Jalan Kemudahan di Tengah Tekanan Ekonomi: Solusi Finansial & Spiritual

Jalan Kemudahan di Tengah Tekanan Ekonomi: Solusi Finansial & Spiritual

Penulis:

Jabbar Sambudi
Pengelola Sekolah Tabligh/ MTDK PDM Karanganyar

Jalan Kemudahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Beberapa waktu terakhir, masyarakat menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang semakin terasa. Nilai tukar dolar yang terus menguat, kenaikan harga bahan bakar, serta meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok menjadi kenyataan yang tidak dapat diabaikan. Kenaikan harga bahan bakar bahkan menimbulkan efek domino yang memengaruhi biaya distribusi dan produksi berbagai sektor, sehingga harga barang dan jasa ikut mengalami kenaikan.

Di tengah kondisi tersebut, banyak orang merasakan hal yang sama: hampir semua kebutuhan mengalami kenaikan harga, sementara pendapatan tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun dan pengelolaan keuangan keluarga menjadi semakin menantang.

Dalam menghadapi tekanan ekonomi ini, setidaknya terdapat dua langkah sederhana yang dapat dilakukan sebagai solusi praktis. Pertama, berupaya menambah penghasilan. Kedua, mengendalikan pengeluaran dengan lebih bijak.

Menambah Penghasilan Sebagai Ikhtiar Menghadapi Tekanan Ekonomi

Jika terdapat peluang untuk meningkatkan pendapatan, maka peluang tersebut layak untuk diusahakan. Setiap orang memiliki kesempatan yang berbeda-beda. Ada yang dapat menambah penghasilan melalui usaha sampingan, pekerjaan tambahan, pengembangan keterampilan baru, atau memanfaatkan teknologi dan media digital.

Ikhtiar untuk meningkatkan pendapatan merupakan bagian dari usaha yang dianjurkan dalam Islam. Seorang muslim diperintahkan untuk bekerja keras dan memanfaatkan berbagai peluang yang halal guna memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.

Namun demikian, tidak semua orang berada pada kondisi yang memungkinkan untuk segera menambah penghasilan. Ada kalanya peluang belum ditemukan, keterampilan masih perlu dikembangkan, atau kondisi tertentu belum memungkinkan untuk mengambil pekerjaan tambahan. Ketika kondisi tersebut terjadi, maka langkah kedua menjadi sangat penting, yaitu mengendalikan pengeluaran secara ketat.

Mengendalikan Pengeluaran dengan Bijak di Tengah Kenaikan Harga

Mengendalikan pengeluaran bukan berarti hidup dalam kesempitan atau menolak seluruh bentuk kesenangan. Yang dimaksud adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan di tengah situasi ekonomi yang menantang.

Dalam praktiknya, banyak pengeluaran yang sebenarnya tidak termasuk kebutuhan utama. Kebiasaan membeli makanan ringan, minuman kekinian, atau melakukan pembelian impulsif sering kali menghabiskan dana yang jumlahnya tidak sedikit apabila diakumulasi dalam satu bulan.

Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap pola konsumsi sehari-hari. Alokasikan dana terlebih dahulu untuk kebutuhan pokok seperti makanan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah mempertimbangkan pengeluaran yang bersifat pelengkap.

Beberapa kebiasaan sederhana juga dapat membantu mengendalikan pengeluaran agar keuangan keluarga tetap stabil. Misalnya, mengurangi kebiasaan membawa uang pecahan kecil dalam jumlah banyak yang sering kali lebih mudah dibelanjakan tanpa perencanaan. Demikian pula dengan penggunaan dompet digital atau e-wallet. Saldo yang tersedia sering kali mendorong seseorang melakukan pembelian secara spontan karena proses transaksi yang sangat mudah.

Tentu setiap orang memiliki metode pengelolaan keuangan yang berbeda-beda. Namun prinsip dasarnya tetap sama: menemukan jalan kemudahan di tengah tekanan ekonomi melalui kemampuan mengendalikan pengeluaran sering kali sama pentingnya dengan kemampuan memperoleh penghasilan.

Jangan Kurangi Anggaran Sedekah dan Infak

Di tengah tekanan ekonomi saat ini, ada satu hal yang seharusnya tidak dikurangi, yaitu infak dan sedekah. Tidak sedikit orang yang menjadikan sedekah sebagai pos pertama yang dipangkas ketika kondisi keuangan mulai terasa berat.

Padahal dalam pandangan Islam, sedekah bukan sekadar pengeluaran, melainkan bagian dari investasi akhirat sekaligus salah satu sebab datangnya keberkahan rezeki. Jika berbagai upaya pengelolaan keuangan merupakan ikhtiar yang bersifat duniawi, maka infak dan sedekah merupakan bagian dari ikhtiar spiritual yang menghubungkan seorang hamba dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rahasia Menemukan Jalan Kemudahan dalam Surat Al-Lail

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an tentang karakter orang-orang yang akan diberikan jalan kemudahan dalam hidupnya, termasuk saat menghadapi krisis. Allah berfirman:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.”


“Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik.”

Kemudian Allah melanjutkan:

“Maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5–7)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa terdapat tiga karakter utama yang menjadi sebab datangnya solusi dan kemudahan dari Allah:

  1. Gemar memberi. Memberi tidak selalu identik dengan harta. Memberi dapat berupa tenaga, waktu, pemikiran, perhatian, bantuan, maupun berbagai bentuk manfaat lainnya yang diberikan kepada sesama manusia.
  2. Bertakwa kepada Allah. Takwa berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedekah yang besar tidak akan sempurna apabila masih disertai dengan kebiasaan bermaksiat, menzalimi orang lain, atau mengabaikan kewajiban kepada Allah.
  3. Meyakini Al-Husna. Yaitu percaya bahwa Allah akan memberikan balasan terbaik bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Keyakinan inilah yang membuat seseorang tetap mau berbagi meskipun kondisi ekonominya sedang tidak mudah.

Ketika seseorang memiliki tiga karakter tersebut, Allah menjanjikan sesuatu yang sangat berharga, yaitu kelaparan dan kemudahan hidup.

Kemudahan yang Lebih Berharga daripada Kekayaan

Perlu dipahami bahwa kemudahan yang dijanjikan Allah tidak selalu berarti kekayaan yang melimpah. Terkadang kemudahan itu hadir dalam bentuk kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang harmonis, kecukupan kebutuhan, atau jalan keluar yang datang pada saat yang tidak disangka-sangka.

Tidak sedikit orang yang memiliki penghasilan besar tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun Allah memberikan ketenangan, keberkahan, dan kecukupan yang membuat hidupnya terasa lapang.

Karena itu, ketika menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu, seorang muslim tidak cukup hanya memperkuat strategi keuangan. Ia juga perlu memperkuat hubungan dengan Allah melalui ketakwaan, sedekah, dan keyakinan terhadap janji-Nya.

Penutup

Kondisi ekonomi yang sulit memang menuntut kebijaksanaan dalam mengelola keuangan keluarga. Menambah penghasilan dan mengendalikan pengeluaran merupakan langkah nyata yang penting untuk dilakukan. Namun, seorang muslim juga perlu menyadari bahwa keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh besarnya pemasukan, melainkan juga oleh keberkahan yang Allah berikan.

Di tengah harga-harga yang terus meningkat, jangan sampai semangat untuk berbagi justru menurun. Sebab, Allah telah mengajarkan bahwa jalan kemudahan di tengah tekanan ekonomi adalah melalui tangan yang gemar memberi, hati yang bertakwa, dan keyakinan yang kokoh terhadap balasan terbaik dari-Nya.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita semua kecukupan, keberkahan, dan jalan kemudahan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Aamiin.

Kemenag Sahkan Dua Prodi UMUKA Solo, Perkuat Identitas Kampus Muhammadiyah

Kemenag Sahkan Dua Prodi UMUKA Solo, Perkuat Identitas Kampus Muhammadiyah

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Langkah besar diambil Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA) Solo yang kini langsung bersiap mendirikan Fakultas Agama Islam setelah resmi mengantongi izin operasional untuk dua program studi keagamaan baru. Kehadiran dua jurusan ini sekaligus melengkapi total 25 pilihan prodi yang kini tersedia di kampus kebanggaan warga Karanganyar tersebut.

Izin penyelenggaraan program studi baru tersebut tertuang dalam dua Keputusan Menteri Agama (KMA) terpisah tahun 2026. Pemerintah menyerahkan keputusan ini secara kolektif kepada beberapa rektor perguruan tinggi Muhammadiyah yang hadir dalam acara penyerahan resmi tersebut.

Wakil Rektor II UMUKA, Sarilan M. Ali, mengonfirmasi kesiapan kampusnya untuk langsung mengimplementasikan mandat baru ini pada tahun ajaran terdekat. Pihak kampus bergerak cepat melakukan konsolidasi internal demi menyambut gelombang mahasiswa baru.

“Alhamdulillah hari ini Universitas Muhammadiyah Karanganyar menerima keputusan Menteri Agama Republik Indonesia tentang izin penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Hukum Keluarga Islam. Insya Allah mulai tahun akademik 2026-2027 kedua prodi ini siap menerima mahasiswa baru,” ujar Sarilan, Sabtu (13/6/2026).

Hadirnya Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Hukum Keluarga Islam (HKI) jenjang sarjana ini membawa dampak strategis bagi internal kampus. Manajemen universitas menegaskan bahwa restu Kemenag ini merupakan batu pijakan awal untuk merealisasikan rencana besar yang tertunda.

Menurut Sarilan, kehadiran dua prodi baru tersebut sekaligus menjadi langkah awal pembentukan Fakultas Agama Islam di UMUKA. Kebijakan akselerasi ini merupakan bagian dari program besar Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Muhammadiyah.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memang terus mendorong agar seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) memiliki fakultas berbasis keagamaan. Hal ini berfungsi sebagai benteng ideologis dan identitas lembaga pendidikan Islam.

“Ciri khas perguruan tinggi Muhammadiyah adalah harus memiliki Fakultas Agama Islam. Identitas utama PTMA ada pada spirit Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, pemerintah membeberkan alasan kuat di balik pemberian izin massal ini. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amin Suyitno, menyebut hadirnya prodi keagamaan di lingkungan PTMA menjadi penguat nilai inti yang menjadi karakter Muhammadiyah.

Pemerintah memandangkan ekspansi jurusan keagamaan ini sebagai penyeimbang yang krusial. Kampus swasta berbasis Islam tidak boleh hanya menonjolkan sains umum, tetapi juga wajib memperdalam akar ilmu agama secara akademik.

“Khusus di UMUKA ada dua prodi, yakni Pendidikan Agama Islam dan Hukum Keluarga Islam. Ini menjadi pelengkap karena Muhammadiyah harus memiliki prodi-prodi keagamaan yang menjadi core values-nya,” ujar Amin usai menyerahkan SK izin prodi baru.

Amin menilai keberadaan prodi keagamaan akan melengkapi berbagai program studi umum yang telah berkembang pesat. Dengan begitu, cetak biru pengembangan ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama di lingkungan Muhammadiyah dapat berjalan secara seimbang.

“Kalau di Muhammadiyah dua-duanya seimbang. Program studi umum sudah banyak, sedangkan program studi agama melengkapi. Ini menjadi ciri Muhammadiyah, ilmu umum tetap dikaji, agama juga dikaji,” jelas Amin.

Otoritas pusat tidak hanya menyerahkan berkas perizinan untuk wilayah Solo Raya. Kementerian Agama memanfaatkan momentum ini untuk melegalisasi prodi keagamaan baru di berbagai wilayah strategis dari Sumatra hingga Sulawesi.

Daftar kampus yang menerima izin serupa antara lain Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Riau, dan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Selain itu, dokumen legalitas juga jatuh ke tangan Universitas Muhammadiyah Bojonegoro, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Universitas Muhammadiyah Enrekang, hingga Universitas Muhammadiyah Jambi.

Melalui ekspansi masif ini, jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah diharapkan semakin memperkuat perannya di masyarakat. Kampus-kampus ini memegang mandat besar untuk mengintegrasikan pengembangan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai luhur keislaman.

Lestarikan Budaya, Mahasiswa UMS Bawa Congklak ke Malaysia

Lestarikan Budaya, Mahasiswa UMS Bawa Congklak ke Malaysia

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Delegasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Batch 3 melaksanakan program kerja edukatif di Sanggar Bimbingan (SB) Kelana Jaya, Malaysia, pada Jumat (5/6/2026). Kegiatan ini mengusung tema pengenalan permainan tradisional Indonesia, yakni congklak, kepada tujuh murid sanggar sebagai upaya menanamkan dan melestarikan kekayaan budaya Nusantara di tengah kehidupan diaspora.

Program inovatif ini digagas dan dilaksanakan oleh dua mahasiswa UMS, yaitu Dhini Hilyati dari Program Studi Ilmu Gizi dan Asrofi Noor Masithoh dari Program Studi Keperawatan. Melalui program kerja ini, keduanya mengajak para murid sanggar bimbingan untuk mengenal, memahami, dan memainkan congklak, sebuah warisan leluhur yang sarat akan nilai sejarah.

“Kami ingin anak-anak di sini tetap terhubung dengan akar budaya Indonesia meskipun mereka tinggal di luar negeri. Congklak adalah salah satu cara yang menyenangkan untuk memperkenalkan budaya kita kepada generasi muda,” ujar Dhini Hilyati dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Media Pembelajaran Nilai Karakter

Kegiatan dimulai dengan sesi pemaparan singkat mengenai sejarah dan makna filosofis permainan congklak. Dhini dan Asrofi menjelaskan kepada para siswa bahwa congklak bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga media pembelajaran untuk melatih nilai-nilai sosial dasar seperti kejujuran, kesabaran, dan sportivitas.

Usai pemaparan materi, anak-anak langsung diarahkan untuk mencoba bermain secara berkelompok menggunakan papan congklak yang telah disiapkan oleh mahasiswa. Suasana belajar mengajar berlangsung interaktif dan penuh keceriaan selama kurang lebih dua jam.

Asrofi Noor Masithoh menyampaikan bahwa pendekatan berbasis permainan (gamification) sengaja dipilih karena dinilai jauh lebih efektif dalam menyampaikan pesan pelestarian budaya kepada anak-anak dibandingkan dengan metode ceramah konvensional.

“Anak-anak sangat antusias dan cepat belajar. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga bertanya tentang dari mana permainan ini berasal dan kenapa kita perlu menjaganya. Itu yang membuat kami senang dan bangga,” ungkap Asrofi.

Wadah Edukasi Anak Pekerja Migran

Sanggar Bimbingan Kelana Jaya sendiri merupakan salah satu institusi pendidikan non-formal yang menjadi mitra strategis kegiatan KKN Internasional UMS di Malaysia. Sanggar ini berfungsi sebagai ruang belajar bagi anak-anak dari keluarga pekerja migran Indonesia yang bermukim di kawasan Kelana Jaya, sekaligus menjadi jembatan penting agar mereka tetap mendapatkan akses pendidikan dan pembinaan karakter yang layak.

Respons positif juga datang dari pihak internal sanggar. Syaiba, selaku pengelola Sanggar Bimbingan Kelana Jaya, menyatakan dukungan penuhnya terhadap inisiatif yang dibawa oleh delegasi mahasiswa UMS ini.

“Saya melihat anak-anak sangat senang. Dengan adanya pengenalan permainan tradisional ini, mereka dapat mengetahui dan mengenal budaya Indonesia lewat permainan yang seru,” tutur Syaiba.

Salah satu murid peserta kegiatan juga mengaku gembira karena bisa belajar dengan cara yang berbeda. Ia menyebutkan baru mengetahui bahwa congklak merupakan permainan asli dari Indonesia dan merasa senang bisa mempraktikkannya langsung bersama teman-teman.

Melalui program pengabdian ini, mahasiswa UMS berharap dapat memperkuat identitas kebangsaan serta menumbuhkan rasa cinta tanah air yang kuat di dalam diri generasi muda Indonesia, meskipun mereka tumbuh dan besar jauh dari tanah air.

(Maysali/Humas)

Tim PkM UMS Latih Kelompok Keluarga Sakinah Wonogiri Olah Jelantah

Tim PkM UMS Latih Kelompok Keluarga Sakinah Wonogiri Olah Jelantah

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar sosialisasi program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Model Integratif Pemberdayaan Ekonomi Sirkular dan Ketahanan Psikologis pada Kelompok Keluarga Sakinah di Kecamatan Wonogiri”, Rabu (10/6/2026). Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) tersebut menyasar Kelompok Keluarga Sakinah (KKS) di Desa Manjung dan Kerdukepik, Kecamatan Wonogiri.

Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., Psikolog dari Fakultas Psikologi UMS, bekerja sama dengan Dr. Siti Fatimah, S.Si., M.Sc., dari Program Studi Teknik Kimia UMS, serta Nining Sholikhah, S.E., M.Si., dari Program Studi Manajemen Perusahaan Politeknik Pratama Mulia Surakarta. Kolaborasi lintas disiplin tersebut juga melibatkan mahasiswa untuk memberikan solusi yang komprehensif bagi masyarakat.

Menjawab Tantangan Ekonomi dan Kesehatan Mental

Sri Lestari menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab berbagai persoalan berlapis yang dihadapi oleh anggota KKS. Mayoritas anggota komunitas tersebut merupakan ibu rumah tangga yang juga berperan ganda sebagai kepala keluarga sekaligus pelaku usaha ultra mikro, terutama di bidang kuliner.

“Persoalan yang mereka hadapi tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga lingkungan dan kesehatan mental. Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam program ini bersifat integratif,” ujarnya saat dimintai keterangan, Jumat (12/6/2026).

Salah satu persoalan utama di lapangan adalah pengelolaan limbah minyak goreng bekas atau jelantah. Tingginya aktivitas memasak dari usaha kuliner membuat limbah jelantah terus bertambah. Di sisi lain, penggunaan minyak goreng secara berulang juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi keluarga maupun konsumen.

Selain masalah limbah, para pelaku usaha mikro ini menghadapi tantangan dalam manajemen keuangan. Belum adanya pencatatan keuangan yang tertata membuat modal usaha dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga sering kali tercampur. Kondisi beban ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga ini dinilai rentan memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka.

Tiga Program Utama Pemberdayaan

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim pengabdian UMS menghadirkan tiga pilar program utama:

  • Pelatihan Pengolahan Limbah: Mengubah minyak jelantah menjadi sabun cuci serbaguna yang bernilai ekonomis.

  • Manajemen Keuangan & Pemasaran: Pelatihan pencatatan keuangan sederhana agar modal usaha tidak bercampur dengan uang dapur, serta strategi pemasaran digital.

  • Pelatihan Kebersyukuran: Pendampingan psikologis untuk meningkatkan kesejahteraan mental, kebahagiaan, dan pengelolaan stres dalam kehidupan sehari-hari.

Antusiasme dan Komitmen Keberlanjutan

Kegiatan sosialisasi yang berlangsung di Sekretariat KKS Kerdukepik tersebut berjalan interaktif. Perwakilan Yayasan PSA BOCAHPINTAR, Rahadi, turut hadir sebagai pendamping masyarakat sekaligus penghubung antara tim pengabdian dengan mitra. Pihak yayasan menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh keberlanjutan program yang diinisiasi oleh UMS ini.

Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang acara. Para anggota KKS aktif mencatat materi, khususnya terkait bahaya minyak goreng berulang dan teknik pemurnian awal jelantah. Uniknya, ketika pemandu acara sengaja menyampaikan informasi yang keliru sebagai bentuk tes kecil, para peserta langsung mampu mengoreksinya berdasarkan materi edukasi yang baru mereka terima.

Apresiasi besar disampaikan oleh Ambarwati, perwakilan peserta dari Desa Manjung.

“Saya mewakili peserta dari Manjung mengucapkan terima kasih atas kesempatan belajar hal baru. Kami berharap dapat menerapkan ilmu yang telah disampaikan dan mewujudkan cita-cita usaha yang kami miliki melalui program ini,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan oleh Yatini, perwakilan KKS Kerdukepik, yang merasa sangat terbantu dengan kehadiran tim pengabdian lintas disiplin ilmu ini.

Sosialisasi ini merupakan tahap awal dari rangkaian program pemberdayaan yang dijadwalkan akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan ke depan. Tim PkM UMS berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan melalui pelatihan lanjutan, monitoring, serta evaluasi berkala guna memastikan kelompok masyarakat ini dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.

(Fika/Humas)

Kesmas UMS Edukasi Orang Tua tentang Komunikasi Kesehatan Reproduksi Anak di Desa Sindon Boyolali

Kesmas UMS Edukasi Orang Tua tentang Komunikasi Kesehatan Reproduksi Anak di Desa Sindon Boyolali

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Dosen Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum, S.K.M., M.Kes., melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kantor Kepala Desa Sindon, Boyolali, pada Sabtu (30/5/2026). Kegiatan ini berfokus pada pemberian edukasi mengenai pentingnya kesehatan reproduksi anak sejak dini serta pemanfaatan teknologi digital untuk pendataan kesehatan keluarga.

Program ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara Prodi Kesmas UMS, Politeknik Assalam Surakarta, dan TK Aisyiyah Sindon. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 30 orang tua murid dari TK Aisyiyah Sindon, serta melibatkan aktif alumni dan mahasiswa Kesmas UMS dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pendampingan di lapangan.

“Pendidikan kesehatan reproduksi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua memiliki peran utama dalam membangun pemahaman anak sejak dini. Jika komunikasi tidak dibangun sejak kecil, anak berisiko mencari informasi sendiri saat dewasa dari sumber yang belum tentu benar,” ujar Tanjung dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Membangun Komunikasi Efektif dan Menepis Stigma Tabu

Dalam pemaparannya, Tanjung menekankan bahwa membahas kesehatan reproduksi bersama anak bukanlah hal yang tabu. Sebaliknya, hal ini merupakan langkah preventif yang krusial demi keselamatan dan tumbuh kembang anak. Orang tua diajarkan cara mengenalkan perbedaan fisik laki-laki dan perempuan, mengenalkan organ reproduksi dengan nama ilmiah yang benar, memberikan pemahaman tentang batasan sentuhan yang aman, serta membangun ruang komunikasi yang terbuka di dalam keluarga.

Pada sesi interaktif, para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai hambatan serta strategi menerapkan komunikasi sensitif tersebut di lingkungan rumah tangga masing-masing sesuai dengan tahapan usia anak.

Digitalisasi Data Kesehatan Anak dalam Keluarga

Selain edukasi mengenai kesehatan reproduksi, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai pentingnya memulai pendataan kesehatan secara digital sejak dini. Materi kedua ini disampaikan oleh alumni Kesmas UMS, Chayanita Sekar Wijaya, S.K.M., M.K.M.

Chayanita memberikan simulasi dan pemahaman kepada orang tua mengenai manfaat pencatatan riwayat kesehatan berbasis digital. Menurutnya, sistem digital akan memudahkan orang tua dalam memantau riwayat imunisasi, tumbuh kembang, hingga rekam medis anak secara berkelanjutan dan terintegrasi.

“Pendataan kesehatan digital diharapkan dapat membantu orang tua dalam mengakses informasi kesehatan anak secara lebih mudah dan mendukung pelayanan kesehatan yang lebih efektif,” ungkap Chayanita.

Mendorong Optimisme Orang Tua

Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang acara, ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam sesi tanya jawab mengenai taktik praktis menyikapi pertanyaan kritis anak seputar seksualitas. Melalui forum ini, para orang tua mengaku lebih optimis dan percaya diri untuk mengemban peran sebagai edukator utama kesehatan reproduksi di rumah.

Melalui agenda ini, tim Kesmas UMS berharap ada pergeseran paradigma pada orang tua murid. Tanggung jawab keluarga tidak hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan ekonomi belaka, melainkan juga mencakup pemberian pendidikan kesehatan yang tepat dan adaptif teknologi, sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat, aman, dan mandiri. (Afida/Adi/Humas)