muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar sosialisasi program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Model Integratif Pemberdayaan Ekonomi Sirkular dan Ketahanan Psikologis pada Kelompok Keluarga Sakinah di Kecamatan Wonogiri”, Rabu (10/6/2026). Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) tersebut menyasar Kelompok Keluarga Sakinah (KKS) di Desa Manjung dan Kerdukepik, Kecamatan Wonogiri.
Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., Psikolog dari Fakultas Psikologi UMS, bekerja sama dengan Dr. Siti Fatimah, S.Si., M.Sc., dari Program Studi Teknik Kimia UMS, serta Nining Sholikhah, S.E., M.Si., dari Program Studi Manajemen Perusahaan Politeknik Pratama Mulia Surakarta. Kolaborasi lintas disiplin tersebut juga melibatkan mahasiswa untuk memberikan solusi yang komprehensif bagi masyarakat.
Menjawab Tantangan Ekonomi dan Kesehatan Mental
Sri Lestari menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab berbagai persoalan berlapis yang dihadapi oleh anggota KKS. Mayoritas anggota komunitas tersebut merupakan ibu rumah tangga yang juga berperan ganda sebagai kepala keluarga sekaligus pelaku usaha ultra mikro, terutama di bidang kuliner.
“Persoalan yang mereka hadapi tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga lingkungan dan kesehatan mental. Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam program ini bersifat integratif,” ujarnya saat dimintai keterangan, Jumat (12/6/2026).
Salah satu persoalan utama di lapangan adalah pengelolaan limbah minyak goreng bekas atau jelantah. Tingginya aktivitas memasak dari usaha kuliner membuat limbah jelantah terus bertambah. Di sisi lain, penggunaan minyak goreng secara berulang juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi keluarga maupun konsumen.
Selain masalah limbah, para pelaku usaha mikro ini menghadapi tantangan dalam manajemen keuangan. Belum adanya pencatatan keuangan yang tertata membuat modal usaha dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga sering kali tercampur. Kondisi beban ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga ini dinilai rentan memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka.
Tiga Program Utama Pemberdayaan
Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim pengabdian UMS menghadirkan tiga pilar program utama:
Pelatihan Pengolahan Limbah: Mengubah minyak jelantah menjadi sabun cuci serbaguna yang bernilai ekonomis.
Manajemen Keuangan & Pemasaran: Pelatihan pencatatan keuangan sederhana agar modal usaha tidak bercampur dengan uang dapur, serta strategi pemasaran digital.
Pelatihan Kebersyukuran: Pendampingan psikologis untuk meningkatkan kesejahteraan mental, kebahagiaan, dan pengelolaan stres dalam kehidupan sehari-hari.
Antusiasme dan Komitmen Keberlanjutan
Kegiatan sosialisasi yang berlangsung di Sekretariat KKS Kerdukepik tersebut berjalan interaktif. Perwakilan Yayasan PSA BOCAHPINTAR, Rahadi, turut hadir sebagai pendamping masyarakat sekaligus penghubung antara tim pengabdian dengan mitra. Pihak yayasan menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh keberlanjutan program yang diinisiasi oleh UMS ini.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang acara. Para anggota KKS aktif mencatat materi, khususnya terkait bahaya minyak goreng berulang dan teknik pemurnian awal jelantah. Uniknya, ketika pemandu acara sengaja menyampaikan informasi yang keliru sebagai bentuk tes kecil, para peserta langsung mampu mengoreksinya berdasarkan materi edukasi yang baru mereka terima.
Apresiasi besar disampaikan oleh Ambarwati, perwakilan peserta dari Desa Manjung.
“Saya mewakili peserta dari Manjung mengucapkan terima kasih atas kesempatan belajar hal baru. Kami berharap dapat menerapkan ilmu yang telah disampaikan dan mewujudkan cita-cita usaha yang kami miliki melalui program ini,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan oleh Yatini, perwakilan KKS Kerdukepik, yang merasa sangat terbantu dengan kehadiran tim pengabdian lintas disiplin ilmu ini.
Sosialisasi ini merupakan tahap awal dari rangkaian program pemberdayaan yang dijadwalkan akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan ke depan. Tim PkM UMS berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan melalui pelatihan lanjutan, monitoring, serta evaluasi berkala guna memastikan kelompok masyarakat ini dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
(Fika/Humas)















