by | 28 Oct 2026 | KabarMu |

Evaluasi Olahraga Air: Dosen UMS Ulas Prosedur Evakuasi dan Kesiapan Tim Penyelamat

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Insiden meninggalnya atlet selam asal Jepara, Syabilla Rizkia Putri Raharja, dalam nomor selam laut jarak 3.000 meter pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah di Semarang memicu perhatian serius terhadap standar keselamatan olahraga air. Dosen Pendidikan Jasmani (Penjas) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Vera Septi Sistiasih, S.Pd., M.Or., menegaskan pentingnya pengawasan fisik ketat dan kesiapan tim penyelamat dalam arena terbuka.

Vera menyampaikan belasungkawa mendalam atas berpulangnya Syabilla. Ia menilai almarhumah merupakan sosok atlet berpengalaman yang teruji di tingkat provinsi hingga Pekan Olahraga Nasional (PON). Namun, ia menekankan bahwa kompetisi perairan terbuka seperti laut memiliki kompleksitas tinggi dan risiko yang tidak bisa disamakan dengan kolam renang.

Faktor alam yang tidak dapat dikendalikan, seperti arus laut, perubahan angin, cuaca, hingga biota laut menyengat seperti ubur-ubur, sangat memengaruhi fokus dan ketahanan fisik perenang. Karena itu, kesiapan fisik atlet tidak cukup hanya dipastikan sebelum ajang dimulai, melainkan wajib diperiksa kembali pada hari pertandingan.

“Pemeriksaan fisik di hari H itu sangat penting. Faktor X sangat banyak, seperti risiko kram. Jika atlet mengalami kram di air, mereka sudah tidak bisa melanjutkan pertandingan dan harus segera diselamatkan,” ujar Vera, Rabu (28/10/2026).

Pakar olahraga air yang mengantongi lisensi A-1 Scuba Divemaster dan sertifikasi Search and Rescue (SAR) tersebut juga menyoroti aspek kesadaran atlet dan respons kesiapsiagaan tim penolong. Menurutnya, dorongan untuk menyelesaikan pertandingan kerap membuat atlet memaksakan diri meski tubuh sudah kelelahan. Oleh sebab itu, isyarat darurat seperti lambaian tangan harus direspons seketika oleh tim penyelamat terdekat untuk langsung mengevakuasi atlet ke perahu.

Vera menggarisbawahi pentingnya pembagian peran yang jelas antara tim evakuasi perairan dan tenaga medis di darat. Tim penyelamat bertugas membawa korban dari air ke lokasi aman, sementara penanganan medis lanjutan termasuk resusitasi jantung paru (CPR) menjadi ranah tenaga kesehatan.

Pengurus cabang olahraga Triathlon Kota Surakarta tersebut berharap tragedi ini memicu evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan penyelenggaraan olahraga di semua cabang, tak hanya selam. Ketersediaan sarana, kecukupan personel SAR, hingga sinergi medis harus dipastikan agar setiap atlet yang berlaga dapat kembali dengan selamat.

Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Artikel terkait