Workshop Penguatan Asatidzah Pondok Pesantren Darul Arqom Karanganyar untuk Memperkuat Kompetensi Guru dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran

Workshop Penguatan Asatidzah Pondok Pesantren Darul Arqom Karanganyar untuk Memperkuat Kompetensi Guru dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar menggelar Workshop dan Penguatan Asatidzah yang dipusatkan di Aula Pondok Putri Darul Arqom, Karanganyar, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan yang dipandu oleh Ustadz Andri tersebut diikuti sebanyak 45 asatidzah sebagai upaya meningkatkan kompetensi pendidik dalam menyusun perangkat pembelajaran yang berkualitas sekaligus memperkuat kelompok belajar di lingkungan pesantren.

Workshop ini menjadi bagian dari komitmen Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapatkan pendampingan mengenai penyusunan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum, strategi pembelajaran yang efektif, serta pentingnya kolaborasi antarguru melalui kelompok belajar.

Selain membahas aspek teknis penyusunan perangkat pembelajaran, kegiatan ini juga menjadi forum diskusi bagi para asatidzah untuk saling berbagi pengalaman, menyampaikan tantangan dalam proses pembelajaran, serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren. Dengan demikian, hasil workshop diharapkan dapat langsung diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar.

Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di pesantren. Menurutnya, penguatan kompetensi guru menjadi fondasi penting dalam menciptakan pendidikan yang unggul dan berkelanjutan.

“Workshop Penguatan Asatidzah dan Pembuatan Perangkat Pembelajaran menjadi langkah strategis meningkatkan kompetensi guru. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh asatidz mampu menyusun perangkat pembelajaran yang berkualitas, inovatif, dan sesuai kurikulum sehingga proses belajar mengajar semakin efektif serta mampu mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berprestasi,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar.

Sementara itu, Ustadz Andri selaku penyelenggara kegiatan menjelaskan bahwa workshop tidak hanya berfokus pada penyusunan administrasi pembelajaran, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya belajar bersama di kalangan asatidzah. Menurutnya, kolaborasi antarguru akan menghasilkan inovasi pembelajaran yang lebih baik sehingga mampu menjawab kebutuhan peserta didik di era yang terus berkembang.

Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar berharap seluruh asatidzah semakin profesional dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Perangkat pembelajaran yang tersusun secara sistematis serta penguatan kelompok belajar diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter santri yang berilmu, berakhlak mulia, dan berprestasi.

Sistem Presensi 4.0 Karya UMS Sukses Dongkrak Partisipasi Jamaah PCM Kebakkramat

Sistem Presensi 4.0 Karya UMS Sukses Dongkrak Partisipasi Jamaah PCM Kebakkramat

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meluncurkan inovasi sistem presensi pintar berbasis Cloud versi 4.0 untuk mendukung kegiatan Pengajian Ahad Pagi di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya digitalisasi dan modernisasi tata kelola dakwah organisasi kemasyarakatan agar lebih efektif serta berbasis data.

Inovasi digital ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) UMS. Program tersebut diketuai oleh Sukirman, S.T., M.T., Ph.D., bersama anggota tim Dedi Gunawan, Ph.D., Yunus Aris Wibowo, M.Sc., Dr. Istanto, dan Nurul Latifatul Inayati, M.Pd.I.

Ketua Tim Pengembang, Sukirman, menjelaskan bahwa sistem presensi pintar ini telah dikembangkan secara bertahap sejak Maret 2025 demi menyesuaikan kebutuhan organisasi dan tingkat literasi digital jamaah. Setelah menyosialisasikan versi 3.0 pada Februari lalu, kini sistem telah bertransformasi ke versi 4.0 dengan keunggulan pembaruan otomatis melalui aplikasi pengguna tanpa memerlukan pelatihan tatap muka lagi.

“Sistem terbaru tetap mengusung konsep serverless dengan memanfaatkan ekosistem Google Sheets dan GitHub sehingga tidak membutuhkan biaya penyewaan server. Selain lebih efisien, aplikasi juga dilengkapi teknologi validasi lokasi menggunakan koordinat GPS secara real-time yang dipadukan dengan swafoto (selfie) pengguna untuk memastikan kehadiran,” ujar Sukirman pada Selasa (7/7/2026).

Lebih dari sekadar alat pencatat kehadiran, versi 4.0 ini dilengkapi dengan fitur analitik mutakhir. Pimpinan organisasi dapat mengakses dasbor khusus seperti data Jamaah Paling Aktif, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Teraktif, basis data AUM, hingga grafik tren kehadiran jamaah dari waktu ke waktu sebagai instrumen pengambilan keputusan berbasis data riil.

Inovasi ini disambut positif oleh struktur pimpinan daerah setempat. Ketua PCM Kebakkramat, Ir. H. Paryono, mengakui bahwa kehadiran sistem presensi digital ini membawa dampak signifikan terhadap peningkatan partisipasi jamaah di lingkungan Muhammadiyah Kebakkramat.

“Jumlah partisipasi jamaah terbukti semakin meningkat dengan adanya sistem ini. Selain itu, jamaah maupun AUM yang tingkat keaktifannya masih kurang kini dapat terpantau dengan sangat jelas melalui dasbor analitik yang disediakan oleh tim UMS,” ungkap Paryono.

Ia menambahkan, data riil yang diproduksi oleh aplikasi ini langsung dimanfaatkan oleh pihak PCM Kebakkramat untuk menyusun langkah serta strategi pembinaan jamaah yang lebih tepat sasaran.

Kendati membawa teknologi mutakhir, aplikasi ini dipastikan ramah pengguna untuk seluruh kalangan usia. Berdasarkan pengujian menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS), platform digital ini mencatatkan tingkat penerimaan yang tinggi di kalangan jamaah.

Sebagai bentuk keberlanjutan program pengabdian, tim UMS saat ini tengah merampungkan penyusunan buku panduan penggunaan, pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta publikasi ilmiah. Melalui transformasi digital ini, tata kelola organisasi Muhammadiyah diharapkan menjadi model pengembangan dakwah digital yang profesional, transparan, akuntabel, dan adaptif terhadap zaman.

UMS Gandeng Universiti Kebangsaan Malaysia, Siap Kembangkan Riset dan Jurnal Bersama

UMS Gandeng Universiti Kebangsaan Malaysia, Siap Kembangkan Riset dan Jurnal Bersama

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus tancap gas memperluas jejaring internasional demi mewujudkan visi menjadi perguruan tinggi berkelas dunia (World Class University). Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui kunjungan benchmarking ke salah satu universitas top Malaysia, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), di Kampus Bangi, Malaysia.

Delegasi UMS dipimpin langsung oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dan disambut hangat oleh perwakilan UKM, Prof. Dato’ Dr. Roslee Rajikan, serta jajaran pimpinan institusi setempat.

Kunjungan ini berfokus pada penjajakan kolaborasi implementatif yang mencakup pengembangan joint funding research, penguatan kerja sama tim editorial jurnal ilmiah, penyelenggaraan konferensi internasional bersama, hingga ekspansi kerja sama di sektor kesehatan. Dipilihnya UKM bukan tanpa alasan; universitas tersebut saat ini menduduki peringkat 130 dunia berdasarkan QS World University Rankings serta memiliki kontribusi kuat dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa hubungan akademik antara UMS dan UKM sejatinya sudah mengakar kuat. Hingga saat ini, tercatat telah ada 67 kolaborasi publikasi bersama yang dilakukan oleh dosen UMS dan UKM. Kendati demikian, Harun menginginkan kerja sama ke depan harus berorientasi pada dampak nyata yang konkret, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.

“Kami ingin belajar, salah satunya terkait target reputasi global. Saya lebih senang langsung implementasi daripada hanya sleeping MoU. Yang penting adalah aksi nyata yang berdampak,” tegas Harun.

Menanggapi rencana kerja sama jangka panjang, agenda konferensi internasional bersama nantinya diproyeksikan bakal digelar di Solo maupun Bali melalui BIM University yang berada di bawah ekosistem UMS. Selain itu, kedua belah pihak melihat adanya peluang besar kolaborasi di sektor medis. Kesamaan kepemilikan fasilitas rumah sakit pendidikan serta rumah sakit gigi dan mulut menjadi modal utama untuk mengembangkan riset kesehatan dan pendidikan kedokteran bersama.

Pihak UKM menyambut baik komitmen tinggi UMS dan menyatakan kesiapannya untuk memperkuat hubungan kelembagaan antarkedua universitas. Sebagai bentuk keseriusan, UKM dijadwalkan akan melakukan kunjungan balasan ke kampus UMS pada November mendatang, yang bertepatan dengan momentum penyelenggaraan agenda QS Impact di Indonesia.

Melalui sinergi benchmarking ini, UMS tidak hanya memperkokoh posisi akademiknya di tingkat regional Asia Tenggara, tetapi juga membuka keran inovasi yang lebih luas bagi pengembangan riset, publikasi ilmiah, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing global.

Benchmarking ke UKM Malaysia, UMS Targetkan Penguatan Ekosistem Riset Dunia

Benchmarking ke UKM Malaysia, UMS Targetkan Penguatan Ekosistem Riset Dunia

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat ekosistem akademik kompetitif di kancah internasional. Langkah ini diwujudkan melalui kunjungan benchmarking Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., ke Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada Senin (6/7/2026) di Persada Canselori, Bangi, Malaysia, guna memperluas jaringan kolaborasi lintas negara.

Kunjungan strategis yang mendampingi Wakil Rektor IV Prof. Dr. dr. Em Sutrisna ini diterima langsung oleh Vice Chancellor UKM, Prof. Datuk Dr. Sufian Jusoh. Pertemuan tingkat tinggi tersebut berfokus pada penguatan kerja sama konkret di bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, internasionalisasi, hingga peningkatan kapasitas editor serta reviewer jurnal ilmiah.

Sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik yang menduduki peringkat 130 dunia versi QS World University Rankings, UKM menjadi mitra strategis UMS. Tercatat, sinergi akademik kedua institusi telah terbangun konsisten sejak 2018 dan berhasil menelurkan 67 publikasi ilmiah terindeks Scopus yang melibatkan 14 dosen UMS. Di antara para akademisi tersebut, Prof. Agus Sudaryanto menjadi kontributor utama dari UMS dengan capaian 22 artikel ilmiah kolaboratif.

Vice Chancellor UKM, Prof. Datuk Dr. Sufian Jusoh, mengapresiasi kontribusi riset ilmuwan UMS. Dalam diskusi tersebut, ia mendorong adanya pertukaran posisi editorial board antar-kedua universitas serta membagikan resep UKM dalam menjaga reputasi global, termasuk kewajiban setiap dosen menghasilkan minimal empat publikasi Scopus per tahun serta standardisasi ketat untuk meraih jabatan profesor.

Sebagai bentuk implementasi nyata dari nota kesepahaman yang ada, kedua belah pihak sepakat meluncurkan program lecture exchange (pertukaran dosen tamu) dalam waktu dekat.

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, menegaskan bahwa hasil benchmarking ini akan menjadi cetak biru penting bagi UMS dalam membangun budaya riset yang kuat, kejelasan target publikasi, dan sistem pembinaan karier akademik yang berorientasi mutu.

“Implementasi kerja sama merupakan kunci utama. Kami ingin kemitraan antara UMS dan UKM terus melahirkan publikasi bersama, pertukaran dosen, kolaborasi penelitian, pengembangan jurnal bereputasi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia,” tegas Prof. Harun.

Guru Besar UMS: Indonesia Perlu Adaptasi Iklim Hadapi Suhu Ekstrem Global

Guru Besar UMS: Indonesia Perlu Adaptasi Iklim Hadapi Suhu Ekstrem Global

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Masyarakat Indonesia diimbau untuk segera memperkuat strategi adaptasi iklim dan tidak sekadar waspada dalam menghadapi fenomena gelombang panas (heatwave) global yang kian ekstrem. Langkah mitigasi yang konkret dinilai krusial guna membangun ketahanan wilayah di tengah ancaman nyata perubahan iklim saat ini.

Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., merespons gelombang panas ekstrem di Eropa yang belakangan ini menembus suhu di atas 40 derajat Celsius hingga memicu kebakaran hutan dan gangguan kesehatan massal.

Menurut Prof. Kuswaji, meski karakter iklim tropis membuat Indonesia kecil kemungkinan mengalami heatwave dengan karakteristik yang persis sama seperti di Eropa, ancaman kenaikan suhu tetap mengintai tanah air.

“Yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah meningkatnya jumlah hari dengan suhu maksimum tinggi, indeks panas yang semakin besar karena kelembapan udara tinggi, serta meningkatnya risiko kekeringan ketika terjadi El Niño,” jelas Prof. Kuswaji pada Senin (6/7/2026).

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa kombinasi suhu tinggi dan kelembapan udara yang pekat di Indonesia justru dapat membuat tekanan panas (heat stress) terasa lebih berat dibandingkan wilayah berudara kering. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia yang menaikkan suhu rata-rata bumi secara global.

Kondisi tersebut diperparah oleh pesatnya alih fungsi lahan di kawasan perkotaan, seperti di Solo Raya, Jawa Tengah. Dominasi infrastruktur beton dan aspal serta minimnya ruang terbuka hijau memicu fenomena Urban Heat Island (pulau panas perkotaan) yang membuat suhu pusat kota jauh lebih tinggi daripada daerah bervegetasi.

Dampak dari lonjakan suhu ini dinilai merugikan berbagai sektor vital, mulai dari penurunan produktivitas pertanian akibat krisis air, pembengkakan konsumsi energi untuk pendingin ruangan, hingga risiko kesehatan serius bagi kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil, dan pekerja lapangan.

Menyikapi ancaman ini, Guru Besar UMS tersebut mendorong pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata, salah satunya dengan memperkuat sistem peringatan dini terhadap suhu ekstrem dan indeks panas secara rutin kepada publik. Pembangunan wilayah juga didorong untuk tidak sekadar mengejar target ekonomi, melainkan wajib mengutamakan daya dukung lingkungan melalui tata ruang yang adaptif dan pelestarian ruang hijau.

Di sisi lain, perguruan tinggi diharapkan mengambil peran strategis melalui riset berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan penginderaan jauh untuk memetakan wilayah rentan. Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan tata ruang yang lebih hijau dan aplikatif.

“Pelajarannya bukan menunggu suhu mencapai 45 derajat Celsius, melainkan mulai membangun kota yang lebih hijau, menjaga sumber daya alam, dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk beradaptasi sejak hari ini,” pungkasnya.