muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Dosen Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meluncurkan program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) berbasis metode gamifikasi guna memperkuat proses adaptasi sosial anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kegiatan pengabdian lintas negara yang berlangsung di Sanggar Bimbingan (SB) Kampung Baru, kawasan Chow Kit, Kuala Lumpur ini bertujuan untuk meretas berbagai tantangan psikososial yang kerap dialami anak-anak perantau, seperti rasa canggung, krisis percaya diri, hingga hambatan komunikasi.
Ketua Tim PkM-KI UMS, Dr. Andika Sanjaya, S.I.Kom., M.Si., menjelaskan bahwa pendekatan gamifikasi dipilih agar materi interaksi dan adaptasi sosial dapat diserap anak-anak secara alami tanpa merasa digurui.
“Anak-anak pada dasarnya belajar paling cepat melalui bermain. Dengan gamifikasi, proses adaptasi sosial yang semula terasa berat atau menakutkan bagi mereka, diubah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan interaktif,” kata Andika dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).
Melalui model pembelajaran interaktif ini, belasan anak PMI diajak terlibat dalam simulasi permainan, bermain peran (role-play), bercerita, dan berkolaborasi dalam kelompok. Aturan-aturan sederhana dalam permainan secara bertahap menanamkan nilai empati, keterbukaan, pentingnya kerja sama, serta cara berkomunikasi yang sehat di lingkungan perantauan.
Tim pengabdian FKI UMS yang beranggotakan Dr. Andika Sanjaya bersama Sidiq Setyawan, Devi Afriyantari Puspa Putri, dan Arif Surya Kusuma ini bekerja sama erat dengan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Malaysia selaku pembina SB Kampung Baru. Pengelola sanggar, Mintarsih Warijan, menyambut hangat inisiatif ini dan berharap kolaborasi edukatif lintas negara dapat terus berlanjut.
Selain memberikan dampak langsung bagi peserta didik, kehadiran metode pembelajaran ramah anak ini juga menjadi angin segar bagi para pengajar di sanggar bimbingan informal tersebut.
“Bagi para pengelola sanggar dan guru, model gamifikasi yang kami hadirkan memberikan wawasan baru dalam mengemas pembelajaran harian agar anak didik tetap kerasan dan makin percaya diri,” tambah Andika.
Ia menekankan bahwa program ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi di tingkat internasional, melainkan sebuah komitmen berkelanjutan untuk membangun fondasi masa depan anak-anak PMI.
“Di balik riuh rendah permainan sore itu di Kampung Baru, ada harapan yang sedang dipupuk. Kami berupaya membantu anak-anak pekerja migran tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mudah beradaptasi, dan siap menyongsong masa depan tanpa kehilangan akar identitasnya,” pungkasnya.
(Adi/Humas)















