by | 6 Jul 2026 | Pendidikan |

Kisah Dai LDK PP Muhammadiyah di Sangihe, Motivasi Mahasantri Shabran UMS Mengabdi

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Sarasehan Kader untuk menegaskan pentingnya proses perkaderan sebagai modal utama menghadapi problematika di masyarakat. Acara ini menghadirkan alumni Pondok Shabran UMS tahun 2021 sekaligus dai utusan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hanif Syairafi Wiratama, S.Pd.

Sebagai lembaga pencetak kader, kegiatan ini bertujuan untuk membentuk kerangka berpikir dan mentalitas mahasantri agar siap diterjunkan langsung ke wilayah pengabdian pascastudi.

Dalam forum tersebut, Hanif membagikan pengalamannya selama satu tahun penuh menjadi utusan pertama LDK PP Muhammadiyah yang mengekspansikan gerakan dakwah di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Pengalaman monumental tersebut bahkan telah dibukukannya dalam karya berjudul “Tuhan Aku di Sangihe”.

Hanif mengingatkan para mahasantri Pondok Shabran UMS selaku penerima beasiswa umat agar tidak terlena atau sekadar menggantungkan diri pada persyarikatan. Menurutnya, kontribusi aktif di dunia perkuliahan, persyarikatan, hingga kegiatan kemasyarakatan adalah hal yang wajib dilakukan.

“Kita harus menyadari bahwa pendidikan kita ini dibiayai oleh umat, maka kita harus berpikir bagaimana caranya kita dapat mengembalikan dan mengabdikan diri kepada umat juga,” tegas Hanif pada Jumat (3/7/2026).

Lebih lanjut, ia memaparkan dua bentuk balas budi yang harus dijalankan oleh mahasantri. Pertama, saat berstatus aktif, pengabdian ditunjukkan lewat keaktifan dalam proses perkaderan di persyarikatan untuk mengamalkan ilmu. Kedua, setelah lulus atau purna dari Pondok Shabran, mahasantri wajib terjun langsung menjawab kebutuhan masyarakat.

Menurut Hanif, mengikuti berbagai level perkaderan di Muhammadiyah maupun organisasi otonom (ortom) lainnya bukan merupakan ajang untuk pamer kehebatan. Melainkan sebuah ruang untuk menempa kompetensi dan kesiapan mental.

Ia juga menceritakan realita dinamika pengabdian di pelosok Sangihe yang baru diselesaikannya per Juni lalu, mulai dari keterbatasan infrastruktur teknologi seperti sulitnya sinyal internet hingga rendahnya kualitas pendidikan agama lokal. Guna mengatasi hal itu, Hanif sempat menginisiasi kajian rutin tarjih untuk 14 Ranting Muhammadiyah di Sangihe demi menghadirkan pemahaman agama yang menarik.

Menutup sarasehan, Hanif berpesan agar seluruh kader IMM Pondok Shabran UMS tidak ragu berproses di organisasi sebagai bekal masa depan.

“Jangan merasa rugi mengikuti kegiatan di IMM atau di ortom lainnya, karena di balik itu semua ada hikmah yang baru kita petik dan kita dapatkan pasca lulus nanti,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Jadwal Salat Hari Ini
Memuat lokasi…
Subuh
Terbit
Zuhur
Ashar
Maghrib
Isya
Menuju salat berikutnya:
Subuh menggunakan kriteria Muhammadiyah (-18°).

Artikel terkait