Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia dan Organisasi (DSDMO) resmi meluncurkan EMPOWER atau Employee Mental Health & Wellbeing Center, Selasa (9/6/2026). Program strategis ini dihadirkan secara khusus sebagai wadah pendampingan untuk mendukung kesejahteraan psikologis serta menjaga kesehatan mental para dosen dan tenaga kependidikan (tendik) di lingkungan kampus.
Peluncuran program inovatif ini dirangkaikan dengan penyelenggaraan kajian yang mengangkat tema sentral mengenai peran penting keluarga sebagai sumber kekuatan utama individu. Langkah tersebut diambil atas kesadaran bahwa stabilitas emosional di ranah domestik memiliki korelasi langsung terhadap performa profesional karyawan dalam ekosistem akademik.
Direktur DSDMO UMS, Ir. Tri Widayatno, S.T., M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa kondisi lingkungan rumah tangga memegang pengaruh yang sangat signifikan terhadap capaian produktivitas seseorang di tempat kerja. Berbagai dinamika yang muncul di dalam kampus, menurutnya, kerap kali berakar dari persoalan personal di luar pekerjaan.
“Kalau kita perhatikan bahwa kinerja di kampus itu sangat dipengaruhi oleh kinerja di keluarga,” ujar Tri Widayatno. Ia menambahkan, tekanan pekerjaan dan interaksi sehari-hari juga berpotensi memengaruhi kondisi psikologis setiap individu secara akumulatif. “Terkadang ketika kita dalami ada persoalan-persoalan di kampus, ternyata kita dapati ada persoalan-persoalan di belakangnya, salah satunya dengan keluarga.”
Pernyataan senada disampaikan oleh Wakil Rektor IV UMS, Prof. Dr. dr. Em Sutrisna, M.Kes. Ia mengingatkan kepada seluruh jajaran agar kendala domestik tidak dibiarkan berlarut-larut hingga mengikis profesionalisme dan tanggung jawab kerja di lingkungan universitas.
“Jangan sampai ada masalah-masalah kinerja, ternyata ada masalah keluarga,” tegas Em Sutrisna saat memberikan arahan.
Lebih lanjut, Em Sutrisna menjelaskan bahwa peluncuran EMPOWER menjadi bukti komitmen UMS dalam memperluas cakupan layanan kesejahteraan pegawainya. Selama ini, UMS sejatinya telah menyediakan berbagai fasilitas kesehatan fisik dan mental. Kendati demikian, sebelum program ini dibentuk, intervensi kesehatan mental baru difokuskan kepada kelompok mahasiswa melalui Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHWS). Melalui kehadiran EMPOWER, layanan kesehatan mental kini resmi mencakup seluruh lapisan dosen dan tendik.
Sebagai narasumber ahli dalam kajian tersebut, pakar psikologi Dr. H. Khoirudin Bashori, M.Si., Psikolog., memaparkan implikasi konkret dari kualitas hubungan keluarga. Ia menggarisbawahi bahwa rumah tangga yang harmonis akan menjadi generator kekuatan kerja, sedangkan lingkungan domestik yang tidak sehat justru akan menjadi beban atau sumber masalah baru bagi individu.
“Kalau keluarga ini sehat, kalau keluarga ini bahagia, kalau keluarga ini sakinah, itu menjadi sumber kekuatan. Tapi kalau keluarga ini toksik, itu malah menjadi sumber persoalan,” jelas Khoirudin.
Ia juga menjabarkan bahwa pembentukan keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah secara umum berjalan melalui lima tahapan krusial, yakni fase bulan madu (honeymoon), adaptasi, saling pengertian (understanding), transformasi, hingga mencapai puncaknya pada hubungan yang tulus dan tanpa syarat (true love atau rahmah). Melalui pemahaman fase ini, para pegawai diharapkan mampu menciptakan ketahanan keluarga yang berimbas positif pada mutu pengabdian profesional di kampus.
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Ekonomi Hijau Kelompok Wanita Tani Kopen SAE melalui Inovasi Produksi dan Pemasaran Sayur Hidroponik di Desa Ngadirejo, Kartasura.” Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen nyata perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat serta memperkuat ketahanan pangan di tingkat keluarga.
Program strategis ini merupakan salah satu bentuk implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat. Target utamanya adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan teknis, sekaligus membangun kemandirian ekonomi warga melalui pemanfaatan teknologi pertanian sederhana.
Kelancaran jalannya program pengabdian ini didukung penuh oleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026. Pelaksanaan program didasarkan pada ikatan kontrak resmi dengan nomor urut 005/LL6/AL.04.03/PM/2026 dan 251.7/DRPPS/A3.9/IV/2026.
Dr. Masduki, S.Si., M.Si., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS yang bertindak sebagai penggagas utama program, memaparkan bahwa metode budidaya hidroponik dipilih karena dinilai sangat relevan untuk kawasan pemukiman yang memiliki keterbatasan lahan. Melalui pemanfaatan media tanam tanpa tanah serta sistem kontrol nutrisi yang terukur, hidroponik mampu menghasilkan sayuran yang higienis, sehat, sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Sistem hidroponik relatif mudah diterapkan oleh masyarakat, termasuk ibu rumah tangga yang ingin memanfaatkan pekarangan rumah secara produktif,” jelas Masduki di lokasi kegiatan, Selasa (9/6/2026).
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para peserta yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) mendapatkan pembekalan materi secara komprehensif. Cakupan materi meliputi konsep dasar hidroponik, pengenalan ragam jenis sistem instalasi, teknik penyemaian benih yang efektif, pengelolaan sirkulasi nutrisi, hingga tata cara perawatan tanaman hingga masa panen tiba.
Guna memastikan pemahaman yang mendalam, tim dosen dan mahasiswa UMS memberikan pendampingan secara langsung melalui praktik lapangan terpadu. Pendekatan interaktif ini memicu antusiasme tinggi dari para peserta, yang terlihat aktif dalam sesi diskusi teknis maupun simulasi budidaya sepanjang jalannya program.
Di sisi lain, ketua tim pengabdian UMS menegaskan bahwa target jangka panjang dari inisiatif ini difokuskan pada penguatan kelembagaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kopen SAE. KWT diharapkan mampu bertransformasi menjadi wadah pemberdayaan perempuan yang solid dan berkelanjutan di tingkat desa.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami harap anggota KWT dapat mengembangkan usaha budidaya sayuran hidroponik secara berkelanjutan, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga maupun sebagai sumber tambahan pendapatan,” ungkapnya.
Lebih jauh lagi, implementasi budidaya hidroponik ini juga dinilai membawa dampak positif terhadap perluasan kesadaran ekologis warga terhadap pentingnya konsumsi pangan sehat dan ramah lingkungan. Dengan mandiri dalam memproduksi sayuran, masyarakat dapat memperoleh akses yang jauh lebih mudah terhadap bahan pangan segar, bergizi, dan higienis dari pekarangan sendiri.
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar aksi cek kesehatan tubuh, gigi, dan mulut gratis bagi masyarakat. Aksi sosial ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Tanpa Rokok Sedunia atau World No Tobacco Day (WNTD) 2026 di kawasan Car Free Day (CFD) Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah.
Gubernur BEM FKG UMS, Isma’il Amri Legowo, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung pada Minggu (24/5/2026) ini bertujuan untuk menekan efek samping rokok serta meningkatkan kesadaran masyarakat. Menurutnya, edukasi difokuskan pada dampak buruk rokok terhadap rongga mulut yang selama ini masih jarang diketahui oleh publik.
“Masyarakat saat ini masih minim pengetahuan tentang bahaya merokok bagi rongga mulut. Yang sudah banyak orang tahu adalah bahaya merokok bagi paru-paru dan jantung. Padahal di rongga mulut ada efek yang sangat bahaya, seperti periodontitis,” ujar Isma’il saat dihubungi pada Selasa (9/6/2026).
Isma’il memaparkan, periodontitis merupakan salah satu ancaman nyata akibat kebiasaan merokok. Penyakit ini berupa infeksi gusi berat yang dapat merusak jaringan lunak serta tulang penyangga gigi. Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis, periodontitis dapat menyebabkan gigi menjadi goyang hingga tanggal atau ompong.
Aksi yang berlokasi di area CFD tersebut berhasil menjaring sedikitnya 100 peserta dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja, dewasa, hingga lansia. Isma’il menyebutkan bahwa kondisi kesehatan gigi dan mulut para pengunjung yang memeriksakan diri cukup beragam, dengan temuan kasus mulai dari gigi berlubang hingga gigi yang sudah tanggal.
“Di sini kami juga menyediakan konsultasi apabila terdapat keluhan dan kondisi gigi dan mulut, seperti pada pasien lansia yang memakai gigi palsu atau gigi tiruan. Kami berikan saran terkait kondisi gigi tiruan tersebut apakah perlu dilakukan perbaikan atau pergantian,” imbuh Isma’il.
Pemilihan CFD sebagai pusat kegiatan dinilai strategis karena karakteristik pengunjungnya yang heterogen. Keberagaman latar belakang dan prevalensi masalah kesehatan tersebut memungkinkan penyampaian edukasi berjalan secara lebih luas dan menyeluruh ke berbagai lapisan masyarakat.
Selain memberikan pelayanan pemeriksaan klinis dan konsultasi gratis, BEM FKG UMS juga memanfaatkan momentum ini untuk misi kemanusiaan lain. Mereka membuka dompet donasi yang bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) untuk membantu para penderita kanker di tanah air.
Melalui aksi nyata ini, BEM FKG UMS berharap masyarakat dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut secara berkala. Hal ini dikarenakan penurunan kondisi kesehatan gigi dan mulut dapat memicu komplikasi dan memengaruhi kesehatan organ tubuh lainnya.
Menutup keterangannya, Isma’il menegaskan bahwa civitas academica UMS, khususnya BEM FKG, berkomitmen penuh untuk terus hadir di tengah masyarakat dalam memberikan edukasi berkelanjutan demi mendongkrak tingkat pengetahuan dan derajat kesehatan gigi masyarakat Indonesia.
Berita, Opini
Penulis:
Jabbar Sambudi
Pengelola Sekolah Tabligh/ MTDK PDM Karanganyar

Pendahuluan
Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan itu tidak hanya tampak dalam ajaran ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga dalam aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Prinsip hidup inilah yang menegaskan arti Islam kaffah sesungguhnya. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama (muamalah), bahkan hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Karena itu, seorang muslim dituntut untuk menerima dan menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh, bukan hanya pada bagian-bagian yang sesuai dengan keinginan dan kepentingannya. Konsep inilah yang dikenal dengan istilah Islam Kaffah.
Memahami Makna dan Arti Islam Kaffah
Istilah Islam kaffah berasal dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Kata “kaffah” berarti seluruhnya, secara total, tanpa pengecualian. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah agar kaum mukmin menerima dan menjalankan seluruh ajaran Islam dengan penuh keyakinan dan ketaatan. Dalam kajian tata bahasa Arab, para ulama berbeda pendapat mengenai kedudukan kata kaffah dalam ayat tersebut.
Sebagian berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan perintah udkhulu (masuklah), sehingga maknanya adalah: Masuklah kalian semua tanpa terkecuali ke dalam Islam. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa kata kaffah berkaitan dengan frasa fis silmi (ke dalam Islam), sehingga maknanya menjadi: “Masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh.” Meskipun terdapat perbedaan dalam penjelasan kebahasaan, keduanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: Islam harus diterima dan diamalkan secara total, baik oleh seluruh kaum muslimin maupun dalam seluruh aspek kehidupan mereka.
Islam Tidak Mengenal Ketaatan yang Dipilih-Pilih
Perintah berislam secara kaffah berlaku bagi setiap muslim, siapa pun dia. Ia berlaku bagi ulama maupun pedagang. Bagi pejabat maupun rakyat biasa. Bagi yang hidup di kota maupun di desa. Bagi generasi terdahulu maupun generasi modern yang sedang berproses melakukan hijrah.
Tidak ada satu pun manusia yang diberi hak untuk memilih sebagian syariat lalu meninggalkan sebagian yang lain. Karena itulah setelah memerintahkan Islam kaffah, Allah langsung memperingatkan:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.”
Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jangan mengikuti setan”, tetapi “jangan mengikuti langkah-langkah setan.” Artinya, penyimpangan sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari langkah-langkah kecil. Sedikit demi sedikit seseorang mulai menawar syariat, mencari pembenaran atas pelanggaran, lalu akhirnya hanya menjalankan agama pada bagian yang ia sukai dan meninggalkan bagian yang terasa berat. Di sinilah setan bekerja.
Penyakit Lama yang Terulang Kembali
Fenomena memilih-milih ajaran agama bukanlah penyakit baru. Allah telah mengingatkan tentang sikap sebagian Bani Israil yang menerima sebagian wahyu, tetapi menolak sebagian lainnya. Allah berfirman:
اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍۚ فَمَا جَزَاۤءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْكُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰٓى اَشَدِّ الْعَذَابِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang sangat berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 85)
Ayat ini pada awalnya berbicara tentang perilaku sebagian Bani Israil. Namun para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut juga mengandung pelajaran bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jangan sampai seseorang menerima syariat yang sesuai dengan hawa nafsunya, tetapi menolak syariat yang bertentangan dengan kepentingannya.
Contoh dan Bentuk Beriman Sebagian dan Kufur Sebagian
Saat mendengar ayat ini, mungkin sebagian orang langsung membayangkan kekafiran yang nyata. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, sikap “beriman sebagian dan kufur sebagian” sering muncul dalam bentuk yang lebih halus, terutama dalam aktivitas ekonomi dan muamalah sehari-hari.
- Misalnya, seseorang sangat menjaga shalatnya, tetapi tidak menjaga kejujuran dalam bisnisnya.
- Ia rajin berpuasa, tetapi masih melakukan praktik riba.
- Ia gemar bersedekah, tetapi menzalimi hak karyawannya.
- Ia berhati-hati dalam urusan makanan halal, tetapi tidak berhati-hati dalam mencari penghasilan halal.
- Ia aktif menghadiri kajian agama, tetapi mudah menyebarkan fitnah dan ghibah.
Dalam kondisi seperti ini, agama hanya ditempatkan di masjid, sementara urusan ekonomi, sosial, politik, keluarga, dan pekerjaan diserahkan kepada hawa nafsu atau standar manusia semata. Padahal Islam tidak mengenal pemisahan antara urusan ibadah dan kehidupan. Islam mengatur keduanya sekaligus.
Islam Mengatur Seluruh Kehidupan dan Muamalah
Kesempurnaan Islam ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Kesempurnaan ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang keadilan, ekonomi, keluarga, pendidikan, kepemimpinan, etika sosial, hingga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya menjadi baik di sajadah, tetapi juga harus baik di pasar, di kantor, di sekolah, di lingkungan masyarakat, dan di dalam keluarganya.
Teladan Rasulullah SAW dalam Menerapkan Islam Kaffah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا ،
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kualitas akhlak dan muamalah. Rasulullah adalah teladan sempurna dalam Islam kaffah. Beliau adalah seorang ahli ibadah yang luar biasa, sekaligus pemimpin negara, kepala keluarga, pendidik, pedagang yang jujur, hakim yang adil, dan sahabat yang penuh kasih sayang. Islam yang beliau ajarkan adalah Islam yang hidup dalam seluruh aspek kehidupan.
Dampak Berislam Setengah-Setengah
Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada mereka yang memilih-milih ajaran agama. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 85 disebutkan bahwa balasan mereka adalah kehinaan di dunia dan azab yang berat di akhirat. Kehinaan di dunia dapat berupa hilangnya keberkahan hidup, rusaknya kepercayaan masyarakat, hilangnya kehormatan, serta berbagai bentuk kegelisahan yang lahir akibat jauhnya seseorang dari petunjuk Allah. Sementara di akhirat, ancamannya jauh lebih berat. Na’udzubillahi min dzalik.
Penutup
Menjadi muslim kaffah bukan berarti menjadi manusia yang langsung sempurna tanpa kesalahan. Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Namun, esensi dari semangat hijrah menuju Islam kaffah berarti memiliki komitmen untuk tunduk kepada seluruh ajaran Allah, menerima seluruh syariat-Nya dengan lapang dada, serta terus berusaha memperbaiki diri ketika masih banyak kekurangan.
Seorang mukmin sejati tidak berkata, “Saya akan mengikuti syariat yang saya sukai.” Namun ia berkata, “Saya mendengar dan saya taat, meskipun terkadang hawa nafsu saya tidak menyukainya.” Karena hakikat keimanan bukanlah menjadikan agama mengikuti keinginan kita, melainkan menjadikan diri kita mengikuti petunjuk agama.
Maka marilah kita terus berusaha masuk ke dalam Islam secara kaffah; dalam ibadah, akhlak, keluarga, pekerjaan, muamalah, dan seluruh aspek kehidupan demi meraih rida Allah SWT.
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Kemasan produk kini bukan lagi sekadar pembungkus pelindung, melainkan telah bergeser menjadi instrumen vital yang menentukan keputusan pembelian konsumen serta mendongkrak daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Hal tersebut ditegaskan oleh mahasiswa Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mohamad Nisman Fadhil, S.E., saat menjadi pembicara dalam kegiatan Jualan Laris Malaysia 2026, Selasa (9/6/2026). Dalam materi bertajuk “Kemasan Menarik, Untung Naik”, Nisman membagikan strategi aplikatif berdasarkan pengalaman empirisnya di dunia bisnis.
Nisman, yang juga merupakan pendiri PT Sentra Karya Nusantara (Novus) dan PT Senapati Wijaya Abadi, mengungkapkan bahwa visualisasi produk memegang peran kunci dalam persepsi nilai suatu barang. Berdasarkan pengalamannya mengelola sejumlah lini usaha seperti Warnet Novus, Goyang Gohyong, hingga Komune Kopi, ia menemukan bahwa produk berkualitas sering kali gagal berkembang di pasaran hanya karena aspek pengemasan yang diabaikan.

“Ada lima kesalahan kemasan yang sering membuat produk sulit berkembang. Kesalahan tersebut meliputi tidak adanya identitas merek yang jelas, penggunaan foto produk yang kurang menarik, outlet atau stan tanpa branding, kemasan yang tidak sesuai dengan karakter produk, serta tampilan media sosial yang tidak konsisten,” ujar Nisman, Selasa (9/6/2026).
Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, Nisman merumuskan lima langkah praktis yang dapat segera diterapkan oleh para pelaku UMKM untuk meningkatkan nilai jual produk mereka, antara lain:
Membangun identitas merek yang mudah diingat oleh konsumen.
Membuat foto produk yang lebih layak dan estetis.
Memperbaiki tampilan fisik outlet atau tempat usaha.
Melakukan peningkatan (upgrade) kualitas kemasan secara bertahap.
Menjaga konsistensi visual di seluruh platform media sosial.
Lebih lanjut, Nisman memaparkan konsep psikologi harga. Melalui konsep ini, ia menjelaskan bahwa konsumen tidak sekadar membeli fungsi dari produk, melainkan membeli persepsi nilai (perceived value) yang dibangun melalui kemasan dan presentasi yang profesional. Strategi inilah yang kemudian ia terapkan pada pengembangan PT Sentra Karya Nusantara dan PT Senapati Wijaya Abadi, yang berhasil meningkatkan kepercayaan klien secara signifikan melalui pembenahan identitas visual.
“Cara kamu tampil adalah cara orang menilai kamu. Kemasan tidak hanya berlaku pada produk, tetapi juga jasa,” tambah Nisman.
Sebagai bukti efektivitas strategi ini, Nisman menampilkan sejumlah studi kasus merek lokal Indonesia yang sukses melakukan ekspansi ke tingkat nasional hingga internasional berkat kekuatan kemasan dan konsistensi visual, seperti Kopi Kenangan, Maicih, dan Kopiko.
Menutup pemaparannya, ia mengingatkan para pelaku usaha bahwa investasi pada kemasan dan citra merek merupakan langkah krusial sebelum produk dilempar ke pasar luas.
“Sebelum orang mencicipi produkmu, mereka sudah ‘membelinya’ dengan mata,” pungkas Nisman.