by | 16 Jun 2026 | Berita, Opini

Lawu Bukan Papua Berikutnya: Lawan Kolonialisme Berkedok PLTP!

Penulis:

Akhmad Zaki Musthofa
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (NIM 1524007)
Universitas Muhammadiyah Karanganyar

Cukup! Kita sudah terlalu sering jadi penonton perampokan yang dibungkus kata “pembangunan”.

Acara nonton bareng (nobar) film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” pada Jumat malam di Parkiran Masjid Al Mukarromah itu bukan sekadar hiburan. Itu adalah sirene bahaya bagi kita semua. Film karya Dandhy Laksono & Cypri Dale tersebut membongkar cara licik korporasi merampas tanah Papua: datang membawa janji listrik, lapangan kerja, dan kemajuan. Namun saat mereka pergi? Yang tersisa hanyalah hutan gundul, air beracun, dan tatanan adat yang hancur.

Dan sekarang, pola busuk eksploitasi tersebut mau dipraktikkan di rumah kita sendiri: Gunung Lawu.

Atas nama “transisi energi bersih”, perut Gunung Lawu kini mau dibor untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Pertanyaannya: proyek energi bersih ini sebenarnya bersih untuk siapa? Apakah bersih untuk warga Tawangmangu yang terancam kehabisan air bersih? Untuk para petani Jenawi yang sawahnya bisa kering karena mata air mati? Atau justru hanya bersih untuk laporan laba perusahaan dan pejabat yang menandatangani izin?

Jangan mau dibodohi! Transisi energi yang membunuh sumber air masyarakat bukan sebuah solusi. Itu adalah bentuk kolonialisme gaya baru. Dulu VOC datang membawa kedok perdagangan, sekarang korporasi datang membawa mesin bor. Sama-sama merampas, dan sama-sama mengusir kita dari tanah kelahiran kita sendiri. Itulah alasan kuat mengapa kita harus tegas tolak PLTP Lawu.

Dampak PLTP Lawu dan Ancaman Krisis Lingkungan

Para tokoh seperti David Efendi, Aan Shopuanuddin, dan Wishnu Try Utomo sudah mengingatkan kita dalam diskusi kemarin: proyek PLTP itu bersifat ekstraktif. Risiko nyata dari aktivitas penambangan panas bumi ini sangat mengerikan — mulai dari potensi longsor, gempa mikro, hingga krisis air bersih yang berkepanjangan.

Sekali bentang alam Lawu jebol, seluruh masyarakat di satu eks-Karisidenan Surakarta ikut menanggung akibatnya. Jika hal buruk itu terjadi, anak cucu kita mau minum apa? Dan ketika tanah longsor melanda, siapa yang akan menjadi korban?

Muhammadiyah sejak awal mengajarkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Diam saat alam dirusak secara nyata adalah sebuah kemunkaran. Diam saat rakyat kecil digusur dengan dalih pembangunan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Papua sudah menjadi korban nyata dari eksploitasi berkedok kemajuan. Jangan tunggu sampai Gunung Lawu menjadi kuburan ekologis berikutnya baru kita berani berteriak.

Seruan Pemuda Karanganyar: Jihad Ekologis Menjaga Lawu

Karena itu, wahai seluruh anak muda dan aktivis Karanganyar: LAWAN!

Mari kita tolak PLTP Lawu dan lawan narasi sesat yang menganggap bahwa kritik terhadap proyek PLTP sama dengan anti-kemajuan. Kemajuan macam apa yang tega mengorbankan nyawa dan ruang hidup rakyat? Jaga Lawu bukan sekadar romantisme masa lalu. Bagi kita, gerakan menjaga Lawu adalah sebuah jihad ekologis. Ini bukan lagi soal pilihan, melainkan soal hidup dan mati kita bersama.

Kalau hari ini kita memilih diam, besok kita cuma bisa menonton keindahan Gunung Lawu dari selembar foto sambil meratap, “Dulu, di sini pernah ada mata air yang jernih.”

Energi boleh saja diklaim sebagai energi hijau, tapi kalau cara mendapatkannya harus menindas rakyat kecil dan merusak alam, itu tetaplah sebuah PENJAJAHAN.

Tolak PLTP Lawu. Titik!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Jadwal Salat Hari Ini
Memuat lokasi…
Subuh
Terbit
Zuhur
Ashar
Maghrib
Isya
Menuju salat berikutnya:
Subuh menggunakan kriteria Muhammadiyah (-18°).

Artikel terkait