by | 3 Oct 2026 | KabarMu |

Tingkatkan Nilai Ekonomi Alpukat, Mahasiswa UMS Kenalkan Pemasaran WA Business di Boyolali

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Program Penelitian dan Pengabdian Ormawa (PPO) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan pendampingan diversifikasi produk olahan alpukat dan pemasaran digital kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Musuk, Kabupaten Boyolali.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil panen alpukat warga setempat yang selama ini dominan dijual dalam bentuk buah segar dengan harga relatif terbatas.

Ketua Tim PPO IMM FIK UMS, Nayif Khoirul Fuad, menyatakan bahwa program pengabdian ini bertujuan membangun kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

“Melihat kondisi itu, kami ingin mendorong kemandirian ekonomi masyarakat setempat. Kami menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Musuk untuk mengolah alpukat menjadi produk bernilai tinggi sekaligus membekali mereka dengan strategi pemasaran digital,” ujar Nayif, Sabtu (3/10/2026).

Dalam pelatihan praktek langsung tersebut, mahasiswa melatih warga mengolah daging buah alpukat menjadi selai serta memanfaatkannya daun alpukat sebagai bahan baku teh. Selain pemrosesan bahan pangan, peserta juga dibekali teknik pengemasan produk (packaging) agar siap diserap pasar.

Sebagai kelanjutan program, pada 1 September 2026, tim PPO IMM FIK UMS mengenalkan optimalisasi aplikasi WhatsApp Business sebagai platform utama pemasaran digital KWT Desa Musuk. Pemilihan aplikasi ini didasarkan pada tingkat familiaritas dan kemudahan akses bagi warga.

Masyarakat diajarkan menggunakan berbagai fitur penunjang bisnis, seperti pembuatan profil bisnis, penyusunan katalog produk, promosi via Status WhatsApp dan grup, hingga penggunaan fitur pesan otomatis (auto-reply) dan label pelanggan.

Nayif menambahkan bahwa integrasi media digital ini difokuskan tidak hanya pada penjualan spontan, melainkan juga menjaga retensi konsumen jangka panjang.

“Melalui media WhatsApp, transaksi tidak berhenti pada pembelian dan penukaran produk. Tetapi komunikasi dengan pelanggan tetap dapat dilakukan untuk menjaga hubungan dan mendorong pembelian produk kembali,” kata Nayif.

Rangkaian pelatihan dan pendampingan ini diharapkan mampu mencetak unit usaha KWT Desa Musuk yang mandiri, kreatif, dan berkelanjutan. (Affiq/Humas)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Artikel terkait