Mengusung tema “Kobar Kala: Berkarya tanpa henti, menyala seperti api”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pengenalan kampus semata, melainkan juga ruang ekspresi nilai kebersamaan, budaya akademik, serta organisasi mahasiswa.
Kobar Kala dimaknai sebagai jiwa yang berkobar—sebuah semangat agar mahasiswa baru memiliki energi tinggi untuk terus berinovasi, menghadirkan ide segar, serta memberi solusi bagi bangsa. Dengan tagline “Satu jiwa, membawa sejuta inovasi”, Umuka Solo berharap mahasiswa mampu mewujudkan aksi nyata dalam karya dan kontribusi sosial.
PKKMB dan Masta Umuka 2025 berlangsung selama tiga hari (23–25 September 2025) dengan susunan kegiatan:
Hari Pertama: Universitaria – materi pengenalan kampus, statuta, dan sistem akademik.
Hari Kedua: Fakultaria – pengenalan fakultas dan prodi.
Hari Ketiga: Masta IMM serta Studium General bersama Wamendikti Saintek, Prof. Dr. Fauzan
Acara pembukaan berlangsung khidmat dan meriah. Ketua PDM Karanganyar, Muhammad Arief Bhaber secara simbolis membuka kegiatan dengan memukul gong sebanyak tiga kali.
Setelah itu, Rektor Umuka Solo, Dr. H. Muh Samsuri, M.Si., menyematkan ID Card kepada perwakilan mahasiswa baru sebagai tanda resmi dimulainya kegiatan.
Momentum ini semakin bermakna dengan penyampaian keynote speech oleh Ketua BPH Umuka Solo, Prof. Dr. Ravik Karsidi, yang memberikan motivasi dan pandangan strategis terkait peran mahasiswa di era global.
Hari pertama berlangsung kondusif dengan penuh antusiasme. Materi universitaria, statuta, hingga sistem akademik disampaikan untuk memberikan pondasi awal bagi mahasiswa baru.
Dengan semangat “Kobar Kala”, Umuka Solo optimistis melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berjiwa sosial, inovatif, dan berkontribusi aktif bagi kemajuan bangsa dan persyarikatan.
PDMKARANGANYAR, Semarang – Di tengah derasnya arus informasi digital, organisasi dan produk harus cerdas dalam menciptakan kesan yang mendalam agar dapat bertahan di ingatan publik. Salah satu cara yang terbukti efektif untuk mencapai hal tersebut adalah melalui branding. Branding bukan hanya soal logo atau warna, melainkan tentang bagaimana sebuah ide atau organisasi membangun persepsi yang kuat dan menciptakan koneksi emosional dengan audiens.
Inilah tema sentral yang disampaikan oleh Dody Zulkifli, CEO Neyma Brand and Identity, dalam pelatihan Manajemen Reputasi Digital yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah di Hotel Grasia, Semarang pada 20–21 September.
Dody menekankan bahwa branding yang efektif adalah kunci untuk membuat sebuah organisasi, termasuk Muhammadiyah, mampu bertahan dan berkembang di tengah kompetisi komunikasi publik yang semakin ketat.
“Branding bukan hanya soal visual atau tampilan luar, melainkan tentang bagaimana membangun persepsi yang konsisten dan dapat dipercaya. Jika Muhammadiyah mampu menyampaikan pesan dengan cara yang tepat, publik akan lebih mudah menerima dan menghargai keberadaannya,” ujar Dody kepada peserta pelatihan yang terdiri dari sekretaris dan staf media Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Tengah.
Dody mencontohkan betapa merek-merek besar seperti pasta gigi Formula tetap eksis di pasar selama puluhan tahun berkat konsistensi dalam membangun citra melalui iklan dan pesan yang terus diperbarui namun tetap mempertahankan esensi yang sama. Hal ini juga berlaku bagi Muhammadiyah, yang memiliki banyak keunggulan seperti sejarah panjang, jaringan amal usaha yang luas, dan kontribusi sosial yang besar.
Membangun Merek Secara Holistik Menurut Dody, konsep branding yang kuat harus dibangun dengan pendekatan holistik. Dody menjelaskan ada tiga pilar utama yang mendasari Holistic Branding, yaitu Brand Blueprint, Brand Delivery, dan Brand Equity. Ketiganya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.
Pilar pertama, Brand Blueprint, berfungsi sebagai panduan strategis yang memastikan bahwa setiap elemen komunikasi—baik logo, tipografi, warna, maupun pesan—selalu konsisten dan dapat diterima audiens. Tanpa cetak biru yang jelas, merek akan kehilangan arah dan justru membingungkan publik.
Pilar kedua, Brand Delivery, adalah implementasi nyata dari strategi branding yang telah disusun. Dody memberi contoh bagaimana sabun Lifebuoy berhasil membangun reputasinya melalui kampanye kesehatan yang berulang.
“Keberhasilan Lifebuoy adalah contoh nyata bahwa delivery yang efektif berarti menyampaikan pesan dengan konsisten dan relevan sepanjang waktu,” tambahnya.
Pilar terakhir, Brand Equity, adalah akumulasi dari persepsi dan reputasi yang terbentuk di benak publik. Dody menegaskan bahwa Brand Equity bukan hanya soal bagaimana produk dilihat sebelum digunakan, tetapi juga bagaimana perasaan audiens setelah berinteraksi dengan merek tersebut. Ia mencontohkan air mineral premium Equil, yang sudah dikenal memiliki kualitas tinggi bahkan sebelum orang meminumnya.
Branding Muhammadiyah: Lebih dari Sekadar Tampilan Dalam konteks Muhammadiyah, Dody mengingatkan bahwa kekuatan organisasi ini terletak pada sejarah panjangnya, jaringan amal usaha yang luas, serta kontribusi sosial yang nyata. Namun, agar reputasi tersebut dapat berkembang di dunia digital, Muhammadiyah harus bisa mengomunikasikan nilai-nilai dan kinerjanya dengan cara yang lebih modern dan efektif.
“Jika Muhammadiyah dapat memanfaatkan branding untuk menyampaikan pesan-pesan sosial dan dakwah secara konsisten, maka kepercayaan masyarakat akan semakin terbangun,” kata Dody.
Menjadi Organisasi yang Dicintai Publik Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan tentang teknik branding, tetapi juga mendorong para peserta untuk berpikir lebih strategis dalam memperkenalkan Muhammadiyah kepada masyarakat. Dody Zulkifli mengingatkan bahwa keberhasilan branding tidak hanya bergantung pada tampilan luar, tetapi juga pada konsistensi dan kerja nyata yang dilakukan oleh organisasi.
Bagi Muhammadiyah, ini adalah langkah penting dalam menanggapi tantangan komunikasi di era digital, di mana persepsi dan reputasi dibentuk melalui interaksi dan komunikasi yang tepat. Dengan memperkuat branding yang holistik, Muhammadiyah dapat memperluas dampak dakwahnya, meningkatkan loyalitas anggota, serta memperkuat posisi di tengah masyarakat.
“Branding adalah strategi fundamental. Organisasi yang mampu menjaga konsistensi dan kualitas brandingnya akan lebih mudah dikenal, dipercaya, dan dicintai oleh publik,” pungkas Dody.
PDMKARANGANYAR, Semarang – Dalam upaya memperkuat posisi Muhammadiyah di era digital, PWM Jawa Tengah baru saja mengadakan pelatihan bertajuk “Manajemen Reputasi Digital Organisasi” pada Sabtu–Ahad (20–21/9) di Hotel Grasia, Kota Semarang. Acara yang dihadiri oleh berbagai perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya komunikasi digital yang efektif dalam membangun reputasi organisasi.
Sekretaris PWM Jawa Tengah, Dodok Sartono, membuka acara dengan menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang telah digagas oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
“Sebagai penghubung antara Pimpinan Pusat dan Pimpinan Daerah, PWM memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan kebijakan pusat diterapkan dengan tepat di daerah,” ungkap Dodok dalam sambutannya.
Pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas organisasi dalam hal pengelolaan media, tetapi juga untuk memperkenalkan teknik-teknik terbaru dalam membangun reputasi digital yang lebih baik. Menurut Dodok, reputasi Muhammadiyah tidak bisa hanya dibangun melalui cara-cara tradisional, melainkan dengan memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan pesan dan kegiatan organisasi kepada masyarakat.
“Reputasi itu adalah cerminan dari kinerja nyata yang dijalankan. Bukan hanya soal bagaimana kita tampil di media sosial, tetapi bagaimana kita mewujudkan nilai-nilai yang kita bawa dalam setiap tindakan dan komunikasi kita,” lanjutnya.
Pelatihan ini menjadi krusial mengingat pentingnya citra organisasi di dunia maya. Sebagai organisasi Islam yang telah berkiprah lama, Muhammadiyah harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama dalam hal komunikasi publik yang kini lebih banyak berlangsung di ruang digital. Menghadapi tantangan ini, PWM mengajak PDM untuk lebih aktif dalam merancang strategi komunikasi yang efektif agar setiap kebijakan dan gerakan Muhammadiyah dapat lebih mudah dipahami dan diterima oleh publik.
Dalam sesi pelatihan, peserta dibekali dengan berbagai teknik dan strategi dalam mengelola media sosial, merancang komunikasi yang mendalam, dan mengelola isu-isu strategis. Semua materi ini bertujuan untuk meningkatkan daya jangkau dakwah Muhammadiyah di dunia maya serta membangun hubungan yang lebih solid dengan masyarakat.
Dodok menambahkan bahwa penguatan kapasitas di bidang digital ini bukanlah kegiatan sekali jalan. PWM berkomitmen untuk melanjutkan pengembangan keterampilan ini secara berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap PDM memiliki kemampuan untuk mengelola organisasi dan membangun reputasi yang solid, tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital,” katanya.
Dengan adanya pelatihan ini, PWM berharap PDM dapat menciptakan strategi komunikasi yang lebih terstruktur dan efektif. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan citra positif Muhammadiyah di mata masyarakat, serta memperkuat kepercayaan publik melalui kinerja yang nyata dan konsisten.
Pelatihan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Muhammadiyah tidak hanya memperhatikan penguatan internal organisasi, tetapi juga kesadaran untuk terus berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman.
PDMKARANGANYAR, Colomadu – Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) bersama Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah (PCNA) Colomadu meneguhkan langkah baru dalam penguatan kepemimpinan perempuan Muhammadiyah. Melalui agenda Upgrading bertema “Bersatu Padu dalam Ikatan Tumbuhkan Kepemimpinan Kolektif Kolegial”, Sabtu (20/9), keduanya memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas generasi dapat memperkokoh visi gerakan.
Bertempat di Ruang Seminar Gedung Siti Walidah lantai 7 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kegiatan ini mempertemukan ratusan peserta, mulai dari pimpinan dan majelis PCA Colomadu, 11 Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA), pengurus PCNA, hingga kepala sekolah dan guru Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Menghubungkan Semangat Senior dan Energi Muda Ketua Majelis Pembinaan Kader (MPK) PCA Colomadu menegaskan, upgrading ini bukan hanya forum belajar, tetapi juga ajang membangun kesatuan visi antara kader senior ‘Aisyiyah dan generasi muda Nasyiatul ‘Aisyiyah. Mentalitas “no Baper” yang digaungkan menjadi simbol kesiapan untuk bergerak tanpa terjebak pada hambatan emosional. “Sinergi inilah yang akan melahirkan pemimpin perempuan Muhammadiyah yang tangguh, adaptif, sekaligus visioner,” ujar salah satu panitia.
Materi Berbasis Nilai, Kapasitas, dan Efektivitas Tiga materi inti yang dihadirkan memperlihatkan peta jalan kepemimpinan perempuan Muhammadiyah di cabang:
• Kepemimpinan berbasis nilai oleh Ninin Karlina (MPK Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah), menekankan pentingnya menjadikan nilai persyarikatan sebagai kompas gerakan.
• Pengembangan kapasitas kader oleh Sartini, S.Pd., M.Pd. (Ketua MPKSDI PDA Karanganyar), mengajarkan strategi meningkatkan kompetensi agar kader mampu memberi dampak nyata.
• Manajemen organisasi efektif oleh Dr. Lanjar Utami, M.Pd. (PDA Karanganyar), menekankan pentingnya efisiensi agar organisasi tetap gesit menghadapi dinamika zaman.
Visi Maju untuk Gerakan Perempuan Muhammadiyah Melalui upgrading ini, PCA dan PCNA Colomadu menegaskan komitmen bersama: menjadikan gerakan perempuan Muhammadiyah di tingkat cabang semakin solid, progresif, dan siap menghadapi tantangan era baru.
Dengan mengedepankan kolaborasi lintas generasi, kegiatan ini menempatkan PCA dan PCNA Colomadu sebagai garda depan pergerakan, menyiapkan pemimpin yang berakar pada nilai, kuat dalam kapasitas, serta lincah dalam manajemen organisasi.
PDMKARANGANYAR, Semarang – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi pada Sabtu–Ahad, 20–21 September 2025. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sebelumnya telah menggelar pelatihan serupa di Hotel Narita, Tangerang, pada 29–31 Agustus 2025.
Pelatihan tersebut menjadi bukti keseriusan Muhammadiyah dalam memperkuat citra positif organisasi di era digital. Materi yang diberikan meliputi strategi pengelolaan reputasi, penanganan krisis komunikasi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung dakwah dan aktivitas organisasi.
“Organisasi yang sehat adalah organisasi yang kebijakan dari pusat dapat segera direspon dan ditindaklanjuti oleh struktur di bawahnya. Komitmen inilah yang ditunjukkan PWM Jawa Tengah melalui pelatihan ini,” ujar Ikhwanushoffa, Sekretaris Eksekutif PWM Jawa Tengah.
Menurutnya, tantangan reputasi digital tidak bisa dianggap ringan. Di tengah derasnya arus informasi dan persaingan narasi di media sosial, Muhammadiyah perlu memiliki strategi komunikasi yang kuat, adaptif, dan konsisten agar tetap relevan. “Digital adalah era kekinian dan masa depan. Inovasi atau mati. Jika tidak segera membuat terobosan, tak mustahil Muhammadiyah akan ditinggalkan,” tambahnya.
Pelatihan ini juga menjadi simbol pentingnya budaya berjamaah dalam tubuh Muhammadiyah. Seperti nutrisi yang mengalir dari kepala hingga ke seluruh tubuh, kebijakan dan inovasi yang dicanangkan oleh Pimpinan Pusat diharapkan dapat menyebar hingga ke wilayah dan cabang, menjaga vitalitas organisasi agar tetap sehat dan berumur panjang.
Dengan langkah ini, PWM Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk menjaga dan meningkatkan reputasi digital Muhammadiyah, sekaligus memperkuat peran dakwah persyarikatan di tengah masyarakat modern.