Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tidak hanya meluncurkan sistem “MyUjian”, tetapi juga langsung menyosialisasikan tata cara penggunaannya kepada dosen dan pengelola program studi, Kamis (9/4), di Auditorium M. Djazman Kampus 1. Langkah ini dilakukan untuk memastikan implementasi ujian berbasis digital berjalan optimal dan terintegrasi dengan sistem pembelajaran berbasis “Outcome Based Education” (OBE).

Dalam kegiatan tersebut, tim pengembang memaparkan bahwa “MyUjian” dapat diakses melalui laman resmi https://myujian.ums.ac.id/ dengan mekanisme terintegrasi sistem akademik UMS. Pengguna utama sistem ini meliputi dosen, program studi, serta mahasiswa sebagai peserta ujian. Dosen bertugas menyusun soal, mengelola ujian, hingga memantau hasil, sementara mahasiswa mengakses ujian secara langsung melalui perangkat masing-masing.
Narasumber sosialisasi, Husni Thamrin, Ph.D, dalam sesi sosialisasi menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk menjawab kebutuhan teknis sekaligus akademik. Ia menyebut, MyUjian tidak hanya sekadar platform ujian, tetapi juga alat ukur capaian pembelajaran. “Kami mencoba menerjemahkan kebutuhan prodi dan universitas ke dalam sistem teknis yang terintegrasi,” ujarnya.

Secara teknis, proses penggunaan dimulai dari dosen atau program studi yang menginput soal ke dalam sistem. Soal dapat dikelola secara mandiri oleh dosen maupun kolektif oleh program studi. Setelah itu, panitia atau prodi menjadwalkan ujian melalui sistem yang telah disediakan. Pada tahap pelaksanaan, mahasiswa mengakses ujian berbasis “Computer Based Test” (CBT) dengan dukungan “Safe Exam Browser” untuk menjaga integritas ujian.
Selama ujian berlangsung, dosen dapat memantau progres pengerjaan mahasiswa secara real-time. Sistem juga memungkinkan hasil ujian langsung terekam dan terintegrasi sebagai nilai sub-CPMK. Dengan demikian, proses evaluasi tidak lagi dilakukan secara manual, melainkan otomatis dan lebih akurat.
Selain itu, MyUjian terhubung dengan sistem pembelajaran lain di UMS, termasuk Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan platform pembelajaran daring. Integrasi ini memungkinkan keterkaitan antara materi, metode pembelajaran, hingga asesmen berjalan selaras. “Assessment harus link dengan capaian pembelajaran. Itu yang kami fasilitasi dalam sistem ini,” jelas Husni.
Perubahan signifikan dari sistem sebelumnya terletak pada digitalisasi penuh proses ujian. Jika sebelumnya ujian masih berbasis kertas, kini seluruh tahapan dilakukan secara daring. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendukung validitas instrumen penilaian yang lebih terukur dan terdokumentasi.
Dalam sesi praktik, peserta sosialisasi juga diminta langsung mencoba fitur-fitur yang tersedia, mulai dari input soal hingga simulasi pengukuran capaian pembelajaran. LPPIP UMS menekankan pentingnya keterlibatan aktif dosen agar sistem ini dapat berjalan maksimal. Bahkan, masukan dari pengguna akan terus diakomodasi untuk penyempurnaan sistem.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan seluruh civitas akademika dapat beradaptasi dengan sistem MyUjian sebagai bagian dari transformasi digital pendidikan. Implementasi yang konsisten diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat bukti kinerja akademik dalam proses akreditasi di masa mendatang. (ARP/Humas)
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional (DRKUI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar penyambutan dan orientasi bagi mahasiswa tahun 2026 di Ruang Seminar Pascasarjana UMS. Agenda ini dihadiri oleh 19 mahasiswa asing dan jajaran pimpinan prodi tempat mahasiswa asing akan menempuh studi.
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyambut dengan hangat kedatangan dari para mahasiswa asing yang baru menginjakkan kakinya di UMS.

“Selamat datang di UMS, saya berharap kamu bisa adaptif, transformatif, dan merasa nyaman berada di sini. Jadi jangan suka homesick,” ujar Harun, Kamis (9/4).
Sebab menurutnya, UMS terkenal dengan pelayanan dan keramahannya sehingga mahasiswa tidak akan terlalu sering merasa rindu dengan kampung halamannya.
Direktur DRKUI Nurgiyatna, S.T., M.Sc., Ph.D., juga menyambut kedatangan mahasiswa baru ini. Ia memastikan bahwa kantornya memberikan pelayanan terbaik untuk mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga akan didampingi oleh buddy atau pendamping selama berada di UMS.

Nurgiyatna melaporkan, bahwa pada tahun 2026/2027, terdapat 7.245 pendaftar beasiswa International Priority Scholarship (IPS) yang tersebar dari 101 negara. Pendaftar didominasi dari benua Afrika dengan pendaftar mencapai 3.831.
Selain itu, kesempatan penerima beasiswa IPS dan self-funded yang diterima oleh UMS setiap tahunnya bertambah. Menurut Nurgiyatna ini menjadi komitmen UMS untuk menjadi kampus global. Sebelumnya, di tahun 2024, UMS hanya menerima 22 mahasiswa, lalu pada tahun 2025 menerima 23 mahasiswa. Sedangkan pada tahun 2026 menerima sebanyak 39 mahasiswa. 39 mahasiswa asing ini tersebar untuk menempuh di 18 program studi.
“Kamu terpilih, karena ada 7.245 pendaftar dan yang diterima hanya 39. Mohon gunakan kesempatan ini, lakukan yang terbaik karena kalian telah bersaing dengan banyak pesaing,” ungkapnya.
Salah satu penerima beasiswa IPS UMS, Aya Abusidu dari Palestina (22) memilih menjadi mahasiswa prodi Magister Pendidikan Bahasa Inggris. Dia mengetahui UMS karena saudaranya telah berkuliah di Indonesia. Lalu ketika dia telah menyelesaikan studi sarjananya, dia memutuskan untuk melanjutkan studi masternya di Indonesia dan memilih UMS.
“Jadi UMS memiliki beasiswa, jadi saya mencoba mendaftar beasiswa ini, dan saya beruntung untuk bisa diterima di sini,” ungkap Aya.
Aya memiliki alasan tersendiri untuk memilih UMS. Namun Aya mengakui bahwa UMS adalah kampus yang terkenal dan banyak warga Palestina yang sudah mengambil studi di UMS.
“Jadi mereka mendorongku untuk mengambil jenjang s2 di kampus ini,” kata Aya.
Setelah satu minggu tinggal di Pesma UMS , ia merasa bahwa mahasiswa dan warga di sekitar sangat ramah. Ini membuatnya nyaman dan merasa aman. Dia sangat menantikan momen untuk belajar di UMS. Aya juga berharap akan banyak mendapatkan banyak pengalaman. (Maysali/Humas)
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Halalbihalal Keluarga Besar Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Komisariat II Surakarta digelar di Hotel Sunan Surakarta, Kamis (9/4). Acara dihadiri oleh pimpinan dari 35 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di wilayah Soloraya dan menjadi ajang silaturahmi, berbagi pengalaman, serta memperkuat kerja sama antar-institusi pendidikan tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ketua APTISI Komisariat II Surakarta, Dr. Singgih Purnomo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas partisipasi peserta. Ia menekankan bahwa kegiatan ini selain sebagai momentum halal bihalal, juga menjadi forum strategis untuk membahas pengembangan kualitas PTS serta eskalasi jenjang karier dosen.
“Silaturahmi ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk berbagi praktik terbaik, memperkuat kolaborasi, dan menyiapkan langkah strategis bagi kemajuan pendidikan tinggi swasta di Soloraya,” kata Singgih.

Dalam kesempatan yang sama, dilaporkan bahwa delegasi APTISI Jawa Tengah yang berjumlah 22 peserta telah sukses melakukan kunjungan kerja dan penandatanganan MoU dengan sejumlah institusi pendidikan di Filipina dan Taiwan. Langkah ini bertujuan untuk memperluas jejaring internasional dan membuka peluang kerja sama akademik lintas negara.
Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A., yang mendorong peningkatan kerja sama antara PTS dengan pemerintah daerah. Kolaborasi ini difokuskan pada penelitian bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), khususnya pada kajian tata kelola kota, kesehatan, serta pengembangan teknologi dan inovasi. Astrid menekankan pentingnya akselerasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program “Rumah Siap Kerja” guna menjawab kebutuhan dunia industri.
Selain itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI, Prof. Aisyah Endah Palupi, memaparkan poin-poin penting dari Permen No. 52 Tahun 2025, yang menekankan penyederhanaan birokrasi karier dosen, peningkatan standar penjaminan mutu yang lebih komprehensif, serta fleksibilitas Beban Kinerja Dosen (BKD) untuk mendukung otonomi riset.
Dalam tausiyahnya, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengajak seluruh pimpinan PTS menanamkan tiga pilar utama dalam bekerja, yaitu ikhlas, profesional, dan tuntas. Menurutnya, keikhlasan menjadi fondasi spiritual yang mendatangkan keberkahan, yang harus dibarengi profesionalisme tinggi dan penyelesaian tugas secara tuntas demi hasil maksimal.
Harun juga menekankan bahwa untuk bersaing sejajar dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), PTS harus terus meningkatkan kualitas dan standar pelayanan. “Infrastruktur pendidikan sebaik apa pun tidak akan berarti tanpa kualitas pendidik yang mumpuni. Dosen adalah lokomotif pendidikan tinggi yang menggerakkan kemajuan institusi dan mahasiswa,” tuturnya.
Acara Halalbihalal APTISI Komisariat II Surakarta ini berhasil menjadi wadah strategis bagi pimpinan PTS untuk bertukar informasi, memperkuat jaringan, serta menegaskan komitmen bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Soloraya. (Andi/Fika/Humas)
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran resmi meluncurkan sistem MyUjian dan pengukuran capaian pembelajaran berbasis Outcome Based Education (OBE) sebagai upaya memperkuat mutu akademik dan menjawab tuntutan akreditasi yang diikuti oleh 86 peserta terdiri dari pimpinan program studi dan unit penjaminan mutu di lingkungan sivitas akademika ums, pada Kamis (9/4), bertempat di Auditorium M. Djazman Kampus 1. Peluncuran ini menjadi langkah strategis UMS dalam mendorong transformasi digital yang progresif dan berkelanjutan di bidang pendidikan.

Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran, Koesoemo Ratih., M.Hum., Ph.D, menegaskan bahwa sistem ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan riil evaluasi pembelajaran sekaligus tuntutan akreditasi yang semakin ketat. “Digitalisasi kini semakin berkembang, MyUjian hadir untuk mendukung mutu pembelajaran kita bersama,” ujarnya. Ia menjelaskan, sejak 2021 pihaknya terus mengembangkan berbagai sistem pembelajaran hingga kini terintegrasi, termasuk MyUjian dan fitur pengukuran CPL serta Program Educational Objectives (PEO).

Menurut Ratih, pengembangan sistem ini tidak hanya bersifat pragmatis sebagai bukti fisik akreditasi, tetapi juga mengarah pada implementasi penuh kerangka OBE. Selama ini, pengukuran capaian pembelajaran kerap dilakukan secara manual, namun kini harus berbasis sistem. “Kalau tidak pakai sistem, tidak lagi dianggap valid. Maka kami hadirkan MyUjian dan pengukuran CPL untuk menjawab itu,” jelasnya.
Sistem MyUjian sendiri merupakan platform ujian berbasis Computer Based Test (CBT) yang dilengkapi fitur keamanan tinggi melalui Safe Exam Browser, pengelolaan soal oleh dosen dan program studi, hingga pengaturan jadwal ujian. Selain itu, hasil ujian dapat langsung terintegrasi menjadi nilai sub-CPMK, sekaligus mendukung analitik real-time bagi dosen untuk memantau progres mahasiswa.
Lebih jauh, Ratih menambahkan bahwa sistem ini juga berkontribusi pada efisiensi pembelajaran melalui konsep paperless. Selama ini, pelaksanaan ujian di lingkungan akademik masih membutuhkan kertas dalam jumlah besar. “Dengan MyUjian, kita bisa mengurangi penggunaan kertas secara signifikan sekaligus memastikan instrumen asesmen valid dan reliabel,” katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D, dalam sambutannya menekankan bahwa peluncuran MyUjian merupakan bagian dari strategi besar transformasi pendidikan di UMS. Ia menyebut, institusi tengah mendorong “transformasi progresif berkelanjutan” untuk meningkatkan kualitas lulusan. “Kita sepakat meningkatkan mutu pendidikan melalui sistem yang terukur, termasuk pengukuran capaian pembelajaran yang terus dievaluasi,” ujarnya.
Ihwan juga menyoroti pentingnya pengukuran capaian pembelajaran secara berkelanjutan minimal tiga tahun terakhir sebagai bagian dari evaluasi kurikulum. Menurutnya, hasil evaluasi tersebut harus menjadi dasar perbaikan pembelajaran. “Bukan hanya mengukur, tapi ada analisis dan tindak lanjut. Itulah siklus plan-do-check-act yang harus berjalan,” tegasnya.
Dalam implementasinya, sistem ini juga dilengkapi fitur exit survey yang memungkinkan pengukuran capaian pembelajaran dari persepsi lulusan. Pendekatan ini dilakukan untuk melengkapi data akademik melalui triangulasi, yakni hasil nilai, persepsi mahasiswa, dan evaluasi pihak lain. Dengan demikian, kualitas lulusan dapat diukur lebih komprehensif.
Melalui peluncuran MyUjian dan sistem pengukuran capaian pembelajaran ini, menegaskan komitmen UMS menjadi perguruan tinggi yang adaptif, produktif, dan futuristik. Ke depan, sistem ini diharapkan dapat digunakan secara luas oleh dosen dan mahasiswa dalam mendukung pembelajaran yang berkualitas serta memperkuat posisi UMS dalam kancah akreditasi nasional maupun internasional. (ARP/Humas)
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menambah deretan lulusan doktoralnya dengan mengukuhkan Muhammad Nur Latif sebagai doktor ke-63. Ia dinyatakan lulus setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor, sekaligus meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89.
Dalam proses akademiknya, Latif dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Waston, M.Hum., serta Ko-Promotor Prof. M. Sholahuddin, S.E., M.Si., Ph.D.

Dalam disertasinya, Latif sapaannya, menyoroti fenomena unik yang terjadi di Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin. Ia mengungkapkan bahwa jika dianalisis menggunakan Human Capital Theory dari Gary Becker, ketimpangan antara tuntutan kompetensi yang tinggi dan rendahnya insentif remunerasi secara rasional seharusnya memicu eksodus tenaga pendidik. Namun, realitas yang terjadi justru menunjukkan hal sebaliknya.
“Tidak ada satupun guru inti yang keluar. Resiliensi institusional ini merepresentasikan anomali keberhasilan yang esensial untuk dieksplorasi. Fenomena anomali tersebut justru menunjukkan beroperasinya mekanisme retensi khusus yang bekerja di luar jangkauan teori manajemen konvensional,” kata Latif, Rabu (8/4).
Dari hasil penelitiannya, Latif menemukan adanya sebuah arsitektur tata kelola Sumber Daya Manusia yang ia sebut sebagai Maqashid-Based Value-Safeguarding Architecture (M-VSA). Dalam konsep ini, lima prinsip al-Dharuriyyat al-Khams tidak lagi sekadar menjadi landasan moral, melainkan telah berkembang menjadi instrumen manajerial yang tersusun secara sistematis.

Selain itu, ia juga mengidentifikasi adanya VRIN Spiritual Capital Lifecycle, yakni sebuah siklus manajerial yang menggambarkan proses transformasi ontologis seorang pendidik dari human capital yang bersifat transaksional menjadi spiritual capital dengan karakteristik VRIN (valuable, rare, inimitable, dan non-substitutable).
Temuan ketiga dalam disertasinya adalah Maqashid-Based Value Safeguarding Mechanism (M-VSM), sebuah sistem pertahanan nilai yang bekerja secara menyeluruh dalam menjaga ekosistem pesantren. Sistem ini dianalogikan seperti kubah masjid yang melindungi keseluruhan struktur dari berbagai ancaman.
“Ia melindungi seluruh ekosistem dari ancaman eksternal dan internal yang dapat merusak kemurnian nilai,” ujar Latif.
Salah satu instrumen penting dalam mekanisme tersebut adalah radar anti-eksploitasi.
Latif menilai bahwa ancaman terbesar dalam ekosistem nilai pesantren adalah praktik eksploitasi yang dibungkus dengan narasi keikhlasan. “Ini terjadi ketika narasi pengabdian digunakan untuk menjustifikasi beban kerja yang melampaui batas kemanusiaan tanpa kompensasi yang proporsional,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pesantren Al-Mukmin menerapkan batas yang tegas antara tugas profesional berbayar (paid load) dan aktivitas sukarela (infaq time). “Batas ini ditegakkan secara konsisten,” tegasnya.
Ketiga model yang ditemukan tersebut kemudian terintegrasi dalam satu sistem besar yang dinamakan The Maqashid-Based Spiritual Capital Management Ecosystem (M-SCME). Sistem ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam mempertahankan tenaga pendidik di pesantren tidak semata-mata ditentukan oleh faktor material, melainkan oleh ikatan ideologis dan nilai-nilai transendental yang dibangun secara sistemik.
Sementara itu, Ko-Promotor Prof. M. Sholahuddin memberikan pesan kepada Latif agar gelar doktor yang diraih dapat dimaknai sebagai sebuah amanah yang harus diwujudkan dalam praktik nyata.
“Maka wujud syukurnya adalah ketika Anda beraktivitas di mana saja. Anda perlu menerapkan atau mengimplementasikan apa yang sudah didapat di pendidikan ini. Baik itu di tempat kerja, kemudian di pondok, atau di mana saja,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga hubungan antara alumni dengan institusi dan para dosen.
“Dan saya harapkan tidak hanya sampai di sini saja hubungan kita. Hubungan antara alumni dengan institusi, hubungan antara alumni dengan para dosen-dosennya. Kalau dosen itu, maksudnya pengajar, itu tidak ada namanya ‘mantan’. Tidak ada mantan dosen, adanya dosen ya tetap dosen selamanya adalah dosen,” pungkasnya. (Maysali/Humas)