Jaga Sinergitas, UMS Ajak Insan Pers Solo Raya Refleksi Diri di Bulan Ramadan

Jaga Sinergitas, UMS Ajak Insan Pers Solo Raya Refleksi Diri di Bulan Ramadan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar buka puasa bersama wartawan dari berbagai media se-Solo Raya pada Senin (16/3) bertempat di RM Rasa Mirasa. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat komunikasi antara kampus dan insan pers yang selama ini menjadi mitra dalam penyebaran informasi kepada masyarakat.

Acara diawali dengan tausiyah yang disampaikan Wakil Rektor III, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., yang mengangkat tema pentingnya menjaga hati sebagai pusat kendali perilaku manusia. Ia menegaskan bahwa kualitas hati menentukan baik buruknya tindakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tausiyahnya, ia mengutip hadis HR Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang menjadi penentu baik atau buruknya seluruh perilaku manusia. Jika segumpal daging itu baik maka seluruh tubuh akan baik, dan jika rusak maka seluruh perilaku juga akan rusak.

Menurutnya, kerusakan hati dapat dipicu oleh berbagai hal seperti dosa dan maksiat, rasa dengki, ghibah, serta kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Karena itu, menjaga hati menjadi hal penting agar manusia tetap berada dalam jalan yang benar dan memiliki kejernihan dalam menilai setiap tindakan.

Ia menjelaskan bahwa menjaga hati dapat dilakukan melalui berbagai amalan seperti memperbanyak dzikir dan istighfar, menjauhi maksiat, memperbanyak sedekah, bergaul dengan orang saleh, serta menghadiri majelis ilmu. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, dapat menjadi fondasi moral bagi setiap individu dalam menjalankan aktivitasnya di tengah kehidupan sosial.

Mutohharun Jinan juga mengutip pandangan ulama besar dalam tradisi Islam, seperti Al-Ghazali, yang membagi kondisi hati manusia menjadi tiga, yakni hati yang mati (qolbun mayyit), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang selamat (qolbun salim). Hati yang bersih dan selamat menjadi tujuan yang perlu dijaga agar manusia dapat menjalani kehidupan dengan nilai-nilai kebaikan.

Setelah tausiyah, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum, Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi kepada wartawan Solo Raya yang selama ini berperan sebagai ujung tombak dalam peliputan berbagai aktivitas dan perkembangan UMS.

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum bersama Wakil Rektor bidang III, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag.. dan Kepala Sekretariat UMS, Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D., CPA (Aust), menghadiri agenda buka bersama media pers se-Solo Raya

Harun menyebut media sebagai mitra strategis kampus dalam membangun reputasi dan memperluas jangkauan informasi kepada masyarakat. Ia berharap hubungan kemitraan antara UMS dan wartawan dapat terus terjaga melalui komunikasi yang baik serta kerja sama yang saling menguatkan.

Melalui kegiatan buka puasa bersama ini, UMS ingin menjaga hubungan kemanusiaan (human relations) dengan para jurnalis sekaligus memperkuat sinergi dalam penyebaran informasi yang positif, kredibel, dan bermanfaat bagi masyarakat luas. (ARP/Humas)

UMS Buka Pendaftaran KKN MAs 2026, Fokus pada Ketahanan Pangan

UMS Buka Pendaftaran KKN MAs 2026, Fokus pada Ketahanan Pangan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah – ‘Aisyiyah (KKN MAs) 2026 dengan mengangkat tema “KKN MAs Berdampak: Mewujudkan Desa Berkemajuan Berbasis Ketahanan Pangan dan Penguatan Potensi Lokal.” Program ini merupakan kegiatan konsorsium bersama seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia yang diselenggarakan secara bergilir oleh berbagai kampus Muhammadiyah.

KKN Mas Berdampak ini akan dilaksanakan mulai 27 Juli-11 September 2026 bertempat di Malang, Jawa Timur, hanya untuk 50 mahasiswa terpilih. Pendaftaran telah dibuka dan akan ditutup pada 18 April 2026.

Direktur Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra KI (DRPPS) UMS, Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D.

Direktur Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra KI (DRPPS) UMS, Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa partisipasi UMS dalam program ini merupakan bagian dari komitmen PTMA untuk memperkuat sinergi dalam pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, KKN MAs bukan sekadar kegiatan pengabdian biasa, melainkan forum kolaboratif antar mahasiswa PTMA dari berbagai daerah.

“Program KKN MAs adalah program konsorsium bersama semua Perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah/PTMA yang diselenggarakan bergilir, yang sebelumnya di UM Riau, UMS, UM Bangka Belitung, UM Makassar, dan sebelumnya lagi di UM Mataram,” jelasnya, Senin (16/3).

Meskipun penyelenggaraan kegiatan tahun ini berada di kampus lain, UMS tetap memiliki peran strategis dalam pelaksanaan program tersebut. Sarjito menyampaikan bahwa UMS tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga terlibat dalam struktur kepanitiaan pusat yang mengarahkan jalannya program.

“Peran UMS sebagai Panitia pusat KKN MAs, sbg inisiator, steering committee, pengarah sekaligus sbg kontributor,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program KKN lintas PTMA memberikan banyak manfaat, terutama dalam pembentukan karakter, kemampuan sosial, serta kesiapan menghadapi kehidupan di masyarakat.

Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai daerah juga menjadi ruang belajar yang penting bagi pengembangan perspektif kebangsaan dan keumatan.

“Manfaat mahasiswa memperoleh soft skill, bermasyarakat, belajar memecahkan masalah yang dibutuhkan masyarakat, memberdayakan masyarakat, bekal mental di dunia nyata setelah lulus,” ujar Sarjito.

Bagi mahasiswa UMS yang ingin mengikuti program ini, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satu kriteria utama adalah capaian akademik yang baik, sebagai indikator kesiapan mahasiswa dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

“Di leafletnya, kami mencantumkan persyaratan mahasiswa minimal semester 5. IPKnya minimal 3.00, lulus tes baca tulis Al-Qur’an LPPIK UMS, aktif berorganisasi, dan mendapat persetujuan dari prodi,” jelasnya.

Pada pelaksanaan tahun ini, KKN MAs mengangkat tema ketahanan pangan dan penguatan potensi lokal. Tema tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam mengembangkan kemandirian pangan berbasis potensi daerah. Untuk memastikan mahasiswa mampu berkontribusi secara nyata, UMS akan memberikan berbagai pembekalan sebelum keberangkatan.

“Sebelum terjun mahasiswa akan diberikan pembekalan, melibatkan kepala daerah setempat, lurah, camat, bupati, gubernur, Kementerian Diktisaintek dan panitia, juga rektor setempat,” terangnya.

Melalui program ini, UMS berharap dapat mengirimkan mahasiswa terbaik yang tidak hanya memiliki kapasitas akademik, tetapi juga kepekaan sosial dan kemampuan beradaptasi di tengah masyarakat. Pengalaman KKN lintas daerah diharapkan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam menghadapi kehidupan setelah lulus.

“Terpilih mahasiswa yang mumpuni, pelaksanaannya lancar, berdampak positif pada masyarakat dan mahasiswa mendapatkan pengalaman baik, untuk bekal pada kehidupan nyata,” pungkasnya. (Adi/Humas)

Lawan Kekerasan Gender Berbasis Online, IMM UMS Bekali Mahasiswa Literasi Digital

Lawan Kekerasan Gender Berbasis Online, IMM UMS Bekali Mahasiswa Literasi Digital

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Adam Malik Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan komisariat Averroes Fakultas Teknik (FT) UMS sukses menyelenggarakan serangkaian acara dalam memperingati Milad IMM ke-62. Salah satu diantaranya dengan menggelar Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) sebagai upaya menciptakan ruang digital yang aman dan beradab.

IMM membedah fenomena Kekerasan Dalam materi yang disampaikan oleh Dr. Marisa Kurnianingsih, S.H., M.H., M.Kn., dengan menekankan bahwa KBGO merupakan ancaman nyata yang telah banyak menyerang 75% perempuan di ruang digital. Fenomena ini mencakup berbagai bentuk mulai dari cyberstalking, cyber harassment/ancaman pemerkosaan, sexting (pemasangan gambar telanjang melalui pesan teks), creepshots (pengambilan gambar atau video seseorang Untuk tujuan seksual), sexploitation, peretasan (hacking), hingga revenge porn dan doxing.

Ketua panitia Thoriq Saiful Muhsinin mengatakan, seminar ini menggarisbawahi peran strategis mahasiswa dalam menanggulangi Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), di mana Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) secara aktif mendorong kader-kadernya untuk menerapkan prinsip “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” di dunia maya.

“Implementasi nilai-nilai tersebut dimulai dari kesadaran individu untuk menjaga aurat serta privasi karena adanya keyakinan akan “sadar hisab,” yaitu pemahaman bahwa setiap aktivitas akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, menjaga akhlak dan lisan serta senantiasa melakukan tabayyun menjadi fondasi utama dalam berinteraksi di ruang siber,” kata Thoriq, Senin (16/3).

Kesadaran spiritual tersebut, lanjutnya, diwujudkan melalui etika bermedia yang konkret, seperti menjaga lisan maupun ketikan serta menghormati hak privasi orang lain. Alih-alih terjebak dalam konflik digital, mahasiswa diarahkan untuk memanfaatkan media secara produktif demi menyebarkan kebaikan. Lebih jauh lagi, peran mahasiswa meluas hingga pada aspek pendampingan korban. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi sosok pendamping yang empatik dengan menjaga kerahasiaan korban secara ketat serta berkomitmen penuh untuk tidak melakukan menyalahkan korban dalam kondisi apapun.

Salah satu poin utama dalam materi adalah pentingnya sikap asertif bagi korban.
“Banyak kasus KBGO terjadi berulang karena ketidakmampuan korban untuk bersikap tegas,” ungkap Marisa.

Peserta diajak untuk mengenali hak-hak mereka, berani memberi peringatan kepada pelaku, hingga melakukan pelaporan resmi kepada pihak berwenang. Sikap asertif bukan hanya tentang membela diri saat ini, tapi juga tentang melindungi masa depan.

“Saya tidak setuju jika penyimpangan seksual dianggap sebagai bagian dari HAM karena secara fenomena terkadang itu melanggar hak orang lain juga, namun di sisi lain, saya juga tidak membenarkan jika mereka menjadi sasaran perundungan (bullying),” tegas Marisa dalam paparannya.

Ia menjelaskan bahwa tindakan perundungan bukan merupakan solusi, mengingat latar belakang seseorang bisa jadi sangat kompleks. Menurut Marisa, ada kemungkinan mereka adalah korban di masa lalu yang hanya diam dan memendam masalah tersebut tanpa adanya perlawanan, hingga akhirnya trauma tersebut membentuk mereka menjadi pelaku di masa depan.

Oleh karena itu, Marisa berpesan agar masyarakat memberikan dukungan kepada para korban untuk berani memberikan perlawanan, baik melalui suara (speak up) maupun tindakan fisik yang diperlukan.

“Korban harus didukung untuk melawan dengan cara apa pun agar mereka tidak terus-menerus menjadi korban dan tidak mengulangi pola yang sama di masa depan,” pungkasnya.

Ia juga menegaskan bahwa selain memberikan sanksi kepada pelaku, masyarakat harus mulai berfikir bahwa pemulihan korban menjadi prioritas utama agar korban dapat kembali hidup normal dan dapat memutus rantai kekerasan.

Di akhir pertemuan, Thoriq Saiful Muhsinin menyatakan bahwa seminar yang dilaksanakan pada 8 Maret 2026 itu menegaskan bahwa KBGO bukan sekadar masalah teknis, melainkan ancaman nyata yang memiliki dampak serius bagi kesehatan mental, mulai dari trauma digital hingga penurunan kualitas hidup.

“Sebagai langkah preventif, seminar ini merumuskan dua pilar utama yang saling terintegrasi, dimulai dari aspek pencegahan melalui pengamanan data pribadi, tindakan interaksi dengan akun mencurigakan, serta edukasi berkelanjutan mengenai peraturan hukum yang berlaku,” kata Thoriq.

Pilar pencegahan tersebut kemudian dilengkapi dengan protokol penanganan yang sistematis bagi korban, yakni melakukan dokumentasi bukti kekerasan sebagai langkah hukum, memblokir akses pelaku untuk memutus rantai mengungkap, dan mencari bantuan pendampingan profesional guna pemulihan kondisi mental. (Maysali/Humas)

Upaya UMS Tingkatkan Mutu Akademik Jelang Akreditasi Institusi 2026

Upaya UMS Tingkatkan Mutu Akademik Jelang Akreditasi Institusi 2026

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar rapat koordinasi guna memperkuat persiapan menghadapi Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026. Rapat tersebut dilaksanakan pada Senin (16/3) di Ruang Sidang BPH, Gedung Induk Siti Walidah lantai 6.

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan universitas, mulai dari rektor, para wakil rektor, kepala badan dan biro, hingga para ketua program studi, sekretaris program studi, serta unit jaminan mutu dari berbagai jenjang program pendidikan di lingkungan UMS.

Rektor UMS, Prof. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa persiapan AIPT merupakan kerja kolektif seluruh elemen universitas. Ia menyampaikan bahwa upaya peningkatan kualitas institusi tidak dapat dilakukan secara individual, melainkan membutuhkan kolaborasi semua unit dan program studi.

Menurutnya, hasil rapat sebelumnya mencatat sejumlah poin penting yang perlu segera ditindaklanjuti bersama oleh fakultas dan program studi. Hal tersebut terutama berkaitan dengan kelengkapan data akademik, pelibatan dosen dalam kegiatan pembelajaran, serta sinkronisasi laporan yang menjadi bagian dari proses akreditasi institusi.

“Universitas tidak bisa bekerja sendiri. Ini adalah kerja bersama. Semua pihak perlu berkontribusi agar data dan kinerja akademik yang dimiliki benar-benar tercermin dengan baik dalam proses akreditasi,” ujar Harun.

Ia juga menekankan pentingnya pelaporan aktivitas akademik dosen secara lengkap, termasuk dalam skema team teaching. Menurutnya, setiap dosen yang terlibat dalam pembelajaran perlu tercatat dalam sistem pelaporan agar kontribusinya dapat diakui secara resmi.

Selain itu, UMS juga terus mendorong penguatan internasionalisasi melalui keterlibatan dosen asing dalam proses pembelajaran. Salah satu langkah yang didorong adalah pelaksanaan team teaching berbasis hybrid dengan melibatkan akademisi dari luar negeri.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat jejaring akademik internasional UMS, termasuk dalam mendukung peluang dosen asing menjadi Academic Reviewer Prospect dalam pemeringkatan global.

Kepala Badan Penjaminan Mutu (BPM) UMS, Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D.

Kepala Badan Penjaminan Mutu (BPM) UMS, Hari Prasetyo, S.T., M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa masa berlaku akreditasi institusi UMS akan berakhir pada 28 Desember 2026 sehingga proses persiapan harus dilakukan secara matang sejak sekarang.

Ia menambahkan bahwa instrumen akreditasi terbaru mengharuskan banyak data diambil langsung dari sistem Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI). Hal ini membuat ketepatan dan kelengkapan pelaporan data akademik menjadi faktor yang sangat menentukan dalam proses penilaian.

Melalui rapat koordinasi tersebut, UMS menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola akademik dan sistem penjaminan mutu, sehingga mampu mempertahankan reputasi institusi sekaligus memperkuat posisi UMS sebagai perguruan tinggi unggul di tingkat nasional maupun internasional. (Yusuf/Humas)