Dukung Pemkab Sukoharjo, UMS Terjunkan Ratusan Mahasiswa KKN Tematik Kesehatan

Dukung Pemkab Sukoharjo, UMS Terjunkan Ratusan Mahasiswa KKN Tematik Kesehatan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menerjunkan 630 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2026. Program pengabdian masyarakat ini dijadwalkan berlangsung selama dua pekan, mulai 15 hingga 27 Juni 2026, di wilayah Kabupaten Sukoharjo. Langkah ini diambil sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat melalui kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), dan pemerintah desa setempat.

Sebelum resmi diterjunkan, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti acara pengarahan dan serah terima resmi yang digelar di Ruang Seminar Dr. H. Syamsudin, Lantai 8 Gedung Ahmad Syafi’i Ma’arif, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, pada Jumat (12/6/2026).

Sebaran Wilayah dan Program Studi Peserta KKN

Para mahasiswa yang berpartisipasi dalam KKN Tematik kali ini merupakan kolaborasi multidisiplin dari empat program studi di bawah naungan FIK UMS. Mereka akan disebar secara merata di puluhan titik strategis untuk menyelenggarakan program kesehatan promotif dan preventif.

  • Asal Program Studi Mahasiswa:

    • S1 Fisioterapi

    • S1 Kesehatan Masyarakat

    • S1 Ilmu Keperawatan

    • S1 Ilmu Gizi

  • Cakupan Wilayah Penempatan:

    • 56 desa dan 65 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM).

    • Tersebar di 6 kecamatan: Kartasura, Baki, Gatak, Grogol, Mojolaban, dan Polokarto.

Komitmen Kampus dan Implementasi Keilmuan

Wakil Dekan III FIK UMS, Noor Alis Setiyadi, S.KM., M.Kes., yang hadir mewakili Dekan FIK UMS, menegaskan bahwa KKN Tematik ini merupakan implementasi langsung dari visi fakultas. Kampus berkomitmen mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang berbasis pada nilai-nilai Islam demi memberikan kemanfaatan nyata bagi masyarakat luas.

“Mahasiswa kami, akan kami serahkan kepada bapak ibu sekalian. Total yang berada di lapangan sebanyak 630 mahasiswa dari empat program studi yang akan berkolaborasi bersama masyarakat dan Muhammadiyah di wilayah Sukoharjo,” ujar Noor Alis saat memberikan sambutan.

Senada dengan hal tersebut, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menekankan pentingnya momentum KKN sebagai sarana bagi mahasiswa untuk menguji dan mengimplementasikan teori perkuliahan ke dalam realitas sosial. Menurutnya, pengabdian masyarakat adalah salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus diwujudkan dalam kerja nyata.

“Ilmu yang didapat di kampus harus didekatkan dengan masyarakat. Apa yang berkembang di masyarakat juga harus ditangkap sebagai kontribusi penting untuk membangun ilmu pengetahuan. Karena itu, KKN adalah latihan pengabdian yang sesungguhnya,” tutur Harun.

Apresiasi dan Harapan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas komitmen UMS yang kembali memilih wilayah Sukoharjo sebagai lokus pelaksanaan KKN Tematik.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Tri Tuti Rahayu, S.K.M., M.Kes., yang hadir mewakili Bupati Sukoharjo, berharap kehadiran ratusan mahasiswa kesehatan ini dapat mengaselerasi program-program kesehatan yang sedang digalakkan oleh pemerintah daerah.

“Pemerintah daerah berharap mahasiswa mampu menjadi agen perubahan, agen edukasi, sekaligus mitra pemerintah desa dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat melalui berbagai program promotif dan preventif,” ungkap Tri Tuti.

Melalui program KKN Tematik 2026 ini, UMS tidak sekadar mengirimkan mahasiswa untuk memenuhi beban Satuan Kredit Semester (SKS), tetapi juga memposisikan mereka sebagai motor penggerak perubahan sosial. Sinergi yang solid antara akademisi, pemerintah daerah, organisasi Muhammadiyah, dan warga diharapkan mampu menciptakan dampak pembangunan kesehatan yang berkelanjutan di Kabupaten Sukoharjo.

Seminar Nasional PIMPEL UMS 2026: Strategi Pendidikan Berkelanjutan Tanpa Terganti AI

Seminar Nasional PIMPEL UMS 2026: Strategi Pendidikan Berkelanjutan Tanpa Terganti AI

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (HMP PTI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan Seminar Nasional Pekan Ilmiah Mahasiswa & Pelajar (PIMPEL) 2026. Kegiatan bertema “Edu-Volution: Tech for Sustainable Learning” ini digelar di Auditorium Mohammad Djazman UMS pada Kamis, 11 Juni 2026, sebagai bagian dari rangkaian PTI IT Competition Festival (PITCOMFEST).

Seminar nasional ini diinisiasi oleh Departemen Penalaran & Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) HMP PTI FKIP UMS. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa PTI UMS serta para pelajar SMA/SMK yang menjadi peserta lomba PITCOMFEST. Untuk mengupas tuntas dampak teknologi dan keberlanjutan, panitia menghadirkan narasumber terkemuka yang populer dijuluki “Presiden Gen-Z”, Rian Fahardhi.

Peran Pendidik yang Tak Tergantikan oleh AI

Ketua Panitia Seminar Nasional PIMPEL 2026, Fatta, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka wawasan baru mengenai pentingnya keberlanjutan dalam dunia pendidikan. Ia menekankan bahwa secanggih apa pun teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang, peran seorang guru tidak akan pernah bisa digantikan seluruhnya.

“Dengan diadakannya seminar nasional ini, diharapkan seluruh peserta dapat menerima informasi atau wawasan baru mengenai keberlanjutan dalam pendidikan. Sebagaimana pendidik atau guru yang menjadi prospek kerja mahasiswa PTI ini tidak akan tergantikan dan selamanya berkelanjutan & berguna di dunia ke depannya,” ujar Fatta pada Jumat (12/6/2026).

Fatta menambahkan, momentum seminar ini sangat tepat untuk mengingatkan generasi muda bahwa AI harus dipandang sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti esensi kemanusiaan dalam proses pembelajaran dan keguruan.

Konsep Learn, Unlearn, Relearn Hadapi Masa Depan

Dalam pemaparannya, Rian Fahardhi menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi disrupsi teknologi dan AI. Menurutnya, roda kehidupan manusia digerakkan oleh tiga variabel utama, yakni kepastian, kemungkinan, dan kebetulan. Di era modern, kepastian yang mutlak terjadi adalah perubahan zaman dan masifnya adopsi AI.

Oleh karena itu, Rian mengajak peserta untuk berfokus pada aspek-aspek yang berada di bawah kendali diri sendiri dengan membangun keterampilan dan kebiasaan positif. Fleksibilitas kognitif melalui tiga tahapan menjadi kunci utama:

  • Learn: Terus menyerap pengetahuan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

  • Unlearn: Berani meninggalkan atau memperbarui pemahaman lama yang sudah usang.

  • Relearn: Belajar kembali untuk menyesuaikan diri dengan ekosistem teknologi terkini.

Rian juga merinci lima aset strategis yang wajib dikembangkan oleh setiap individu agar tetap kompetitif dan siap di masa mendatang:

  1. Knowledge (Pengetahuan)

  2. Skill (Keterampilan)

  3. Network (Jaringan/Relasi)

  4. Resources (Sumber Daya)

  5. Reputation (Reputasi/Citra Diri)

Urgensi Adaptasi dan Kompetensi Unggul

Kepala Program Studi Pendidikan Teknik Informatika UMS, Sukirman, S.T., M.T., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan seminar ini. Ia menilai materi yang disampaikan menjadi pemantik penting untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa dan pelajar.

“Seminar ini memberikan peringatan dan pandangan bagi kita dalam dunia di masa yang mendatang serta membangun urgensi kita untuk lebih adaptif terhadap teknologi dan membangun keterampilan hingga terciptanya kreativitas dan kompetensi yang unggul untuk kebutuhan kerja mendatang,” ungkap Sukirman.

Melalui pelaksanaan Seminar Nasional PIMPEL 2026, para peserta diharapkan tidak hanya menjadi penonton perubahan, melainkan menjadi pribadi yang konsisten belajar, berani menghadapi kegagalan, dan siap menangkap peluang di tengah dinamika zaman.

MIM Digdaya Bolon Gelar Workshop Psikologi, Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental Guru

MIM Digdaya Bolon Gelar Workshop Psikologi, Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental Guru

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Digdaya Bolon mengambil langkah proaktif dalam menjaga kesejahteraan mental (well-being) para pendidiknya demi memastikan kualitas pendidikan yang prima bagi siswa. Langkah tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop psikologi bertema “Pesona Guru/Tendik Bahagia dan Produktif: Pendidik Solutif & Inspiratif” yang digelar di RM Royal Pring Sewu, Colomadu, pada Senin (15/06/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh guru serta tenaga kependidikan (tendik) MIM Digdaya Bolon dengan menghadirkan pakar psikologi, Hariyadi Nurwanto, sebagai narasumber utama. Pemilihan lokasi di luar lingkungan sekolah sengaja dilakukan guna memberikan suasana baru yang segar dan kondusif bagi para peserta di tengah rutinitas harian mereka.

Dalam paparannya, Hariyadi Nurwanto mengingatkan para pendidik bahwa kebahagiaan sejati kerap kali terabaikan akibat hiruk-pikuk kesibukan kerja. Beliau mengidentifikasi beberapa faktor utama yang sering merenggut kebahagiaan seorang pengajar, di antaranya adalah terjebak dalam lingkaran rutinitas yang monoton (Auto Pilot) serta memiliki pola pikir yang kaku (fixed mindset).

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan dalam workshop ini adalah prinsip bahwa “Emosi guru adalah kurikulum tersembunyi”. Hal ini bermakna bahwa kondisi batin, kestabilan emosi, dan suasana hati seorang guru akan secara otomatis menular serta diserap oleh siswa di dalam kelas, bahkan jauh melampaui materi pelajaran yang diajarkan secara tekstual.

Guna mengatasi tantangan psikologis tersebut, para guru diajak untuk memahami dan menerapkan tiga sumber kebahagiaan sejati, yaitu:

  • Hedonia: Mencari keseimbangan hidup melalui kesenangan-kesenangan yang bersifat positif.

  • Eudaimonia: Menemukan makna dan hakikat hidup yang mendalam melalui profesi mulia sebagai seorang pendidik.

  • Lillahiyyah: Menyandarkan seluruh niat, dedikasi, serta kelelahan fisik murni karena ketuhanan (Allah SWT).

Kepala MIM Digdaya Bolon, Irin Dwi Susanti, S.Pd., M.Pd., Gr., menegaskan bahwa pihak madrasah memiliki komitmen penuh terhadap kesehatan mental seluruh tenaga kependidikannya.

“Sebagai institusi yang dipercaya masyarakat, kami sadar bahwa melahirkan generasi penerus yang cerdas harus dimulai dari guru-guru yang bahagia dan selesai dengan dirinya sendiri. Dari kebahagiaan itulah, lahir pendidik-pendidik yang solutif dan inspiratif bagi anak-anak kita,” ujar Irin dalam sambutannya.

Workshop yang berlangsung secara hangat dan interaktif ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak positif bagi internal MIM Digdaya Bolon, tetapi juga mampu menginspirasi serta mewarnai ekosistem pendidikan di wilayah Colomadu dan sekitarnya agar tumbuh menjadi lingkungan belajar yang lebih maju, humanis, dan peduli pada kesejahteraan mental pendidik.

Milad ke-5 MIM AKA Mojogedang, Rektor UMS Ajak Warga Ikut AKA Fun Run 2026

Milad ke-5 MIM AKA Mojogedang, Rektor UMS Ajak Warga Ikut AKA Fun Run 2026

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan ucapan selamat atas Milad ke-5 MIM AKA Mojogedang yang diperingati pada tahun 2026. Selain memberikan ucapan selamat, Rektor UMS juga mengajak masyarakat luas untuk ikut serta menyemarakkan agenda olahraga bertajuk “AKA Fun Run 2026”.

Momentum lima tahun ini dinilai sebagai penanda penting bagi perjalanan lembaga pendidikan tersebut dalam memperkuat pendidikan Islam yang unggul dan berkarakter di tengah masyarakat. Harun memberikan apresiasi tinggi atas berbagai inovasi yang telah dilakukan oleh MIM AKA Mojogedang selama lima tahun terakhir. Menurutnya, konsistensi sekolah dalam membangun karakter peserta didik menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan di masa depan.

Ia berharap MIM AKA Mojogedang dapat terus berkembang menjadi episentrum pendidikan yang mampu melahirkan generasi berakhlak mulia, berprestasi, serta adaptif terhadap gerak perubahan zaman.

“Selamat Milad ke-5 untuk MIM AKA Mojogedang. Semoga semakin maju, semakin unggul, dan terus melahirkan generasi yang berakhlak mulia serta berdaya saing,” ujar Harun, Kamis (11/6/2026).

Sebagai bagian dari rangkaian perayaan milad, MIM AKA Mojogedang dijadwalkan menggelar AKA Fun Run 2026 pada Minggu, 21 Juni 2026. Kegiatan ini akan dipusatkan di lingkungan sekolah yang beralamat di Pendek RT 04/RW 04, Mojogedang, Karanganyar, Jawa Tengah.

Acara tersebut dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan olahraga pemacu kebugaran fisik, melainkan juga sebagai ruang silaturahmi terbuka sekaligus kampanye gaya hidup sehat bagi siswa, orang tua, hingga masyarakat sekitar.

Melihat pentingnya esensi acara ini, Rektor UMS turut mengajak seluruh elemen Muhammadiyah, civitas academica, alumni, hingga masyarakat Karanganyar untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Ia menekankan bahwa kegiatan positif yang dikemas dalam kebersamaan ini memiliki nilai kemanfaatan yang besar.

“AKA Fun Run ini bukan sekadar olahraga, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan membangun semangat kolaborasi di tengah masyarakat,” pungkasnya. (Maysali/Humas)

Lawu Bukan Papua Berikutnya: Lawan Kolonialisme Berkedok PLTP!

Lawu Bukan Papua Berikutnya: Lawan Kolonialisme Berkedok PLTP!

Penulis:

Akhmad Zaki Musthofa
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (NIM 1524007)
Universitas Muhammadiyah Karanganyar

Cukup! Kita sudah terlalu sering jadi penonton perampokan yang dibungkus kata “pembangunan”.

Acara nonton bareng (nobar) film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” pada Jumat malam di Parkiran Masjid Al Mukarromah itu bukan sekadar hiburan. Itu adalah sirene bahaya bagi kita semua. Film karya Dandhy Laksono & Cypri Dale tersebut membongkar cara licik korporasi merampas tanah Papua: datang membawa janji listrik, lapangan kerja, dan kemajuan. Namun saat mereka pergi? Yang tersisa hanyalah hutan gundul, air beracun, dan tatanan adat yang hancur.

Dan sekarang, pola busuk eksploitasi tersebut mau dipraktikkan di rumah kita sendiri: Gunung Lawu.

Atas nama “transisi energi bersih”, perut Gunung Lawu kini mau dibor untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Pertanyaannya: proyek energi bersih ini sebenarnya bersih untuk siapa? Apakah bersih untuk warga Tawangmangu yang terancam kehabisan air bersih? Untuk para petani Jenawi yang sawahnya bisa kering karena mata air mati? Atau justru hanya bersih untuk laporan laba perusahaan dan pejabat yang menandatangani izin?

Jangan mau dibodohi! Transisi energi yang membunuh sumber air masyarakat bukan sebuah solusi. Itu adalah bentuk kolonialisme gaya baru. Dulu VOC datang membawa kedok perdagangan, sekarang korporasi datang membawa mesin bor. Sama-sama merampas, dan sama-sama mengusir kita dari tanah kelahiran kita sendiri. Itulah alasan kuat mengapa kita harus tegas tolak PLTP Lawu.

Dampak PLTP Lawu dan Ancaman Krisis Lingkungan

Para tokoh seperti David Efendi, Aan Shopuanuddin, dan Wishnu Try Utomo sudah mengingatkan kita dalam diskusi kemarin: proyek PLTP itu bersifat ekstraktif. Risiko nyata dari aktivitas penambangan panas bumi ini sangat mengerikan — mulai dari potensi longsor, gempa mikro, hingga krisis air bersih yang berkepanjangan.

Sekali bentang alam Lawu jebol, seluruh masyarakat di satu eks-Karisidenan Surakarta ikut menanggung akibatnya. Jika hal buruk itu terjadi, anak cucu kita mau minum apa? Dan ketika tanah longsor melanda, siapa yang akan menjadi korban?

Muhammadiyah sejak awal mengajarkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Diam saat alam dirusak secara nyata adalah sebuah kemunkaran. Diam saat rakyat kecil digusur dengan dalih pembangunan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Papua sudah menjadi korban nyata dari eksploitasi berkedok kemajuan. Jangan tunggu sampai Gunung Lawu menjadi kuburan ekologis berikutnya baru kita berani berteriak.

Seruan Pemuda Karanganyar: Jihad Ekologis Menjaga Lawu

Karena itu, wahai seluruh anak muda dan aktivis Karanganyar: LAWAN!

Mari kita tolak PLTP Lawu dan lawan narasi sesat yang menganggap bahwa kritik terhadap proyek PLTP sama dengan anti-kemajuan. Kemajuan macam apa yang tega mengorbankan nyawa dan ruang hidup rakyat? Jaga Lawu bukan sekadar romantisme masa lalu. Bagi kita, gerakan menjaga Lawu adalah sebuah jihad ekologis. Ini bukan lagi soal pilihan, melainkan soal hidup dan mati kita bersama.

Kalau hari ini kita memilih diam, besok kita cuma bisa menonton keindahan Gunung Lawu dari selembar foto sambil meratap, “Dulu, di sini pernah ada mata air yang jernih.”

Energi boleh saja diklaim sebagai energi hijau, tapi kalau cara mendapatkannya harus menindas rakyat kecil dan merusak alam, itu tetaplah sebuah PENJAJAHAN.

Tolak PLTP Lawu. Titik!