya, Jumat (13/2).
Ketua Pelaksana Komisi Umum Pemilihan Mahasiswa (KPUM) FT UMS, Fajar Torib Nur Hidayah menyampaikan bahwa organisasi menjadi ruang atau wadah mahasiswa untuk memupuk rasa kekeluargaan, memperkuat solidaritas dan membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas serta siap menjadi calon-calon pemimpin penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi matang secara emosional dan sosial.
” Mahasiswa teknik dibentuk untuk berpikir kritis, solutif dan inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan. melalui wadah organisasi ini kita belajar mengelola tim, menyusun strategi, problem solver serta menghadirkan dampak nyata bagi mahasiswa dan lingkungan sekitar “, ungkap Fajar dalam sambutannya.
Pelantikan ini menandai dimulainya tanggung jawab kolektif dalam menggerakkan organisasi secara terarah, berintegritas, dan berkelanjutan. KAMA FT diharapkan mampu menjadi penggerak utama sinergi kelembagaan, menghadirkan kepemimpinan yang progresif, serta menjawab tantangan zaman dengan kerja nyata dan keberpihakan pada kemajuan Fakultas Teknik.
Harapannya, lanjutnya, KAMA FT dapat menjadi organisasi yang tidak hanya bermanfaat untuk mahasiswa tapi juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar dan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. (BWJ/Affiq/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan kompetisi Islamic Student Competition XVI Nasional 2026. Kompetisi yang mengusung tema Muda Berprestasi Dengan Semangat Islami pada 13-14 Februari, bertujuan untuk melahirkan generasi muda berprestasi dan adaptif dalam menjaga nilai-nilai keislaman di tengah perkembangan zaman.
Thoriq selaku ketua panitia ISC XVI Nasional 2026, dalam laporannya menuturkan sejumlah 475 siswa SMA sederajat yang terdiri dari beberapa provinsi di Indonesia mengikuti ajang kompetisi ISC XVI Nasional 2026. Ia berharap, melalui kompetisi ini para peserta dapat mengembangkan keterampilan yang dimiliki.
“Harapan terselenggaranya kegiatan kali ini ialah untuk ajang pencari jati diri, mengasah kemampuan serta mencari pengalaman dari berbagai bidang sesuai dengan lininya masing-masing,” harapnya pada pembukaan kompetisi, Jumat (13/2).
Wakil Dekan I FAI UMS, Alfiyatul Azizah, Lc., M.Ud., Menyampaikan Sambutan
Wakil Dekan I FAI UMS, Alfiyatul Azizah, Lc., M.Ud., menyampaikan sambutan mewakili Dekan Dr. Muhammad Ali, S.Ag, M.Pd., pada pembukaan ISC XVI. Dalam sambutannya, ia menekankan komitmen FAI UMS dalam mewujudkan Indonesia berkemajuan melalui pendampingan masyarakat.
Alfiyatul menambahkan, para siswa memiliki kewajiban menjaga ukhuwah keislaman untuk memastikan keberlangsungan peran sentral ulama di keseluruhan lapisan masyarakat di tengah tantangan perubahan zaman.
“Terutama kita sedang berada di kondisi yang tidak terlalu baik. Ekonomi naik turun, masyarakat butuh pendampingan para ulama, para pejabat butuh pendampingan ulama dalam menentukan kebijakan,” tegasnya.
Kabar membahagiakan disampaikan oleh Wakil Dekan tersebut, FAI UMS menawarkan beasiswa berupa potongan biaya pendidikan dan biaya pengembangan studi bagi para pemenang yang hendak melanjutkan studi di seluruh program studi FAI UMS.
Beasiswa bagi para pemenang bukan hanya sekadar penghargaan, tetapi menjadi peluang bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri. Hal ini disampaikan oleh Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) Dr. Ahmad Kholid Alghofari, S.T., M.T., saat membuka kompetisi ISC XVI 2026.
“Kami berpesan jadikanlah kompetisi ini sebagai ruang untuk memperluas jejaring untuk saling menunjukkan pengalaman menimba inspirasi, tunjukkan kemampuan terbaik tentunya tapi juga tetap menjunjung tinggi sportifitas kejujuran dan etika akademik,” pesannya.
Kholid juga menyampaikan hingga saat ini pendaftar di UMS telah mencapai 8.019 calon mahasiswa dan penambahan capaian akademik dan non-akademik di tingkat nasional dan internasional menunjukan indikator peningkatan positioning UMS di masyarakat.
Penyelenggaraan kompetisi ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Nurzaini Wahyu Widodo, S.Kom., S.H., M.Hum., mewakili kepala Kemenag Jateng memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kompetisi ISC.
“Kementerian Agama Kabupaten Jawa Tengah menyampaikan apresiasi yang seinginya kepada segenap pengurus, dekan, dan jajaran Dari FAI UMS dan secara umum dari UMS yang telah mengadakan ISC yang ke-16 Ini sangat luar biasa,” tambahnya.
Kolaborasi antara Kemenag dan UMS ini, lanjutnya, memperkuat posisi universitas sebagai pusat pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. (Roselia/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan program kerja bertajuk “Edukasi Menabung dan Kreasi Celengan” di MI Muhammadiyah Gemolong, Rabu (4/2). Kegiatan ini bertujuan menanamkan kebiasaan menabung sejak dini sekaligus mengembangkan kreativitas siswa melalui aktivitas yang edukatif dan aplikatif.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi singkat mengenai pentingnya menabung dan pengelolaan uang saku secara bijak. Mahasiswa memberikan pemahaman kepada siswa tentang manfaat menabung sebagai bagian dari pembentukan karakter disiplin, tanggung jawab, dan perencanaan keuangan sejak usia sekolah dasar.
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan dan penghiasan celengan. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, mulai dari merancang desain hingga menghias celengan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Aktivitas ini tidak hanya melatih keterampilan motorik dan kreativitas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam mengaplikasikan nilai menabung.
Ketua KKN-Dik MI Muhammadiyah Gemolong, Tora Panda Bintang, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi siswa.
“Kami ingin memberikan pemahaman kepada siswa bahwa menabung merupakan kebiasaan baik yang dapat dimulai dari hal-hal kecil. Melalui kegiatan kreasi celengan, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mempraktikkannya,” ungkapnya, Jumat (13/2).
Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual. Program ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN-Dik UMS dalam mendukung penguatan pendidikan karakter serta menumbuhkan kesadaran literasi keuangan sejak dini di lingkungan sekolah dasar.
Melalui kegiatan ini, tambahnya, mahasiswa KKN-Dik UMS berharap siswa dapat menerapkan kebiasaan menabung dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terbentuk karakter disiplin dan tanggung jawab yang bermanfaat bagi masa depan mereka. (Fika/Humas)