muhammadiyakaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Karanganyar kembali menghidupkan syiar intelektual dan spiritual melalui agenda rutin Kajian Senin Malam Selasa (SEMASA). Kegiatan yang berlangsung pada Senin (20/4/2026) di Pendopo Panti Putri Aisyiyah Karanganyar ini menjadi ruang dialektika bagi para kader pemuda di Bumi Intanpari.
Kajian yang dimulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB tersebut menghadirkan Ustadz Muh. Taqwim, S.Pd.I., M.Pd. sebagai pemateri utama. Mengusung tema “Bulan-Bulan Haram”, Muh. Taqwim memaparkan signifikansi empat bulan yang dimuliakan dalam Islam, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Ia menekankan bahwa pada periode tersebut, umat Islam diperintahkan untuk melipatgandakan amal sekaligus menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Dalam ulasannya, Muh. Taqwim menggarisbawahi bahwa pemaknaan bulan haram tidak boleh terputus dari akar sejarah perjuangan Islam. Ia meluruskan persepsi mengenai peperangan di zaman Rasulullah yang sering kali disalahartikan.

“Perangnya Nabi SAW adalah perang yang memiliki tujuan untuk membebaskan diri dari penghambaan kepada selain Allah,” tegas Muh. Taqwim di hadapan puluhan peserta yang hadir.
Ia menambahkan bahwa pesan historis tersebut sangat relevan bagi generasi muda saat ini untuk menjaga kemurnian tauhid. Menurutnya, pemuda harus merdeka dari segala bentuk ketergantungan duniawi yang dapat memicu penyimpangan nilai agama. Muh. Taqwim juga menyebutkan bahwa bulan haram mengandung pesan moral yang kuat agar setiap individu menjauhi perbuatan zalim, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap diri sendiri.
Suasana di Pendopo Panti Putri Aisyiyah tampak khidmat namun tetap dinamis. Anggota PDPM Karanganyar, personel Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM), serta perwakilan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) se-Karanganyar terlibat aktif dalam sesi tanya jawab. Selain aspek teologis, diskusi juga menyentuh pentingnya menjaga etika sosial dan solidaritas di tengah dinamika masyarakat modern yang kian kompleks.
Setelah sesi kajian formal berakhir, acara dilanjutkan dengan diskusi santai. Forum terbuka ini menjadi ajang bagi para kader untuk membedah isu-isu hangat, mulai dari problematika internal persyarikatan hingga persoalan kebangsaan dan geopolitik global.
Ketua PDPM Karanganyar, Mahlich Ibrahim, S.Pd., menyampaikan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan program ini. Ia berharap SEMASA tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi bertransformasi menjadi laboratorium perkaderan yang inklusif.
“Ke depan, Kajian SEMASA diharapkan mampu menjadi kawah candradimuka dalam proses perkaderan dan penggemblengan kader persyarikatan. Kami ingin manfaatnya juga dirasakan oleh organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah lainnya,” tutur Mahlich Ibrahim.
Melalui konsistensi kegiatan SEMASA, PDPM Karanganyar berupaya mencetak generasi muda yang tidak hanya matang secara spiritual, tetapi juga responsif dan solutif terhadap isu-isu sosial kemasyarakatan.















