muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Nila Pingkan Nauntika, berhasil meraih penghargaan Best Presentation dalam ajang GEN-SDGs International Youth Connection (IYC): Sumpah Pemuda Edition 2026 di Jakarta, Senin–Selasa (26–27/10/2026).
Penghargaan tersebut diraih usai Pingkan lolos seleksi penerima pendanaan penuh (Fully Funded) dan mempresentasikan inovasi pemerataan literasi digital bagi pelajar di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Dalam ajang tersebut, Pingkan bersama timnya mengusung gagasan bertajuk “Lentera 3T: Solusi Pemerataan Literasi Digital & Future Skills Pelajar 3T”. Program ini berorientasi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat, yakni pendidikan berkualitas, guna membuka akses pembelajaran digital yang inklusif di daerah berketerbatasan infrastruktur internet.
Pingkan mengungkapkan, proses seleksi diawali dengan penyusunan gagasan berbasis isu SDGs, kelengkapan berkas, serta pembuatan video perkenalan. Sementara pencapaian Best Presentation didasarkan pada penguasaan substansi dan komunikasi yang terstruktur.

“Kami tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memahami substansi gagasan yang disampaikan. Saat presentasi, kami berusaha untuk tidak bergantung pada PowerPoint, melainkan fokus berkomunikasi dengan audiens,” ujar Pingkan, Kamis (29/10/2026).
Ia menjelaskan, gagasan Lentera 3T berangkat dari ketimpangan akses pendidikan digital di Indonesia. Menurutnya, pemerataan tidak sekadar menyediakan perangkat hardware atau jaringan internet, tetapi juga materi pembelajaran yang relevan dan dapat dibekali keterampilan masa depan.
Inovasi Lentera 3T menggabungkan dua pendekatan utama, yaitu aplikasi pembelajaran berbasis luring (offline) dan Program Duta Lentera berupa pendampingan antarteman (peer-to-peer mentoring).
Melalui aplikasi luring, materi pembelajaran serta kuis interaktif dapat diakses tanpa koneksi internet setelah diunduh terlebih dahulu. Sementara itu, Program Duta Lentera bertugas mendampingi pelajar dalam memahami materi serta membangun kegiatan belajar berbasis komunitas.
Untuk tahap awal, Kabupaten Sumenep dipilih sebagai wilayah percontohan (pilot project). Pemilihan daerah kepulauan ini bertujuan untuk merancang model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi infrastruktur lokal.
Rencana implementasi diawali dengan pemetaan kebutuhan pelajar dan kondisi sekolah sasaran, dilanjutkan uji coba aplikasi, pembentukan Duta Lentera, serta pelaksanaan pendampingan literasi digital dan kewirausahaan.
Pingkan menegaskan bahwa keberhasilan program ini akan diukur dari peningkatan pemahaman, keterampilan, dan kepercayaan diri pelajar dalam memanfaatkan teknologi secara bijak.
“Lentera 3T merupakan langkah kecil untuk menjawab persoalan besar. Melalui kolaborasi lintas pihak, kami berharap pelajar di Sumenep dan wilayah 3T lainnya memiliki kesempatan yang setara untuk belajar dan mempersiapkan masa depan,” pungkasnya.
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














