muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) PRISMA Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional sekaligus Grand Closing Pekan Ilmiah dan Penalaran Mahasiswa (PENA) 8.0 pada Minggu (18/10/2026). Mengusung tema “Youth-Driven Sustainability: Kontribusi Mahasiswa dalam Mewujudkan Inovasi Berkelanjutan dan Kewirausahaan melalui Asta Cita Berbasis SDGs”, forum nasional ini menjadi puncak dari rangkaian kompetisi Lomba Esai dan Business Plan Competition (BPC).
Ketua Pelaksana PENA 8.0, Wendy Yossamodra, menegaskan bahwa agenda ini dihadirkan untuk menampung gagasan kritis mahasiswa agar mampu memberikan dampak nyata di tengah masyarakat. Hal senada disampaikan Ketua Umum UKM PRISMA UMS, Muhammad Daffa Luthfi Bahtiar, yang menyoroti pentingnya peran mahasiswa sebagai kontrol sosial yang selaras dengan Asta Cita dan target Sustainable Development Goals (SDGs).

Apresiasi tinggi datang dari pihak kepemimpinan kampus. Pembina UKM PRISMA UMS, Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T., berharap ajang tingkat nasional ini melahirkan inspirasi besar menuju Indonesia Emas 2045.Sementara itu, Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) UMS, Ahmad Kholid Al Ghofari, S.T., M.T., memuji rekam jejak UKM PRISMA yang tidak hanya aktif bertanding dan lolos program PPK Ormawa, namun juga mampu mengeksekusi kompetisi nasional secara mandiri dan berkualitas.
Dalam sesi talkshow interaktif yang dipandu Mahasiswa Berprestasi FKIP UMS 2026 Agita Asri K., Founder & CEO Zypia, Samuel Lie, hadir sebagai pembicara utama. Samuel membedah tantangan dunia kerja dengan memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana dari sekitar 2,5 juta lulusan sarjana per tahun, hanya sekitar 1,03 juta yang terserap di dunia kerja. Menurutnya, kondisi tersebut membuktikan bahwa ijazah perguruan tinggi tidak otomatis menjamin masa depan tanpa adanya eksplorasi diri dan penguasaan high-value skill.
Selain menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agent of change, penerima beasiswa penuh UGM ini membagikan strategi Study Smart Time Management menggunakan Prinsip Pareto (80% hasil berasal dari 20% usaha) serta optimalisasi memori dari tahap encoding hingga retrieval. Di bidang kewirausahaan, Samuel membagikan kisahnya mendirikan platform edukasi Gen Z “Zypia” dengan fitur smart scrolling yang dimulai dengan modal nekat namun konsisten.
Menanggapi pertanyaan peserta terkait hambatan ekonomi dalam meraih sukses, Samuel menekankan bahwa faktor kesiapan individu dan perbaikan sistem harus berjalan beriringan. Acara ditutup dengan dorongan moral agar mahasiswa berani keluar dari zona nyaman, mengasah keterampilan bernilai tinggi, dan tidak takut menghadapi kegagalan.
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














