muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menyelenggarakan Pentas Seni Tari PGSD UMS 2026. Pagelaran seni yang mengusung tema “Gelar Rasa ing Cakrawala” tersebut dilangsungkan selama dua hari, yakni pada Sabtu hingga Minggu (20-21/6), bertempat di Gedung Wayang Orang Sriwedari Surakarta. Acara ini menjadi puncak dari pembelajaran Mata Kuliah Seni Tari sekaligus ruang apresiasi bagi mahasiswa untuk menampilkan kreativitas serta karya seni yang telah mereka kembangkan selama satu semester penuh.
Sebanyak 39 karya tari hasil kreasi dari mahasiswa semester enam PGSD UMS dipentaskan dalam ajang tahunan ini. Berbagai karya yang disajikan di atas panggung mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, yang secara umum meliputi (1) isu lingkungan hidup yang dikemas secara kreatif, (2) pilar pendidikan moral bagi generasi muda, (3) nilai kebersamaan antarelemen masyarakat, (4) penguatan ketahanan sosial di lingkungan warga, (5) aksi perjuangan kemanusiaan yang menyentuh hati, hingga (6) gerakan pemberdayaan perempuan.
Ketua Program Studi PGSD FKIP UMS, Dr. Murfiah Dewi Wulandari, S.Psi., M.Psi., menyampaikan bahwa pembelajaran seni tari memiliki peran strategis dalam mempersiapkan mahasiswa sebagai calon guru sekolah dasar yang kreatif dan berwawasan budaya. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya belajar menampilkan tari, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk menciptakan serta mengajarkan seni tari kepada peserta didik di sekolah.
Melalui pembelajaran seni tari ini, Murfiah berharap mahasiswa mampu mengkreasi berbagai bentuk tari yang menarik dan edukatif serta mengajarkannya kepada siswa sekolah dasar sebagai salah satu upaya nyata untuk melestarikan budaya Indonesia agar tidak tenggelam di tengah derasnya arus budaya luar yang terus masuk ke Indonesia. Lewat agenda ini pula, Program Studi PGSD FKIP UMS kembali menegaskan komitmennya dalam menghasilkan calon guru sekolah dasar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, adaptif, berwawasan budaya, dan memiliki karakter Islami yang kuat.
Pentas Seni Tari PGSD UMS 2026 ini merupakan bagian integral dari Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Seni Tari yang diampu oleh Dwi Wahyudiarto, M.Sn., dan Yulela Nur Imama, M.Sn. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa terlibat secara langsung dalam seluruh proses penyelenggaraan pertunjukan, mulai dari penyusunan konsep, pengembangan ide, latihan, penataan artistik, hingga pelaksanaan pagelaran di lapangan.
Dwi Wahyudiarto menjelaskan bahwa inti dari produksi pertunjukan tari sesungguhnya bukan hanya tentang tampil di atas panggung, melainkan proses pembelajaran berharga yang terjadi di dalamnya di mana mahasiswa diajak untuk belajar disiplin, tanggung jawab, menghargai waktu, bekerja sama, menerima kritik, dan bertahan menghadapi berbagai tantangan selama proses berkarya. Senada dengan hal itu, Yulela Nur Imama menuturkan bahwa melalui proses penciptaan karya ini, mahasiswa dilatih untuk berpikir kreatif, berkolaborasi, memiliki jiwa kepemimpinan, serta peka terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
Representasi dari tema “Gelar Rasa ing Cakrawala” yang dipilih mencerminkan upaya mahasiswa dalam membentangkan rasa, kepedulian, dan harapan menuju masa depan yang lebih baik dengan menginterpretasikan berbagai realitas sosial ke dalam bahasa seni yang komunikatif, edukatif, dan inspiratif. Beberapa judul karya nyata yang dipentaskan antara lain Bambu Runcing, Segoro Tanpo Asil, Laut yang Terluka, Emansipasi Perempuan, Batik Truntum, Sengkuyung, hingga Gendhong Panguripan.
Pertunjukan ini tidak hanya memikat civitas academica PGSD UMS saja, melainkan juga dihadiri oleh perwakilan sekolah menengah atas di Surakarta, masyarakat umum, hingga penonton mancanegara. Sejumlah sekolah yang turut hadir menyaksikan pementasan budaya ini di antaranya adalah SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, SMA Batik 1 Surakarta, SMA Batik 2 Surakarta, SMA Al Islam 1 Surakarta, MAN 1 Surakarta, MAN 2 Surakarta, dan SMK Negeri 8 Surakarta. Kehadiran berbagai kalangan ini membuktikan bahwa seni tari dapat menjadi media komunikasi budaya yang inklusif sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan seni Indonesia secara lebih luas. (Fika/Humas)















