Gandeng Lembaga Fatwa Al-Azhar Mesir, Mahasiswa MHES UMS Bedah Fatwa Kripto hingga Haji

Gandeng Lembaga Fatwa Al-Azhar Mesir, Mahasiswa MHES UMS Bedah Fatwa Kripto hingga Haji

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Program Studi Magister Hukum Ekonomi Syariah (MHES) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kegiatan diseminasi hasil riset mahasiswa pada Sabtu (4/7/2026) di Ruang Seminar Pascasarjana. Agenda akademik ini menghadirkan Sekretaris Lembaga Fatwa Al-Azhar Mesir, Dr. Abdel Halim Khattab, yang terlibat aktif mendiskusikan fatwa kontemporer secara daring.

Forum ini menjadi ruang dialog strategis antara Darul Ifta Republik Arab Mesir dengan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk saling bertukar pengalaman sekaligus mendiskusikan metodologi perumusan fatwa modern.

Kepala Program Studi MHES UMS, Dr. Isman, SHI., SH., M.H., menjelaskan bahwa perkembangan zaman menuntut fatwa tidak hanya menjawab persoalan hukum Islam klasik, tetapi juga mampu merespons isu ekonomi, teknologi, hingga financial technology (fintech).

“Fatwa di era saat ini telah berhadapan dengan persoalan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, pertukaran pengalaman antarinstitusi dan lembaga-lembaga fatwa besar menjadi kebutuhan ilmiah yang sangat penting,” ujar Isman. Ia berharap forum ini dapat memperkaya perspektif akademik sekaligus memperkuat metodologi perumusan fatwa yang relevan dengan dinamika masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa MHES mempresentasikan sejumlah hasil penelitian terhadap fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Salah satunya dipaparkan oleh Sahman, Lc., yang mengkaji fatwa mengenai kebolehan penyembelihan dam di luar Tanah Haram bagi jemaah haji Indonesia.

Merespons pertanyaan Dr. Abdel Halim Khattab mengenai dasar hukum dan kaitannya dengan empat mazhab fikih, Sahman menjelaskan bahwa Majelis Tarjih Muhammadiyah menggunakan pendekatan kemaslahatan. Meski bukan pendapat resmi (mu’tamad) para imam mazhab, terdapat sejumlah ulama dari mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Maliki yang memberikan ruang kebolehan dalam kondisi tertentu.

“Dengan jumlah jemaah Indonesia yang sangat besar, penyembelihan di Tanah Haram berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dan distribusi daging yang kurang optimal. Apabila dilakukan di Indonesia, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan,” jelas Sahman.

Selain isu haji, diseminasi ini juga membedah regulasi keuangan digital. Muhammad Arsyad Arifi, Lc., mempresentasikan riset berjudul Al-Mal Al-Mutaqawwam fi Fatwa At-Tarjih bi Sya’ni Kripto Dirasatan Ta’siliyatan, yang mengkaji konsep harta dalam Fatwa Tarjih Muhammadiyah terkait cryptocurrency (aset kripto).

Melalui kajian tersebut, ditemukan bahwa Muhammadiyah mengembangkan konsep harta yang bersifat kontemporer sehingga mampu mengakomodasi muamalah modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cryptocurrency dipandang sebagai mal (harta) dalam Fatwa Tarjih, namun penggunaannya wajib memenuhi syarat ketat yang telah ditetapkan.

“Penggunaan cryptocurrency diperbolehkan selama memenuhi ketentuan syariah, di antaranya tidak digunakan untuk aktivitas yang diharamkan, terbebas dari praktik skema ponzi maupun piramida, serta syarat mekanisme transaksi yang terbebas dari skema terlarang,” pungkas Arsyad.

Di Australia, Dosen UMS Dorong Sinergi Inovasi Global dan Pemberdayaan Desa

Di Australia, Dosen UMS Dorong Sinergi Inovasi Global dan Pemberdayaan Desa

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Dosen Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc., menjadi pembicara dalam forum diskusi internasional di University of Queensland (UQ), Australia, pada 23 Mei 2026. Forum bertajuk “From Global Insight to Local Impact: Bridging Knowledge with Grassroots Realities in Indonesia” ini menyoroti pentingnya menerjemahkan riset dan pengetahuan global menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat akar rumput di Indonesia.

Acara yang diinisiasi oleh Kopikir Indonesia bersama UQ Indonesian Student Association tersebut dihadiri oleh mahasiswa, peneliti, dan akademisi Indonesia dari berbagai perguruan tinggi di negara bagian Queensland.

Dalam paparannya, Hardika menekankan bahwa akses terhadap teknologi dan pengetahuan berskala global harus diimbangi dengan pemahaman kuat terhadap kondisi riil masyarakat. Menurutnya, inovasi akademik dari ruang kelas dan laboratorium hanya akan berdampak luas jika mampu menjawab kebutuhan konkret di lapangan.

“Banyak inovasi lahir dari ruang kelas, laboratorium, dan pusat riset. Namun tantangan sesungguhnya adalah bagaimana inovasi tersebut dapat hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Di situlah pentingnya menjembatani pengetahuan global dengan realitas lokal,” ujar Hardika saat dikonfirmasi pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Sebagai akademisi, Hardika menilai perguruan tinggi mengemban peran strategis untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial. Ia membagikan pengalamannya memimpin Desamind Indonesia, sebuah organisasi yang fokus pada pengembangan kapasitas pemuda desa melalui pendekatan local heroes.

Melalui ragam program seperti literasi digital, pendidikan, dan pendampingan inisiatif sosial, Desamind bergerak aktif menjadi jembatan transfer pengetahuan dari dunia kampus ke masyarakat pedesaan.

“Desamind percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari pusat. Perubahan dapat tumbuh dari desa ketika anak muda diberi ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan memimpin solusi bagi lingkungannya sendiri,” tambah Hardika.

Diskusi yang berlangsung dinamis dari berbagai disiplin ilmu tersebut melahirkan kesepahaman mengenai pentingnya collective impact—sebuah sinergi lintas sektor antara akademisi, peneliti, komunitas, pemerintah, dan organisasi sosial guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Apresiasi tinggi datang dari Ketua Kopikir Indonesia, Hardo. Ia menilai rekam jejak Hardika sebagai dosen sekaligus pegiat pemberdayaan masyarakat memberikan perspektif baru yang sangat relevan bagi para pelajar Indonesia di luar negeri.

“Terima kasih telah berbagi bersama kami. Diskusi ini membuka perspektif baru tentang bagaimana pengalaman global dapat diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia, khususnya di tingkat akar rumput,” pungkas Hardo.

Internasionalisasi FHIP UMS: Lima Mahasiswa Ikuti Sit In Class di Ton Duc Thang University Vietnam

Internasionalisasi FHIP UMS: Lima Mahasiswa Ikuti Sit In Class di Ton Duc Thang University Vietnam

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat komitmennya dalam internasionalisasi pendidikan di kancah global. Langkah ini dibuktikan melalui pengiriman lima mahasiswa FHIP UMS untuk mengikuti program sit in atau class immersion di Fakultas Hukum Ton Duc Thang University (TDTU), Vietnam, pada 9-14 Juni 2026 lalu.

Dalam program strategis ini, kelima mahasiswa didampingi oleh tiga dosen FHIP UMS, yaitu Dr. Syaifuddin Zuhdi, S.H.I., M.H.I., Hanifah Febriani, S.H., LL.M., dan Muhammad RM Fayasy Failaq, S.H., M.H. Kehadiran para dosen pendamping tersebut bertujuan untuk memastikan seluruh aktivitas akademik berjalan optimal demi memperluas wawasan mahasiswa mengenai sistem hukum internasional.

Selama berada di TDTU, delegasi UMS terlibat aktif dalam berbagai kegiatan akademik, seperti mengikuti perkuliahan Vietnamese Criminal Procedure Law dan Vietnamese Contract Law. Selain di dalam kelas, mereka juga melakukan campus tour serta mengunjungi Inspire Library TDTU untuk mempelajari sistem pengelolaan perpustakaan modern dan memanfaatkan fasilitas ruang audio visual.

Dalam sesi perkuliahan Vietnamese Contract Law, mahasiswa FHIP UMS membaur dengan mahasiswa setempat untuk berdiskusi kelompok dan mensimulasikan penyelesaian perkara. Momentum ini digunakan kedua belah pihak untuk saling berbagi perspektif mengenai perbandingan penerapan hukum kontrak antara Indonesia dan Vietnam.

Dosen pendamping FHIP UMS, Hanifah Febriani, S.H., LL.M., menilai bahwa pengalaman akademik internasional seperti ini merupakan bekal krusial bagi mahasiswa hukum dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memperluas jaringan internasional dan memperoleh perspektif baru yang berbeda dari pengalaman belajar di Indonesia,” jelas Hanifah.

Senada dengan hal tersebut, salah satu mahasiswa peserta program, Raffi Abhyasa Saputra, mengakui bahwa international exposure ini memberikan pengalaman akademik dan budaya yang sangat bernilai.

“Program ini memberikan perspektif baru yang sangat bermanfaat bagi pengembangan diri saya sebagai mahasiswa hukum,” tutur Raffi pada Sabtu (4/7/2026). Ia menambahkan bahwa interaksi intensif selama program turut mengasah kemampuan komunikasi bahasa Inggris serta memperluas jejaringnya.

Apresiasi tinggi juga datang dari pihak tuan rumah. Vice Dean Faculty of Law TDTU, Chau Bao Anh, menyambut baik partisipasi aktif dari delegasi FHIP UMS. Pihaknya berharap peluang kerja sama akademis antara kedua institusi dapat terus dirawat dan dikembangkan secara berkelanjutan di masa depan.

Program sit in class ini merupakan implementasi nyata dari kesepakatan kerja sama antara FHIP UMS dan Ton Duc Thang University yang telah dirancang sejak tahun lalu. Kolaborasi erat ini menjadi bagian dari visi besar kedua universitas dalam memperkuat kemitraan internasional di bidang pendidikan, penelitian, serta pertukaran akademik.

UMS Buka Kampus Kedua di Bali, Siapkan Lulusan Berdaya Saing Internasional

UMS Buka Kampus Kedua di Bali, Siapkan Lulusan Berdaya Saing Internasional

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi memperluas jangkauan pendidikan tingginya ke Pulau Dewata dengan membuka kampus kedua bernama BIM University di Bali. Kehadiran kampus baru ini menjadi langkah strategis UMS dalam memperkuat internasionalisasi sekaligus mencetak talenta digital yang siap menghadapi tantangan industri global.

Langkah ekspansi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang terampil di era digital dengan mengintegrasikan ekosistem pembelajaran yang adaptif dan modern.

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa pendirian BIM University merupakan bagian dari visi besar pengembangan jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah, khususnya UMS, untuk menjadi institusi yang berdaya saing di kancah internasional.

“BIM University akan menyokong internasionalisasi pendidikan,” ujar Prof. Harun Joko Prayitno pada Sabtu (4/7/2026).

Dalam operasionalnya, BIM University dirancang untuk menyatukan keterampilan teknologi informasi, praktik industri, dan kewirausahaan. Mahasiswa tidak hanya dibekali teori akademis, melainkan juga pengalaman praktis langsung seperti pemrograman (coding), penerapan teknologi industri, program magang, hingga pendampingan dalam membangun startup.

Terdapat tiga kompetensi utama yang menjadi fokus desain pembelajaran di kampus ini. Pertama, Information Technology Skills yang mencakup penguasaan coding, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga cybersecurity. Kedua, Industry Skills yang menekankan rekayasa dan otomasi industri. Ketiga, Entrepreneur Skills untuk membangun karakter wirausaha berbasis teknologi.

Pendekatan operasional kampus mengusung konsep APIM Campus, yaitu Adaptive, Progressive, Innovative, dan Modern Campus. Melalui konsep ini, BIM University menerapkan kurikulum fleksibel yang berbasis proyek (project-based learning), kolaboratif, serta didukung oleh sistem pembelajaran hybrid agar mahasiswa sensitif terhadap persoalan global dan siap berinovasi.

Guna mendukung visi tersebut, saat ini BIM University resmi membuka tujuh program studi strategis, antara lain Bisnis Digital, Kewirausahaan, Manajemen, Teknologi Pangan, Sistem Informasi, Informatika, dan Hukum.

Untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan kompetitif, pihak kampus juga menyediakan dua pilihan jalur kelas, yakni Regular Class dan International Class, yang menawarkan perspektif serta pengalaman belajar berskala global bagi para mahasiswa.

UMS Raih Pendanaan Rp1,4 Miliar dari Finlandia untuk Proyek Green Skills dan IoT

UMS Raih Pendanaan Rp1,4 Miliar dari Finlandia untuk Proyek Green Skills dan IoT

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mencatatkan prestasi gemilang di panggung internasional. Program Studi Teknik Informatika dan Magister Teknik Informatika UMS resmi terpilih sebagai mitra dalam proyek global “Sustainable IoT and Software Engineering Education for Green Skills” yang berhasil mengamankan pendanaan sebesar 72.000 Euro atau setara dengan Rp1,4 miliar.

Dana hibah tersebut diperoleh melalui Team Finland Knowledge (TFK) Programme 2026, sebuah skema pendanaan prestisius yang dikelola oleh Finnish National Board of Education. Melalui proyek ini, UMS akan berkolaborasi dengan dua perguruan tinggi terkemuka di Finlandia, yaitu LUT University dan University of Turku, guna mengembangkan kurikulum berbasis teknologi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pencapaian ini diraih UMS melalui proses seleksi kompetitif yang sangat ketat. Pada kompetisi TFK Programme 2026, tercatat ada 152 proposal yang diajukan dari berbagai negara dengan total nilai pengajuan mencapai lebih dari 10,9 juta Euro. Namun, hanya 26 proyek terbaik yang dinyatakan lolos untuk mendulang total alokasi dana hibah sebesar 1.665.832 Euro.

Kepala Program Studi Teknik Informatika dan Magister Teknik Informatika UMS, Dedi Gunawan, S.T., M.Sc., Ph.D., mengungkapkan bahwa pendanaan internasional ini menjadi momentum krusial bagi UMS untuk terus mendongkrak mutu pendidikan dan intensitas riset global.

“Kolaborasi ini akan memperkuat kurikulum, meningkatkan kapasitas dosen, membuka peluang riset bersama, serta memperluas jejaring internasional yang dapat memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa maupun institusi,” ujar Dedi pada Jumat (3/7/2026).

Sekretaris Program Studi Internasional Teknik Informatika UMS, Arini Nur Rohmah, S.Kom., M.Sc.Tech

Sekretaris Program Studi Internasional Teknik Informatika UMS, Arini Nur Rohmah, S.Kom., M.Sc.Tech

Sementara itu, Sekretaris Program Studi Internasional Teknik Informatika UMS, Arini Nur Rohmah, S.Kom., M.Sc.Tech., menilai pencapaian ini sebagai bukti pengakuan dunia terhadap kapasitas akademik UMS. Kemitraan ini diproyeksikan mampu mencetak talenta digital yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap konsep green skills yang kini marak dibidik industri global.

“Mahasiswa nantinya akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih internasional melalui pengembangan kurikulum, kolaborasi akademik, hingga peluang pertukaran pengetahuan dengan mitra di Finlandia,” jelas Arini. Ia menambahkan bahwa fokus utama proyek ini adalah menerapkan rekayasa perangkat lunak dan IoT yang mendukung efisiensi energi, keberlanjutan lingkungan, serta transformasi digital yang bertanggung jawab.

Program Team Finland Knowledge sendiri dirancang oleh Pemerintah Finlandia untuk mempererat kemitraan akademik dengan institusi pendidikan tinggi di kawasan strategis, termasuk Asia Tenggara. Hibah internasional ini dijadwalkan berjalan mulai 1 Agustus 2026 hingga 31 Desember 2028.

Keikutsertaan UMS dalam proyek jangka panjang ini sekaligus mempertegas komitmen universitas dalam mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada pilar Pendidikan Berkualitas (SDG 4), Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (SDG 9), serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDG 17).