muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Upaya peningkatan kualitas pembelajaran terus didorong Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui penguatan kompetensi guru, salah satunya dengan memberikan pelatihan penyusunan asesmen dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) terintegrasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi guru Muhammadiyah di wilayah Colomadu.
Kegiatan yang digelar di Laboratorium Pendidikan Matematika UMS itu kini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan UMS dalam memperkuat sistem evaluasi pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan pendidikan dan kebutuhan siswa.
Ketua kegiatan, Adi Nurcahyo, S.Pd., M.Pd., menerangkan bahwa sebanyak 20 guru dari 7 SD/MI dan 1 SMP Muhammadiyah di Colomadu terlibat dalam pelatihan ini. Program tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada peningkatan kualitas penilaian pembelajaran di sekolah Muhammadiyah.
“Kompetensi guru dalam menyusun asesmen menjadi aspek krusial dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran di kelas,” kata Adi saat ditemui pada Selasa, (14/4).
Ia menjelaskan, asesmen tidak hanya berfungsi sebagai alat penilaian, tetapi juga sebagai instrumen untuk memetakan kemampuan siswa secara lebih komprehensif sehingga dapat menjadi dasar dalam memperbaiki strategi pembelajaran.

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari UMS yang memberikan materi secara komprehensif dan aplikatif. Pada sesi awal, Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I., memaparkan pentingnya integrasi nilai AIK dalam asesmen. Menurutnya, penilaian yang baik tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga harus mencerminkan nilai aqidah, ibadah, akhlak, dan kemuhammadiyahan melalui desain rubrik yang menyeluruh.
Selanjutnya, Dr. Muhammad Noor Kholid, M.Pd., menjelaskan konsep dasar asesmen pembelajaran yang menekankan prinsip validitas, objektivitas, keadilan, dan keberlanjutan dalam proses penilaian. Noor Kholid juga menyoroti pentingnya penggunaan berbagai jenis asesmen seperti diagnostik, formatif, dan sumatif sebagai bagian dari strategi untuk memantau perkembangan belajar siswa secara berkelanjutan.

Pada sesi berikutnya, Nuqthy Faiziyah, S.Pd., M.Pd., mengupas secara mendalam mengenai Tes Kemampuan Akademik (TKA), mulai dari konsep dasar hingga penyusunan soal berbasis level kognitif siswa. Dalam diskusi, para guru mengemukakan sejumlah tantangan di lapangan, termasuk menurunnya motivasi siswa dalam menghadapi TKA karena sebagian telah diterima di jenjang pendidikan berikutnya sebelum tes dilaksanakan.
Selain itu, masih lemahnya pemahaman konsep dasar siswa juga menjadi perhatian, mengingat soal TKA menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi yang belum sepenuhnya dikuasai oleh peserta didik.
Menanggapi hal tersebut, pelatihan yang telah sukses terlaksana pada Kamis, (9/4), ini diarahkan untuk membantu guru merancang asesmen yang lebih relevan dan terstruktur, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai dasar perbaikan pembelajaran.
Salah satu peserta, Sariyanti, mengaku pelatihan ini memberikan wawasan baru dalam menyusun asesmen yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi pembelajaran di sekolah.
Melalui program berkelanjutan ini, UMS berharap guru-guru Muhammadiyah mampu mengembangkan praktik penilaian yang lebih berkualitas, sehingga berdampak langsung pada peningkatan mutu pembelajaran di lingkungan sekolah. (Yusuf/Humas)















