muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses mengukir prestasi internasional dengan meraih Silver Medal pada ajang 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 yang berlangsung di SEGi University, Malaysia. Penghargaan tersebut diraih berkat inovasi sistem akuntansi hijau (green accounting) terdesentralisasi berbasis Internet of Things (IoT) dan blockchain yang diberi nama EnviroChain.
Inovasi bertajuk “EnviroChain: Optimizing Blockchain and IoT-Based Green Accounting Records in Sensitive Industrial Sectors in Indonesia” ini dirancang untuk menjawab tantangan kesenjangan antara kebijakan keberlanjutan formal perusahaan dengan praktik operasional riil di lapangan.
Ketua Tim EnviroChain, Heilin Alber Siva Haryoko, mengungkapkan bahwa pelaporan keberlanjutan sektor industri membutuhkan sistem yang mampu menyajikan data aktual, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum maupun publik.
“Ide pengembangan EnviroChain berawal dari persoalan adanya kesenjangan antara kebijakan formal perusahaan dengan praktik operasional di lapangan. Kami melihat perusahaan tidak hanya membutuhkan laporan keberlanjutan, tetapi juga sistem yang dapat memastikan data lingkungan berasal dari kondisi aktual dan dapat dipantau secara berkelanjutan,” ujar Heilin, Jumat (2/10/2026).
Secara teknis, EnviroChain bekerja mengintegrasikan sensor IoT untuk memantau berbagai parameter lingkungan industri sensitif secara real-time. Parameter tersebut meliputi emisi $\text{CO}_2$, $\text{NO}_x$, $\text{SO}_2$, partikulat, pH air limbah, suhu, hingga kandungan logam berat. Data yang ditangkap sensor kemudian dikirimkan ke server secara otomatis.
Untuk mencegah manipulasi data (anti-greenwashing), sistem ini menerapkan permissioned blockchain Hyperledger Fabric dengan mekanisme cryptographic hash. Setiap data yang masuk melewati validasi sebelum dicatat dalam distributed ledger, sehingga riwayat pelaporan bersifat permanen dan tidak dapat diubah secara sepihak.
Selain pencatatan aman, EnviroChain dilengkapi Real-Time Environmental Dashboard berfitur grafik interaktif, serta AI Consultant yang mampu menganalisis tren emisi dan konsumsi energi. Fitur kecerdasan buatan tersebut juga dapat memberikan rekomendasi efisiensi operasional dan strategi pengurangan emisi secara terukur.
Pada aspek pelaporan akhir, EnviroChain menyediakan fitur Green Leaderboard serta ESG Reporter. Fitur ini mempermudah pengolahan data menjadi laporan keberlanjutan yang telah disesuaikan dengan standar Global Reporting Initiative (GRI) dan Peraturan OJK (POJK) Nomor 51/POJK.03/2017 terkait Penerapan Keuangan Berkelanjutan.
Inovasi ini lahir dari kolaborasi lintas disiplin ilmu mahasiswa UMS, yang terdiri dari Heilin Alber Siva Haryoko dan Fauzan Muhammad Ihsan (Prodi Manajemen FEB), Alhimnie Rusydie (Prodi Teknik Informatika FKI), serta Muhammad Yusuf Ridho (Prodi Teknik Industri FT). Tim ini dibimbing langsung oleh dosen pendamping Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA.
“Kolaborasi lintas disiplin menjadi bagian penting. Dari Manajemen melihat persoalan green accounting dan ESG, Teknik Informatika mengembangkan aspek teknologi blockchain, sementara Teknik Industri memastikan solusi ini sesuai dengan proses operasional industri,” tambah Heilin.
Anggota tim lainnya, Fauzan Muhammad Ihsan, berharap EnviroChain tidak berhenti sebagai karya kompetisi semata, melainkan dapat diimplementasikan secara luas oleh sektor industri nasional untuk mendukung perbaikan lingkungan secara nyata.
Ajang WICE 2026 sendiri diselenggarakan secara hibrida (daring dan luring), di mana tahap presentasi luring berlangsung pada 20–24 September 2026 di Malaysia. Tim UMS berhasil menyisihkan berbagai peserta internasional setelah melalui tahapan seleksi berkas, perolehan Letter of Acceptance (LoA), hingga sesi penjurian akhir.















