Penulis:
Jabbar Sambudi
Pengelola Sekolah Tabligh/ MTDK PDM Karanganyar

Ketika membaca Al-Qur’an, sering kali kita menemukan pasangan nama Allah yang sama berulang-ulang. Namun, bagi para ulama tafsir, tidak ada satu kata pun dalam Al-Qur’an yang ditempatkan secara kebetulan. Bahkan urutan nama-nama Allah yang tampak sederhana sekalipun mengandung pesan yang sangat dalam.
Salah satu contoh keindahan makna Asmaul Husna ini terdapat dalam Tafsir Surat Saba ayat 2. Allah SWT berfirman:
“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 2).
Menariknya, pada ayat ini Allah menutup firman-Nya dengan nama: Ar-Rahīmul Ghafūr
Padahal yang lebih sering kita jumpai dalam susunan mushaf Al-Qur’an adalah Al-Ghafūrur Rahīm
![]()
Pertanyaannya, mengapa urutannya berbeda? Apakah sekadar variasi bahasa? Ataukah ada makna mendalam yang ingin Allah sampaikan kepada hamba-Nya?
Ketika Allah Mendahulukan Sifat Maha Pengampun (Al-Ghafur)
Salah satu contoh ayat yang sangat terkenal dengan susunan ini adalah Surat Az Zumar ayat 53. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Perhatikan konteks ayat ini. Surat Az Zumar ayat 53 dan artinya tersebut dengan tegas berbicara tentang manusia yang tenggelam dalam dosa dan telah melampaui batas. Manusia yang mungkin merasa dirinya terlalu banyak kesalahan sehingga hampir putus asa dari rahmat Allah.
Dalam kondisi spiritual yang rapuh seperti ini, kebutuhan pertama seorang hamba adalah ampunan. Karena itu, Allah mendahulukan sifat Maha Pengampun Allah SWT (Al-Ghafur). Setelah noda dosa dihapuskan, barulah seorang hamba dapat merasakan limpahan rahmat-Nya yang seutuhnya. Dengan kata lain, konteks pengakuan dosa membuat ampunan harus didahulukan. Maka sangat tepat jika Allah menutup ayat itu dengan Al-Ghafūrur Rahīm.
Ketika Allah Mendahulukan Sifat Maha Penyayang (Ar-Rahim)
Berbeda kontras dengan kandungan ayat di atas, Surat Saba ayat 2 tidak sedang berbicara tentang dosa-dosa manusia. Ayat ini berbicara tentang megahnya tatanan semesta. Tentang apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, serta apa yang naik kembali kepada-Nya.
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan keluasan ilmu Allah yang mengatur seluruh sistem kehidupan makhluk. Benih yang tertanam di dalam tanah, akar yang tumbuh, air hujan yang turun, tumbuhan yang berkembang, malaikat yang turun membawa perintah-Nya, hingga doa-doa yang naik ke langit, seluruh alam raya bergerak dalam pengawasan mutlak Allah SWT.
Di tengah pembicaraan tentang keteraturan alam semesta inilah Allah menutup ayat dengan Ar-Rahīmul Ghafūr (Maha Penyayang lagi Maha Pengampun). Mengapa sifat kasih sayang didahulukan? Karena konteksnya adalah rahmat Allah yang sedang bekerja aktif pada seluruh makhluk hidup.
Rahmat Allah Tidak Hanya untuk Manusia
Sering kali manusia merasa dirinya adalah pusat dari segala sesuatu (human-centered). Padahal ketika Allah berbicara tentang bumi dan langit dalam konteks tafsir Surat Saba ayat 2, Allah sedang menunjukkan bahwa rahmat-Nya mencakup seluruh alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).
Rahmat Allah-lah yang menjaga burung yang terbang di udara, menghidupkan ikan di lautan, menumbuhkan pepohonan di hutan, mengalirkan sungai, menurunkan hujan, hingga mengatur ekosistem mikro yang memungkinkan kehidupan biologis berlangsung. Sebelum kita memikirkan diri kita sendiri, ternyata ada kasih sayang Allah yang sudah bekerja tanpa henti untuk seluruh makhluk-Nya. Karena itulah, dalam konteks alam raya, sangat sesuai jika Allah mendahulukan nama-Nya Ar-Rahim. Semesta ini berdiri kokoh di atas fondasi rahmat-Nya.
Pelajaran Kehidupan dari Arti Al Ghafur dan Ar Rahim
Dari perbedaan susunan redaksi yang sangat halus ini, kita bisa memetik pelajaran iman yang sangat mendalam:
- Saat Konteksnya Dosa Manusia: Allah mendahulukan ampunan (Al-Ghafūrur Rahīm) karena kita butuh dibersihkan dari dosa sebelum layak menerima rahmat-Nya di akhirat.
- Saat Konteksnya Semesta & Kehidupan: Allah mendahulukan kasih sayang (Ar-Rahīmul Ghafūr) karena seluruh kehidupan ini pertama kali tegak berdiri di atas pemeliharaan dan cinta-Nya.
Pembedaan ini mengingatkan kita bahwa ego manusia tidaklah mengitari pusat semesta. Kita bertahan hidup bukan semata-mata karena kehebatan atau teknologi kita, melainkan karena setiap detik Allah melimpahkan rahmat-Nya ke bumi dan langit.
Namun pada saat yang sama, kita tetaplah hamba yang fakir akan ampunan-Nya. Karena meskipun sifat Maha Penyayang Allah menjaga napas kita di dunia, hanya sifat Maha Pengampun-Nya yang dapat menyelamatkan kita saat kembali ke kampung akhirat kelak. Sungguh sebuah penutup ayat yang indah; rahmat-Nya menjaga kita untuk terus hidup, dan ampunan-Nya memberi kepastian harapan agar kita selamat di hadapan-Nya.















