muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Dosen Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc., menjadi pembicara dalam forum diskusi internasional di University of Queensland (UQ), Australia, pada 23 Mei 2026. Forum bertajuk “From Global Insight to Local Impact: Bridging Knowledge with Grassroots Realities in Indonesia” ini menyoroti pentingnya menerjemahkan riset dan pengetahuan global menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat akar rumput di Indonesia.
Acara yang diinisiasi oleh Kopikir Indonesia bersama UQ Indonesian Student Association tersebut dihadiri oleh mahasiswa, peneliti, dan akademisi Indonesia dari berbagai perguruan tinggi di negara bagian Queensland.
Dalam paparannya, Hardika menekankan bahwa akses terhadap teknologi dan pengetahuan berskala global harus diimbangi dengan pemahaman kuat terhadap kondisi riil masyarakat. Menurutnya, inovasi akademik dari ruang kelas dan laboratorium hanya akan berdampak luas jika mampu menjawab kebutuhan konkret di lapangan.
“Banyak inovasi lahir dari ruang kelas, laboratorium, dan pusat riset. Namun tantangan sesungguhnya adalah bagaimana inovasi tersebut dapat hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Di situlah pentingnya menjembatani pengetahuan global dengan realitas lokal,” ujar Hardika saat dikonfirmasi pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Sebagai akademisi, Hardika menilai perguruan tinggi mengemban peran strategis untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial. Ia membagikan pengalamannya memimpin Desamind Indonesia, sebuah organisasi yang fokus pada pengembangan kapasitas pemuda desa melalui pendekatan local heroes.
Melalui ragam program seperti literasi digital, pendidikan, dan pendampingan inisiatif sosial, Desamind bergerak aktif menjadi jembatan transfer pengetahuan dari dunia kampus ke masyarakat pedesaan.
“Desamind percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari pusat. Perubahan dapat tumbuh dari desa ketika anak muda diberi ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan memimpin solusi bagi lingkungannya sendiri,” tambah Hardika.
Diskusi yang berlangsung dinamis dari berbagai disiplin ilmu tersebut melahirkan kesepahaman mengenai pentingnya collective impact—sebuah sinergi lintas sektor antara akademisi, peneliti, komunitas, pemerintah, dan organisasi sosial guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Apresiasi tinggi datang dari Ketua Kopikir Indonesia, Hardo. Ia menilai rekam jejak Hardika sebagai dosen sekaligus pegiat pemberdayaan masyarakat memberikan perspektif baru yang sangat relevan bagi para pelajar Indonesia di luar negeri.
“Terima kasih telah berbagi bersama kami. Diskusi ini membuka perspektif baru tentang bagaimana pengalaman global dapat diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia, khususnya di tingkat akar rumput,” pungkas Hardo.















