by | 6 Jul 2026 | Pendidikan |

Guru Besar UMS: Indonesia Perlu Adaptasi Iklim Hadapi Suhu Ekstrem Global

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Masyarakat Indonesia diimbau untuk segera memperkuat strategi adaptasi iklim dan tidak sekadar waspada dalam menghadapi fenomena gelombang panas (heatwave) global yang kian ekstrem. Langkah mitigasi yang konkret dinilai krusial guna membangun ketahanan wilayah di tengah ancaman nyata perubahan iklim saat ini.

Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., merespons gelombang panas ekstrem di Eropa yang belakangan ini menembus suhu di atas 40 derajat Celsius hingga memicu kebakaran hutan dan gangguan kesehatan massal.

Menurut Prof. Kuswaji, meski karakter iklim tropis membuat Indonesia kecil kemungkinan mengalami heatwave dengan karakteristik yang persis sama seperti di Eropa, ancaman kenaikan suhu tetap mengintai tanah air.

“Yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah meningkatnya jumlah hari dengan suhu maksimum tinggi, indeks panas yang semakin besar karena kelembapan udara tinggi, serta meningkatnya risiko kekeringan ketika terjadi El Niño,” jelas Prof. Kuswaji pada Senin (6/7/2026).

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa kombinasi suhu tinggi dan kelembapan udara yang pekat di Indonesia justru dapat membuat tekanan panas (heat stress) terasa lebih berat dibandingkan wilayah berudara kering. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia yang menaikkan suhu rata-rata bumi secara global.

Kondisi tersebut diperparah oleh pesatnya alih fungsi lahan di kawasan perkotaan, seperti di Solo Raya, Jawa Tengah. Dominasi infrastruktur beton dan aspal serta minimnya ruang terbuka hijau memicu fenomena Urban Heat Island (pulau panas perkotaan) yang membuat suhu pusat kota jauh lebih tinggi daripada daerah bervegetasi.

Dampak dari lonjakan suhu ini dinilai merugikan berbagai sektor vital, mulai dari penurunan produktivitas pertanian akibat krisis air, pembengkakan konsumsi energi untuk pendingin ruangan, hingga risiko kesehatan serius bagi kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil, dan pekerja lapangan.

Menyikapi ancaman ini, Guru Besar UMS tersebut mendorong pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata, salah satunya dengan memperkuat sistem peringatan dini terhadap suhu ekstrem dan indeks panas secara rutin kepada publik. Pembangunan wilayah juga didorong untuk tidak sekadar mengejar target ekonomi, melainkan wajib mengutamakan daya dukung lingkungan melalui tata ruang yang adaptif dan pelestarian ruang hijau.

Di sisi lain, perguruan tinggi diharapkan mengambil peran strategis melalui riset berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan penginderaan jauh untuk memetakan wilayah rentan. Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan tata ruang yang lebih hijau dan aplikatif.

“Pelajarannya bukan menunggu suhu mencapai 45 derajat Celsius, melainkan mulai membangun kota yang lebih hijau, menjaga sumber daya alam, dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk beradaptasi sejak hari ini,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Jadwal Salat Hari Ini
Memuat lokasi…
Subuh
Terbit
Zuhur
Ashar
Maghrib
Isya
Menuju salat berikutnya:
Subuh menggunakan kriteria Muhammadiyah (-18°).

Artikel terkait