muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan webinar bertajuk “Pembelajaran Matematika Era AI: Peluang, Tantangan, dan Strategi Guru”, Rabu (10/6/2026). Kegiatan ini digelar sebagai langkah taktis dalam meningkatkan pemahaman para pendidik terhadap pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses pembelajaran matematika.
Webinar berskala nasional ini diikuti secara antusias oleh ratusan peserta yang terdiri atas guru, dosen, mahasiswa, hingga praktisi pendidikan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Narasumber utama kegiatan sekaligus Sekretaris Prodi Pendidikan Matematika UMS, Dr. Masduki, S.Si, M.Si., mengungkapkan bahwa akselerasi teknologi AI telah membawa disrupsi sekaligus perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Menurutnya, tenaga pendidik harus melihat AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang besar untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif, efisien, dan bermakna.
“Peserta tidak hanya diajak memperoleh informasi dan wawasan tentang AI, tetapi juga memahami perubahan peran guru. Guru perlu bertransformasi dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator yang membimbing siswa membangun pemahaman dan kemampuan berpikir secara mandiri,” ujar Masduki dalam paparan materinya, Rabu (10/6/2026).
Masduki memaparkan, secara teknis AI dapat dioptimalkan untuk meringankan beban administratif dan kreatif guru, mulai dari penyusunan bahan ajar, pengembangan media pembelajaran yang interaktif, hingga mendukung sistem evaluasi digital. Kendati demikian, ia mengingatkan adanya dampak negatif yang membayangi, seperti risiko tingginya ketergantungan siswa pada teknologi serta potensi penurunan kemampuan berpikir kritis jika tidak digunakan secara bijak.
Oleh karena itu, Masduki menegaskan bahwa fokus pendidikan matematika di era digital harus digeser secara radikal. Orientasi pembelajaran tidak boleh lagi sekadar menekankan pada penguasaan prosedur rumus atau pencapaian jawaban akhir yang benar. Sebaliknya, pembelajaran harus difokuskan pada penguatan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS).
“Sebagai strategi menghadapi era AI, kami mendorong guru untuk menerapkan pembelajaran yang memberi ruang lebih besar kepada siswa dalam menjelaskan proses berpikir mereka, mempresentasikan argumen secara logis, dan memanfaatkan AI sebagai sarana eksplorasi berbagai alternatif penyelesaian masalah matematika,” tegasnya.
Pergeseran fokus pembelajaran ini, lanjut Masduki, otomatis menuntut adanya pembaruan pada sistem penilaian (assessment). Model penilaian konvensional dinilai sudah tidak lagi relevan untuk mengukur kemampuan autentik siswa di era AI. Ia menyarankan para guru mulai beralih menggunakan bentuk asesmen berbasis proses, seperti presentasi lisan, proyek investigasi matematika, serta penugasan yang kontekstual dengan kehidupan nyata.
Acara yang berlangsung interaktif ini diwarnai dengan sesi tanya jawab yang dinamis antara peserta dan narasumber. Melalui edukasi intensif ini, UMS berharap dapat memicu lahirnya ekosistem tata kelola pembelajaran matematika yang adaptif, inovatif, dan kreatif, namun tetap berpijak pada nilai-nilai humanis yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.















