muhammadiyahkaranganyar.or.id, NGASEM – Memahami makna jihad sering kali terjebak pada narasi fisik dan kekerasan. Namun, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Ngasem mencoba meluruskan perspektif tersebut melalui kajian rutin Sittuun Naafi’ah (60 Hadis Bermanfaat). Kegiatan ini digelar di Masjid Baiturrahman Cepogo, Dukuh Kujon, Senin (26/1/2026) malam.
Suasana di kompleks Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Ngasem tampak hidup meski jarum jam telah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Sekitar 50 peserta yang terdiri dari jajaran pengurus dan anggota PRM-PRA Ngasem menyimak dengan khidmat paparan materi yang mengangkat tema kewajiban berjihad fi sabilillah berdasarkan Hadis ke-37 riwayat Abu Hurairah RA.
Hadir sebagai pemateri, Ibrahim Ashoimi, seorang pengasuh pondok pesantren asal Sragen. Dalam tausiyahnya, Ibrahim memberikan penjelasan yang sangat kontekstual dengan kondisi bangsa saat ini. Ia menekankan bahwa jihad memiliki spektrum yang luas, melampaui batas pertempuran fisik.
“Jihad yang paling utama dalam kondisi hari ini adalah jihad ilmu dan jihad membersihkan hati dari sifat dengki, sombong, serta permusuhan. Bahkan, salat berjemaah yang istiqamah pun termasuk bentuk jihad melawan kemalasan dan godaan setan,” tegas Ibrahim di hadapan para jemaah.
Ia menjelaskan bahwa setiap Muslim wajib memerangi hawa nafsu, kebodohan, dan kemaksiatan yang ada dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Menurutnya, pemahaman yang keliru tentang jihad justru bisa menjauhkan umat dari esensi Islam yang damai.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PRM Ngasem, Natsir, menyatakan bahwa kajian rutin ini bukan sekadar agenda formalitas. Forum ini berfungsi sebagai wadah silaturahmi sekaligus penguatan basis keilmuan bagi kader di tingkat akar rumput. Natsir berpendapat bahwa pemahaman agama yang kuat akan membentengi kader dari paham-paham ekstrem.
“Melalui kajian tafsir dan hadis ini, kami ingin membangun pemahaman keagamaan yang komprehensif dan moderat, sekaligus mempererat ukhuwah di antara anggota,” jelas Natsir mengenai tujuan jangka panjang program tersebut.
Sisi menarik lainnya datang dari keterlibatan aktif kaum perempuan. Ketua PRA Ngasem, Supanti, menambahkan bahwa jihad juga memiliki dimensi domestik dan sosial bagi Muslimah. Ia menekankan bahwa semangat menuntut ilmu bagi anggota Aisyiyah adalah bentuk pengabdian kepada agama.
“Ilmu tentang jihad pun penting bagi Muslimah. Berjihad dalam mendidik anak, menjaga keutuhan rumah tangga, dan berdakwah dengan penuh hikmah adalah amanah yang tidak kalah mulia di mata Allah,” tutur Supanti.
Kajian yang berakhir pada pukul 22.00 WIB ini ditutup dengan doa bersama. Para peserta berkomitmen untuk membawa semangat jihad ilmu ini ke lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Rencananya, kajian Sittuun Naafi’ah akan terus dilaksanakan secara berkala di lokasi yang berbeda di wilayah Ngasem.















