PDMKARANGANYAR, Semarang – Di tengah derasnya arus informasi digital, organisasi dan produk harus cerdas dalam menciptakan kesan yang mendalam agar dapat bertahan di ingatan publik. Salah satu cara yang terbukti efektif untuk mencapai hal tersebut adalah melalui branding. Branding bukan hanya soal logo atau warna, melainkan tentang bagaimana sebuah ide atau organisasi membangun persepsi yang kuat dan menciptakan koneksi emosional dengan audiens.
Inilah tema sentral yang disampaikan oleh Dody Zulkifli, CEO Neyma Brand and Identity, dalam pelatihan Manajemen Reputasi Digital yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah di Hotel Grasia, Semarang pada 20–21 September.
Dody menekankan bahwa branding yang efektif adalah kunci untuk membuat sebuah organisasi, termasuk Muhammadiyah, mampu bertahan dan berkembang di tengah kompetisi komunikasi publik yang semakin ketat.
“Branding bukan hanya soal visual atau tampilan luar, melainkan tentang bagaimana membangun persepsi yang konsisten dan dapat dipercaya. Jika Muhammadiyah mampu menyampaikan pesan dengan cara yang tepat, publik akan lebih mudah menerima dan menghargai keberadaannya,” ujar Dody kepada peserta pelatihan yang terdiri dari sekretaris dan staf media Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Tengah.
Dody mencontohkan betapa merek-merek besar seperti pasta gigi Formula tetap eksis di pasar selama puluhan tahun berkat konsistensi dalam membangun citra melalui iklan dan pesan yang terus diperbarui namun tetap mempertahankan esensi yang sama. Hal ini juga berlaku bagi Muhammadiyah, yang memiliki banyak keunggulan seperti sejarah panjang, jaringan amal usaha yang luas, dan kontribusi sosial yang besar.
Membangun Merek Secara Holistik
Menurut Dody, konsep branding yang kuat harus dibangun dengan pendekatan holistik. Dody menjelaskan ada tiga pilar utama yang mendasari Holistic Branding, yaitu Brand Blueprint, Brand Delivery, dan Brand Equity. Ketiganya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.
Pilar pertama, Brand Blueprint, berfungsi sebagai panduan strategis yang memastikan bahwa setiap elemen komunikasi—baik logo, tipografi, warna, maupun pesan—selalu konsisten dan dapat diterima audiens. Tanpa cetak biru yang jelas, merek akan kehilangan arah dan justru membingungkan publik.
Pilar kedua, Brand Delivery, adalah implementasi nyata dari strategi branding yang telah disusun. Dody memberi contoh bagaimana sabun Lifebuoy berhasil membangun reputasinya melalui kampanye kesehatan yang berulang.
“Keberhasilan Lifebuoy adalah contoh nyata bahwa delivery yang efektif berarti menyampaikan pesan dengan konsisten dan relevan sepanjang waktu,” tambahnya.
Pilar terakhir, Brand Equity, adalah akumulasi dari persepsi dan reputasi yang terbentuk di benak publik. Dody menegaskan bahwa Brand Equity bukan hanya soal bagaimana produk dilihat sebelum digunakan, tetapi juga bagaimana perasaan audiens setelah berinteraksi dengan merek tersebut. Ia mencontohkan air mineral premium Equil, yang sudah dikenal memiliki kualitas tinggi bahkan sebelum orang meminumnya.
Branding Muhammadiyah: Lebih dari Sekadar Tampilan
Dalam konteks Muhammadiyah, Dody mengingatkan bahwa kekuatan organisasi ini terletak pada sejarah panjangnya, jaringan amal usaha yang luas, serta kontribusi sosial yang nyata. Namun, agar reputasi tersebut dapat berkembang di dunia digital, Muhammadiyah harus bisa mengomunikasikan nilai-nilai dan kinerjanya dengan cara yang lebih modern dan efektif.
“Jika Muhammadiyah dapat memanfaatkan branding untuk menyampaikan pesan-pesan sosial dan dakwah secara konsisten, maka kepercayaan masyarakat akan semakin terbangun,” kata Dody.
Menjadi Organisasi yang Dicintai Publik
Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan tentang teknik branding, tetapi juga mendorong para peserta untuk berpikir lebih strategis dalam memperkenalkan Muhammadiyah kepada masyarakat. Dody Zulkifli mengingatkan bahwa keberhasilan branding tidak hanya bergantung pada tampilan luar, tetapi juga pada konsistensi dan kerja nyata yang dilakukan oleh organisasi.
Bagi Muhammadiyah, ini adalah langkah penting dalam menanggapi tantangan komunikasi di era digital, di mana persepsi dan reputasi dibentuk melalui interaksi dan komunikasi yang tepat. Dengan memperkuat branding yang holistik, Muhammadiyah dapat memperluas dampak dakwahnya, meningkatkan loyalitas anggota, serta memperkuat posisi di tengah masyarakat.
“Branding adalah strategi fundamental. Organisasi yang mampu menjaga konsistensi dan kualitas brandingnya akan lebih mudah dikenal, dipercaya, dan dicintai oleh publik,” pungkas Dody.















