Cetak Dai Berkemajuan, Sekolah Tabligh PDM Karanganyar Resmi Dimulai

Cetak Dai Berkemajuan, Sekolah Tabligh PDM Karanganyar Resmi Dimulai

muhammadiyakaranganyar.or.id, Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar resmi membuka Kuliah Perdana Sekolah Tabligh pada Ahad, 3 Mei 2026. Program strategis ini diproyeksikan sebagai kawah candradimuka dalam mencetak kader dai yang mumpuni, baik dari sisi kedalaman ilmu agama maupun penguasaan keterampilan dakwah kontemporer.

Kegiatan yang berlangsung di Aula SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar ini diikuti oleh 45 peserta yang telah lolos seleksi. Sekolah Tabligh dirancang sebagai program intensif selama delapan bulan, yang mencakup lima bulan pendalaman teori dan tiga bulan praktik lapangan (magang dakwah).

Dalam sesi pertama, Samsuri yang mengisi materi tentang “Motivasi Dakwah” memberikan suntikan semangat kepada para peserta. Beliau menekankan bahwa menjadi seorang dai bukan sekadar tugas profesi, melainkan panggilan iman.

Memasuki sesi kedua, fokus beralih pada aspek metodologi. Nasirudin memaparkan materi mengenai “Komunikasi Dakwah”. Menurut H. Arif Nasirudin, S.Ag., M.Pd., seorang dai harus mampu beradaptasi dengan profil audiens yang beragam. Ia menjelaskan secara tidak langsung bahwa teknik komunikasi yang efektif menjadi kunci agar pesan-pesan Islam yang wasathiyah dapat diterima dengan baik oleh semua lapisan masyarakat, mulai dari kalangan akar rumput hingga kaum urban.

Keterampilan berbicara di depan publik juga menjadi sorotan utama. Pada sesi ketiga, Anshori memberikan pembekalan mengenai “Dasar Retorika”. Peserta dilatih untuk mampu menyusun narasai dakwah yang sistematis, persuasif, dan menarik agar tidak monoton saat berada di mimbar atau ruang publik.

Sebagai penutup rangkaian kuliah perdana, Taqwim memberikan materi spiritualitas melalui tema “Amalan Penyubur Ruhiyah Da’i”. Beliau mengingatkan bahwa seorang dai harus memiliki ketahanan mental dan spiritual yang kuat sebelum terjun ke masyarakat.

Program Sekolah Tabligh ini merupakan program turunan dari Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah yang kini memasuki angkatan ketiga. Sistem pembelajarannya dilakukan secara hibrida, menggabungkan pertemuan tatap muka (luring) dan daring via aplikasi telekonferensi dengan menghadirkan pemateri dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dengan kombinasi materi yang komprehensif ini, PDM Karanganyar optimis dapat melahirkan generasi pendakwah yang mampu menjawab tantangan zaman di era digital.

Kontributor: Ismail

Wujudkan Kemandirian Energi, MPR RI Bedah Urgensi Transisi Energi di Kampus UMS

Wujudkan Kemandirian Energi, MPR RI Bedah Urgensi Transisi Energi di Kampus UMS

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi tuan rumah kegiatan MPR RI Goes to Campus yang mengangkat tema “Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim”, pada Selasa, (28/4).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Dr. H. Syamsudin, Lantai 8 Gedung Ahmad Syafii Maarif Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS ini menghadirkan Wakil Ketua MPR RI, Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H. sebagai pembicara utama.

BACA JUGA: 3 Dosen FHIP UMS Raih Pendanaan Penelitian Multitahun 2026 dari Kemendiktisaintek

Acara ini diikuti lebih dari 700 mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan UMS, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan sejak awal hingga akhir.

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya menyapa mahasiswa dengan penuh semangat dan interaktif, yang disambut sorakan meriah dari peserta.

Ia mengajak mahasiswa dari berbagai program studi seperti Manajemen, Akuntansi, Studi Pembangunan, hingga Bisnis Digital untuk aktif berpartisipasi dalam kuliah kebangsaan tersebut.

“Kehadiran Wakil Ketua MPR RI merupakan kesempatan berharga bagi kalian untuk belajar langsung dari praktisi nasional yang berpengalaman di bidang legislatif dan kebijakan publik,” ujarnya.

Menurutnya, tema energi menjadi sangat relevan karena memiliki peran strategis dalam pembangunan sekaligus berpotensi memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya perubahan budaya dalam penggunaan energi, termasuk menghindari perilaku boros dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan.

Melalui kegiatan ini, lanjutnya, UMS berharap terjalin sinergi yang lebih kuat antara dunia akademik dan lembaga negara dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pengelolaan energi di masa depan.

Dalam pemaparannya, Dr. Eddy Soeparno menegaskan bahwa krisis iklim merupakan realitas global yang tidak dapat diabaikan dan membutuhkan penanganan segera.

“Potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, diperlukan transisi energi yang terencana untuk menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Eddy Soeparno.

Selain itu, ia mengingatkan adanya paradoks energi di Indonesia, yaitu melimpahnya sumber daya energi namun masih bergantung pada impor untuk kebutuhan tertentu. (Yusuf/Humas)

Guru Besar UMS Prof. Arum Pratiwi: Manajemen Stres Kunci Keseimbangan Jiwa Modern

Guru Besar UMS Prof. Arum Pratiwi: Manajemen Stres Kunci Keseimbangan Jiwa Modern

muhammadiyakaranganyar.or.id, SURAKARTA – Tekanan kehidupan modern yang kian kompleks menuntut pendekatan baru dalam menjaga keseimbangan jiwa. Strategi kunci untuk mencapai kesehatan mental yang optimal kini bergeser pada pentingnya manajemen stres melalui revitalisasi energi otak.

Hal tersebut dipaparkan oleh Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D., dalam jumpa pers menjelang pengukuhannya sebagai Guru Besar ke-72 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Senin (27/4). Arum dijadwalkan akan dikukuhkan bersama Prof. Kussudyarsana pada Rabu (29/4) mendatang di Auditorium Moh. Djazman.

Dalam penjelasannya, Arum menegaskan bahwa revitalisasi energi otak berbeda dengan konsep pengisian ulang (recharge) biasa. Menurutnya, proses ini mencakup perbaikan sekaligus peningkatan fungsi otak secara menyeluruh. Otak manusia memiliki sistem energi internal yang terus diperbarui melalui metabolisme glukosa dan oksigen yang diubah menjadi energi aktivitas neuron.

“Energi otak yang optimal sangat menentukan bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Ketika energi ini terganggu, maka fungsi kognitif dan emosional juga ikut terdampak,” ujar Arum yang merupakan Guru Besar bidang kepakaran Ilmu Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS tersebut.

Arum menjelaskan bahwa pengelolaan emosi melibatkan struktur penting seperti amigdala, hipokampus, dan prefrontal cortex. Ketidakseimbangan pada sistem ini dapat memicu berbagai respons negatif, mulai dari kecemasan ringan hingga gangguan jiwa berat. Menurutnya, kesehatan mental berada dalam sebuah spektrum yang dinamis, bukan kondisi statis.

Individu dapat bergerak di sepanjang rentang kesehatan mental, mulai dari kondisi sehat, stres, gangguan penyesuaian, hingga kondisi berat seperti skizofrenia. “Individu bisa bergerak dari satu kondisi ke kondisi lain tergantung pada tingkat stres dan kemampuan adaptasi. Di sinilah pentingnya intervensi yang tepat, termasuk terapi untuk merevitalisasi fungsi otak,” tambahnya.

Sebagai solusi, Arum menawarkan pendekatan terapi kognitif untuk memperkuat koneksi antarneuron dengan mengubah pola pikir negatif menjadi positif. Menariknya, pendekatan ini tidak hanya menyentuh aspek biologis, tetapi juga mengintegrasikan dimensi spiritual. Dalam perspektif Islam, ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 216 tentang pentingnya berprasangka baik atas ketetapan Allah SWT.

Ia juga menekankan peran hati atau kalbu sebagai pusat kendali perilaku. Arum menyatakan bahwa revitalisasi energi otak harus selaras dengan kebersihan hati. Secara praktis, hal ini dilakukan melalui identifikasi pikiran negatif, reframing sudut pandang, serta teknik relaksasi seperti meditasi dan mendengarkan murotal Al-Qur’an.

Berdasarkan riset Arum selama lima tahun terakhir, intervensi berbasis manajemen stres dan pendekatan spiritual terbukti efektif meningkatkan kondisi psikososial pasien, termasuk pada penderita psikosis dan tuberkulosis yang mengalami stigma sosial.

Sebagai penutup, Arum mengingatkan bahwa meskipun proses penuaan otak tidak dapat diputar balik, fungsi otak yang ada tetap bisa dioptimalkan. “Revitalisasi energi otak bukan hanya konsep ilmiah, tetapi juga ikhtiar holistik untuk menjaga keseimbangan antara pikiran, emosi, dan spiritualitas,” pungkasnya.

Kontributor: Fika / Humas UMS

Perkuat Kapasitas Kemanusiaan, MDMC Karanganyar Gembleng Relawan melalui Pelatihan Vertical Rescue

Perkuat Kapasitas Kemanusiaan, MDMC Karanganyar Gembleng Relawan melalui Pelatihan Vertical Rescue

muhammadiyakaranganyar.or.id, KARANGANYAR – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Karanganyar menggelar Kelas Vertical Rescue pada Ahad (26/4) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan profesionalisme dan kapasitas relawan kebencanaan. Kegiatan yang berlangsung satu hari penuh, mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB ini, diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari unsur relawan Muhammadiyah maupun masyarakat umum.

Pelatihan yang diselenggarakan tanpa dipungut biaya ini bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN). Selain sebagai bentuk edukasi, kegiatan ini bertujuan untuk membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat sekaligus memperkokoh kesiapan personel dalam menghadapi situasi darurat yang membutuhkan teknik penyelamatan khusus.

Dalam pelaksanaannya, MDMC Karanganyar berkolaborasi dengan instruktur berpengalaman dari Hizbul Wathan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Para peserta diberikan pembekalan intensif yang mencakup pengenalan alat hingga praktik dasar teknik penyelamatan vertikal, sebuah kompetensi vital dalam klaster Search and Rescue (SAR).

Anggota Pleno PDM Kabupaten Karanganyar, Arif Nasiruddin, dalam amanat apel pembukaan menegaskan pentingnya peran relawan Muhammadiyah sebagai garda terdepan misi kemanusiaan. Menurutnya, kerelawanan adalah manifestasi dari gerakan sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujar Arif Nasiruddin saat mengutip hadis Nabi Muhammad SAW. Ia juga menyatakan komitmen penuh PDM Karanganyar dalam mendukung program-program MDMC yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang kebencanaan.

Di sisi lain, Bidang Diklat MDMC Karanganyar, Usamah, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari proses kaderisasi jangka panjang. Ia menekankan bahwa aspek teknis harus berjalan beriringan dengan semangat pengabdian.

“Kelas ini menjadi langkah awal untuk membekali relawan dengan keterampilan SAR, khususnya di bidang vertical rescue. Kami ingin memastikan para relawan muda memiliki kompetensi yang mumpuni sekaligus mental pejuang kemanusiaan,” ungkap Usamah.

Lebih lanjut, Usamah menambahkan bahwa kegiatan ini terintegrasi dalam sistem pembinaan berkelanjutan melalui Sekolah Relawan Muhammadiyah Karanganyar. Ke depan, kurikulum pelatihan tidak hanya akan menyentuh klaster SAR, tetapi juga akan merambah ke berbagai disiplin ilmu kebencanaan lainnya untuk menciptakan kesiapsiagaan yang komprehensif.

Melalui inisiatif ini, MDMC Karanganyar berharap dapat melahirkan jaringan relawan yang tangguh, profesional, dan selalu siap sedia berkontribusi secara nyata dalam setiap situasi darurat di tanah air.

Kontributor: Naf

Game-Based Learning: Strategi Mahasiswa UMS Tingkatkan Empati Anak Yatim Surakarta

Game-Based Learning: Strategi Mahasiswa UMS Tingkatkan Empati Anak Yatim Surakarta

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Suasana di Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah, Surakarta, tampak berbeda pada Jumat, 3 April 2026. Puluhan anak berkumpul dengan antusiasme tinggi untuk mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Pengembangan Individual Dosen (PID). Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa ini mengusung misi penting: “Penguatan Regulasi Emosi pada Anak untuk Meningkatkan Perilaku Prososial”.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Dr. Murfiah Dewi Wulandari, M.Psi., Nisa’ul Nur Azizah, dan Nida’ul Nur Jannah. Fokus utamanya adalah membantu anak-anak membangun keseimbangan emosi sebagai fondasi tumbuhnya empati dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian acara dibuka dengan pre-test untuk memetakan sejauh mana pemahaman awal peserta mengenai emosi. Dr. Murfiah Dewi Wulandari, M.Psi. menjelaskan bahwa pemahaman emosi yang baik merupakan kunci perilaku sosial yang positif. Menurutnya, kemampuan anak dalam mengelola perasaan akan berbanding lurus dengan kemampuannya menolong orang lain.

“Regulasi emosi adalah fondasi utama agar anak mampu berempati. Jika mereka sudah bisa mengenali dan menenangkan diri sendiri, mereka akan jauh lebih mudah untuk peduli dan menunjukkan perilaku prososial kepada lingkungan sekitarnya,” ujar Dr. Murfiah Dewi Wulandari, M.Psi. di sela-sela kegiatan.

BACA JUGA: HMP Penjas FKIP UMS Gelar Ramadan Ceria, Tebar Kebahagiaan di Panti Asuhan

Memasuki sesi inti, tim pengabdian menerapkan metode game-based learning yang interaktif. Anak-anak diajak bermain kartu situasi yang menggambarkan berbagai kondisi emosional. Tak hanya itu, metode role playing atau bermain peran juga dilakukan untuk memberi kesempatan bagi peserta dalam mensimulasikan situasi nyata, sehingga mereka terlatih memahami perasaan orang lain secara langsung.

Nisa’ul Nur Azizah menambahkan bahwa pendekatan melalui permainan membuat materi yang berat menjadi lebih mudah diterima. Sesi tanya jawab pun berlangsung aktif, di mana anak-anak mulai berani berbagi cerita personal dan mengungkapkan perasaan mereka tanpa rasa takut.

Salah satu momen paling menyentuh adalah praktik butterfly hug therapy. Teknik ini merupakan metode sederhana bagi anak-anak untuk menenangkan diri saat menghadapi emosi negatif dengan cara memeluk diri sendiri secara perlahan. Nida’ul Nur Jannah menyebutkan bahwa teknik ini sangat efektif untuk melatih kemandirian emosional anak.

Kegiatan ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan yang penuh haru. Perwakilan anak panti mengungkapkan rasa senangnya karena mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Melalui PID ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memberikan dampak bagi masyarakat, tetapi juga mengasah empati mereka dalam mengimplementasikan ilmu psikologi dan pendidikan secara nyata. Harapannya, keterampilan regulasi emosi ini terus dipraktikkan oleh anak-anak panti dalam interaksi sosial mereka di masa depan.