Berita, PCM Kebakkramat
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebakkramat secara resmi meresmikan Gedung Dakwah PCM Kebakkramat pada Ahad (26/7/2026). Peresmian pusat aktivitas dakwah baru ini digelar berbarengan dengan agenda Pengajian Triwulan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar di Jalan Simo, Kebaksari, Desa Kebak, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar.
Gedung ini difungsikan sebagai pusat pembinaan umat, pengkaderan, pengembangan program Persyarikatan, sekaligus sarana pelayanan bagi masyarakat luas di wilayah Kebakkramat dan sekitarnya.
Ketua PDM Karanganyar, Muhammad Arief Babhier, memberikan apresiasi tinggi atas capaian dan perkembangan pesat PCM Kebakkramat. Ia menilai keberhasilan pembangunan fisik ini menjadi bukti nyata semangat gotong royong serta kemandirian warga Muhammadiyah.

“Peresmian Gedung Dakwah ini bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal untuk menghadirkan dakwah yang semakin berkualitas dan memberi manfaat yang lebih luas bagi umat. Kami mengapresiasi seluruh pimpinan, warga Persyarikatan, para donatur, serta semua pihak yang telah berkontribusi,” ujar Arief.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PCM Kebakkramat, Paryono, menyampaikan rasa syukurnya atas penyelesaian pembangunan fasilitas tersebut. Ia berharap gedung baru ini dapat menjadi sarana perekat ukhuwah Islamiyah di lingkungan masyarakat.
“Semoga gedung ini menjadi rumah bersama untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan pelayanan kepada umat, mengembangkan dakwah yang berkemajuan, dan melahirkan berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” tutur Paryono.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Pengajian Triwulan PDM Karanganyar yang menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, Tafsir menekankan agar gedung dakwah dimaksimalkan sebagai pusat gerakan yang mencerahkan dan memakmurkan umat, bukan sekadar bangunan fisik semata.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Muhammadiyah, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi otonom (ortom), serta ratusan warga Persyarikatan dari berbagai cabang dan ranting se-Kabupaten Karanganyar. Menutup agenda, momentum peresmian ini diharapkan semakin memperkuat peran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan di tingkat daerah hingga nasional.
Berita
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Majelis Tabligh se-Solo Raya resmi menggelar Safari Dakwah Putaran ke-5 dengan menunjuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar sebagai tuan rumah. Dalam agenda ini, sebanyak 20 mubaligh diterjunkan untuk menyiarkan dakwah di 52 majelis kajian yang tersebar di berbagai Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Karanganyar.
Pembukaan acara berlangsung di Aula Utama Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Karanganyar pada Sabtu (25/7/2026) sore, sebelum para mubaligh dijemput perwakilan PCM untuk menuju lokasi dakwah masing-masing.
Safari Dakwah ini merupakan program turunan berkelanjutan dari Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Selain bertujuan memperluas syiar Islam dan memperkuat ukhuwah antarmubaligh, kegiatan ini dirancang untuk memperkokoh gerakan dakwah Muhammadiyah hingga ke tingkat cabang dan ranting di akar rumput.
Ketua PDM Karanganyar, Ust. Muhammad Arif Babher, S.Ag., M.Pd., yang membuka acara secara resmi menekankan pentingnya menjaga konsistensi dalam syiar Islam.
“Napas tabligh harus senantiasa hidup dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Kita harus terus menghadirkan perubahan di tengah masyarakat, meskipun perubahan itu berlangsung secara bertahap dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Yang terpenting adalah tetap istiqamah mengajak kepada kebaikan,” tegas Ust. Muhammad Arif Babher di hadapan jajaran pleno PDM dan peserta yang hadir.
Koordinator Majelis Tabligh Solo Raya, Ust. Ahmad Sukidi, S.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa keaktifan dan kolaborasi antardaerah menjadikan Majelis Tabligh Solo Raya sebagai salah satu karesidenan percontohan di Jawa Tengah. Setelah Karanganyar, program ini dijadwalkan berlanjut ke Putaran ke-6 di Kabupaten Wonogiri.
Secara teknis, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PDM Karanganyar, Ust. Ismail Soleh, S.Pd., M.Pd., memaparkan bahwa para mubaligh mengisi berbagai forum keagamaan masyarakat. Agenda pengajian meliputi kajian bakda Magrib, bakda Isya, bakda Subuh, hingga Kajian Ahad Pagi.
Ketua Panitia, Ust. Nur Wijayanto, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasinya atas antusiasme para mubaligh se-Solo Raya yang hadir. Seluruh rangkaian kegiatan pembukaan hingga pelepasan mubaligh berjalan dengan tertib dan lancar berkat sinergi erat antara PDM Karanganyar, Majelis Tabligh Solo Raya, serta PCM se-Kabupaten Karanganyar.
Aisyiyah, Berita
muhammadiyahkaranganyar.or.id, COLOMADU – Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Colomadu menyelenggarakan Pelatihan Rukti Jenazah pada Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 12.00-15.00 WIB, di Masjid Sabilul Huda, kompleks SD MPU Gedongan, Colomadu. Kegiatan ini diawali dengan sambutan oleh Ibu Ketua PCA Colomadu yaitu Ibu Ani Muntazmahal serta menghadirkan Ustazah Dra. Emmy Nurhayati sebagai narasumber dan diikuti oleh anggota PCA beserta majelis, utusan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA), serta perwakilan TK/KB ‘Aisyiyah Colomadu yang tergabung dalam IGABA.
Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman kader mengenai rukti atau perawatan jenazah berdasarkan tuntunan Islam yang menjadi pedoman Muhammadiyah. Materi tidak berhenti pada pengetahuan dasar, tetapi dilanjutkan dengan simulasi memandikan dan mengafani jenazah agar peserta mampu memahami urutan kerja, menjaga adab, serta bertindak dengan tenang ketika dibutuhkan di tengah masyarakat.
Rukti Jenazah sebagai Fardhu Kifayah dan Pengingat Kematian
Dra. Emmy Nurhayati menjelaskan bahwa kewajiban umat Islam terhadap jenazah mencakup empat hal, yaitu memandikan, mengafani, menyalatkan, dan memakamkan. Keempatnya berkedudukan sebagai fardhu kifayah. Kewajiban tersebut gugur ketika telah dilaksanakan oleh sebagian umat Islam yang mampu. Namun, apabila tidak seorang pun menunaikannya, masyarakat Muslim yang mampu turut menanggung tanggung jawabnya.
Pembelajaran rukti jenazah juga memiliki nilai muhasabah. Firman Allah dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 185 menegaskan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Ketika seseorang menyaksikan atau terlibat dalam proses memandikan, mengafani, menyalatkan, dan memakamkan jenazah, ia diingatkan untuk memperbaiki amal, menjaga perilaku, dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Ustazah Dra. Emmy Nurhayati menyampaikan prinsip dasar dan adab perawatan jenazah kepada peserta pelatihan. Foto: Dok. PCA ‘Aisyiyah Colomadu.
Niat, Kompetensi, dan Menjaga Kehormatan Jenazah
Pelaksana rukti jenazah perlu menata niat semata-mata karena Allah. Selain ikhlas, petugas perlu sehat, berakal, telah dewasa, memahami tata cara yang benar, dan sanggup menjaga amanah. Salah satu amanah terpenting ialah merahasiakan kondisi tubuh atau aib jenazah yang diketahui selama proses perawatan. Percakapan yang tidak diperlukan juga harus dibatasi agar suasana tetap khidmat dan kehormatan jenazah terpelihara.
Orang yang memandikan diutamakan berasal dari keluarga terdekat yang memahami tata cara perawatan jenazah. Jenazah laki-laki dimandikan oleh laki-laki dan jenazah perempuan dimandikan oleh perempuan. Tuntunan Muhammadiyah memberi pengecualian bagi pasangan suami istri dan anak yang belum baligh. Dalam pelaksanaannya, aurat jenazah harus tetap tertutup, sedangkan sarung tangan, masker, kain penutup, dan alat kebersihan digunakan untuk menjaga kesopanan, kebersihan, serta keamanan petugas.
Sebelum proses dimulai, petugas perlu berkomunikasi dengan ahli waris secara lembut. Informasi tentang riwayat penyakit, luka, tindakan medis, atau keluarnya cairan tubuh membantu tim menentukan langkah yang aman. Apabila terdapat luka terbuka atau kondisi khusus, petugas perlu menggunakan bahan penyerap dan penutup yang sesuai serta berkoordinasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan. Penanganan tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena setiap keadaan membutuhkan ilmu dan kehati-hatian.

Peserta menyimak penjelasan mengenai tahapan memandikan, mengafani, menyalatkan, dan memakamkan jenazah. Foto: Dok. PCA ‘Aisyiyah Colomadu.
Praktik Memandikan Jenazah Sesuai Tuntunan
Perlengkapan yang disiapkan meliputi air bersih dan suci, air sabun, daun bidara bila tersedia, kapur barus atau wewangian untuk siraman akhir, handuk, kain penutup, sarung tangan, masker, kapas atau kasa penyerap, serta perlengkapan kebersihan lain yang diperlukan. Kain kafan disiapkan secukupnya sesuai ukuran tubuh. Jumlah kebutuhan kain tidak perlu dipatok secara kaku karena harus menyesuaikan ukuran jenazah dan teknik pengafanan yang digunakan.
Proses memandikan dilakukan di ruang tertutup atau menggunakan hijab agar tidak terlihat oleh orang yang tidak berkepentingan. Jenazah tetap ditutup dengan kain. Petugas membersihkan najis dan kotoran secara hati-hati, kemudian membersihkan anggota wudu dengan mendahulukan bagian kanan. Bagian punggung dibersihkan dengan memiringkan jenazah ke kiri dan ke kanan tanpa gerakan kasar.
Jenazah dimandikan dalam bilangan ganjil, seperti tiga atau lima kali, dan dapat ditambah sesuai kebutuhan. Siraman terakhir menggunakan air yang dicampur kapur barus atau wewangian. Setelah selesai, tubuh dikeringkan dengan handuk. Untuk jenazah perempuan berambut panjang, ikatan rambut dilepas, rambut dicuci hingga bersih, kemudian dijalin menjadi tiga kepang dan diletakkan ke belakang.
Mengafani dengan Baik dan Tidak Berlebihan
Tuntunan perawatan jenazah Muhammadiyah menjelaskan bahwa jenazah laki-laki dikafani dengan tiga lembar kain. Jenazah perempuan menggunakan lima lembar, yaitu kain basahan, baju kurung, kerudung, dan dua lembar kain penutup. Kain dibentangkan dengan rapi, jenazah diletakkan dalam keadaan aurat tetap tertutup, kemudian dibungkus lapis demi lapis dengan baik.
Tali pengikat dapat dipersiapkan di bawah kain sebelum jenazah diletakkan atau digunakan setelah pembungkusan selesai. Simpul diletakkan di sisi kiri agar mudah dilepas ketika jenazah dimasukkan ke liang lahat. Wewangian seperti kapur barus dapat digunakan secukupnya. Pengafanan harus dilakukan dengan baik, bersih, rapi, dan tidak berlebih-lebihan.

Narasumber membimbing peserta dalam simulasi penyiapan dan pengafanan jenazah. Foto: Dok. PCA ‘Aisyiyah Colomadu.
Menyalatkan, Memakamkan, dan Mendoakan Jenazah
Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah disalatkan. Semakin banyak kaum Muslim yang menyalatkan jenazah, semakin besar harapan kebaikan melalui doa mereka. Pelaksanaan salat jenazah harus mengikuti tata cara yang dituntunkan, dilakukan dengan ikhlas, khusyuk, dan berorientasi pada permohonan ampun serta rahmat Allah bagi jenazah.
Jenazah kemudian segera dibawa menuju pemakaman dengan tenang. Materi juga mengingatkan anjuran dalam Tuntunan Perawatan Jenazah agar perempuan tidak ikut dalam iring-iringan pemakaman. Setelah pemakaman selesai, jamaah dianjurkan memohonkan ampun dan keteguhan bagi jenazah. Doa ditujukan kepada Allah untuk jenazah, bukan meminta sesuatu kepada orang yang telah meninggal.
Dalam kerangka Tarjih Muhammadiyah, amalan pascapemakaman perlu didasarkan pada tuntunan yang jelas. Mendoakan jenazah dan bertakziah untuk menguatkan keluarga merupakan amalan yang dianjurkan. Adapun penetapan ritual keagamaan pada hari tertentu, seperti hari ke-40 atau ke-100 setelah kematian, tidak memiliki dasar khusus dalam Al-Qur’an dan hadis menurut penjelasan Majelis Tarjih. Sikap yang diutamakan ialah membantu keluarga yang berduka, mendoakan jenazah, serta menghindari kegiatan yang dapat menambah beban keluarga.
Setiap Ranting Didorong Membentuk Tim Rukti Jenazah
Sebagai tindak lanjut, PCA ‘Aisyiyah Colomadu mendorong setiap ranting memiliki sekurang-kurangnya satu tim rukti jenazah. Tim tersebut diharapkan mampu memberikan layanan yang cepat, tertib, sesuai tuntunan, dan tetap memperhatikan kebersihan serta kondisi khusus jenazah.
Ranting yang masih membutuhkan penguatan praktik dapat berkoordinasi dengan Ibu Dian Ardiyani., S.Th.I., ST., M.P atau Ibu Awalina Nugraheni, S.Pd.I untuk mengadakan pelatihan lanjutan. Pembentukan tim di tingkat ranting menjadi bagian dari pelayanan dakwah ‘Aisyiyah kepada masyarakat. Keterampilan ini bukan hanya kebutuhan pada saat terjadi kedukaan, tetapi juga bentuk kesiapan kader dalam menjalankan kewajiban umat secara bertanggung jawab.
Melalui pelatihan tersebut, PCA ‘Aisyiyah Colomadu berharap semakin banyak kader perempuan yang memiliki pengetahuan dan keberanian untuk terlibat dalam perawatan jenazah. Ilmu yang dipelajari dapat menjadi amal pelayanan, memperkuat solidaritas masyarakat, dan menjadi pengingat agar setiap Muslim menjalani kehidupan dengan amal yang lebih baik.
Penulis dan Fotograferi: Malika Harsanto, S. Kom.
Berita, EventMu, KabarMu, Ortom, Pendidikan
muhammadiyahkaranganya.or.id, KARANGANYAR – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar mengerahkan seluruh potensinya saat membuka perhelatan Musywil IPM Jawa Tengah ke-26 di Alun-Alun Kabupaten Karanganyar, Kamis (23/7/2026). Tuan rumah menghadirkan lebih dari 6.000 pelajar lokal untuk belajar organisasi secara langsung bersama 700 delegasi se-Jawa Tengah.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Karanganyar membuktikan kesiapan totalitas sebagai tuan rumah perhelatan akbar tersebut. Pihaknya memusatkan seluruh rangkaian persidangan dan akomodasi peserta di sekolah-sekolah unggulan. Lokasi utama kegiatan terpusat di SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar dan MI Muhammadiyah Karanganyar.
Tuan rumah juga menghadirkan lebih dari 6.000 pelajar sekolah Muhammadiyah se-Kabupaten Karanganyar di Alun-Alun Karanganyar. Langkah ini menjadi bagian dari kesiapan Muhammadiyah Karanganyar dalam menyajikan laboratorium kepemimpinan nyata. Oleh karena itu, para pelajar lokal dapat melihat langsung bagaimana roda organisasi IPM tingkat wilayah dijalankan.
Dukungan penuh dari sekolah dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Karanganyar memastikan seluruh agenda permusyawaratan berjalan lancar. Tuan rumah menjamin kenyamanan 700 delegasi dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah selama lima hari rangkaian acara.
Ketua Umum PW IPM Jawa Tengah, Daei Aljani, menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja keras tuan rumah. Ia menilai kesiapan Muhammadiyah Karanganyar sangat membantu kelancaran forum transformasional ini.
“Tanpa dedikasi teman-teman sekalian, kapal bernama PW IPM Jawa Tengah ini tidak akan berlayar. Kami sadar jejak kami belumlah sempurna, tetapi Musywil ke-26 ini menjadi forum transformasional agar IPM terus menjadi organisasi yang berdampak,” ujar Daei.
Dukungan penuh PDM Karanganyar berkolaborasi erat dengan Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Pemerintah daerah menyambut hangat kehadiran ribuan kader muda dari berbagai wilayah di Jawa Tengah.
Bupati Karanganyar, Robert Christanto menegaskan komitmen daerah dalam mendukung penguatan kapasitas pemuda. Ia menilai forum ini sangat strategis bagi pencetakan generasi masa depan.
“Penyelenggaraan Musywil ini menjadi momentum penting untuk memperkuat karakter dan kepemimpinan generasi muda. Pemkab Karanganyar mendukung penuh dan berharap forum ini mencetak SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Robert Christanto..
Kemeriahan acara pembukaan makin terasa saat tuan rumah menampilkan berbagai potensi seni dan olahraga. Panggung utama disemarakkan oleh pertunjukan Marching Band MI Muhammadiyah Karanganyar, Tari Saman Ponpes Darul Arqam, atraksi Tapak Suci Pimda 55 Karanganyar, hingga hiburan musik dari band SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar sebagai penutup rangkaian acara pembukaan Musywil. Kehadiran ribuan tamu ini sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal serta UMKM di sekitar Alun-Alun Karanganyar. MPI
KabarMu
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Guru Bahasa Jawa SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Ki Agung Sudarwanto, memperagakan teknik membedah karya sastra geguritan (puisi Jawa) secara mendalam di hadapan para murid. Aksi ini menjadi dorongan nyata bagi para pendidik untuk menguasai teknik analisis sastra guna menumbuhkan kemampuan berpikir kritis serta apresiasi budaya pada generasi muda.
Langkah ini dilakukan dalam rangka membumikan kembali Bahasa Jawa, sebagai tindak lanjut dari Diseminasi Model Pembelajaran Bahasa Jawa Tahun 2026 yang diselenggarakan di Aula Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Jumat (24/7/2026).
Dalam peragaan tersebut, Ki Agung mengupas tuntas struktur serta estetika bait geguritan. Menurutnya, membedah karya sastra bukan sekadar membaca isi teks, melainkan menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik yang membangun karya tersebut secara utuh.
“Pendekatan ini membantu pembaca memahami cara penyair menghadirkan makna, pesan, gaya bahasa, hingga konteks sosial budayanya,” ujar Agung di sela-sela kegiatan pembelajaran.
Ia menekankan sedikitnya ada tujuh unsur intrinsik dalam kajian geguritan, yaitu tema (gagasan pokok/pandangan hidup penyair), alur (rangkaian peristiwa dan penataan gagasan antarbait), karakter (pamawas atau sudut pandang penutur), serta setting atau latar yang mencakup tempat, waktu, dan suasana.
Selain itu, aspek gaya bahasa melalui pemilihan diksi, purwakanthi, dan penggunaan majas juga menjadi fokus utama. Ki Agung menambahkan bahwa geguritan harus memuat pesan moral atau ajaran luhur (pitutur) mengenai etika dan kebaikan, yang dirangkai dalam kesatuan struktur karya yang utuh.
“Beberapa geguritan, terutama yang berbentuk balada, turut memuat alur dan penokohan kuat layaknya narasi cerita. Oleh karena itu, analisis geguritan yang presisi sangat mendesak diterapkan di kelas,” imbuhnya.
Penerapan metode pembelajaran sastra secara kontekstual ini diharapkan menjadi bekal penting bagi para guru, sehingga siswa tidak sekadar memindai kata di atas kertas, tetapi juga mampu mengapresiasi dan mengekspresikannya.
Ki Agung Sudarwanto sendiri merupakan alumni Sarjana Seni (S.Sn) Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang memiliki rekam jejak panjang di dunia seni perdalangan dan sastra. Sosok yang sering dipercaya menyusun naskah serta mengarahkan pementasan dalang ini telah melakoni dunia seni sejak kecil.
“Sewaktu kecil, saya pernah diundang pentas di rumah Ki Manteb Soedharsono di Karangpandan dan Ki Anom Suroto. Pada tahun 1991, saya ditunjuk TVRI Surabaya untuk siaran dengan lakon Babad Alas Mrentani, lalu pentas di RRI Semarang dan di Sragen dengan arahan almarhum Ki Prenggo Darsono dan almarhum Ki Gondo Darman,” pungkasnya.