muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Generasi muda diajak untuk membaca dan memahami sejarah secara objektif sebagai bekal dalam membangun kehidupan yang kritis, adil, serta mampu mencegah perpecahan masyarakat. Pesan utama tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Kajian Akbar yang menjadi puncak gelaran IQT Fair XII 2026 di Gedung Graha 58 Serbaguna Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (26/9/2026).
Mengusung tema “Membaca Sejarah, Membentuk Generasi Berakal: Kuasa, Keadilan, dan Akar Perpecahan”, kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi bagi generasi muda guna memetik pelajaran berharga dari perjalanan umat dan peradaban terdahulu.
Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UMS, Dr. Kharis Nugroho, Lc., M.Ud., menekankan krusialnya pembentukan generasi berakal (ulul albab) sebagaimana termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 190–191. Menurut Kharis, orang berakal tidak sekadar mengandalkan pemikiran rasional, tetapi juga menautkan daya pikirnya dengan kesadaran spiritual melalui pengingatan kepada Allah dan perenungan atas ciptaan-Nya.
Guna memotivasi para peserta, Kharis mengutip petuah dari gurunya, K.H. Hasan Abdullah Sahal. “Kita jangan hanya membaca sejarah, tetapi juga harus bisa menciptakan sejarah,” tegasnya saat menyampaikan sambutan. Pesan tersebut dikaitkan erat dengan kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang menyajikan rekam jejak kejayaan peradaban Islam sebagai iktibar bagi kehidupan masa kini.
Ketua Panitia IQT Fair XII 2026, Muhammad Hidayat Yunus, menambahkan bahwa pemahaman sejarah yang objektif sangat penting dijadikan pijakan sosial.
“Sejarah tidak hanya menjadi pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga harus menjadi bekal dalam membentuk generasi berakal yang mampu menegakkan keadilan serta mengatasi berbagai bentuk perpecahan di tengah masyarakat,” ujar Hidayat, Selasa (29/9/2026).
Seminar Nasional dan Kajian Akbar ini turut menghadirkan dua narasumber, yaitu seniman sekaligus budayawan Ustadz Doni Riw serta pengajar Qiraat Asyrah Ustadz Tholhah.
Dalam pemaparannya, Doni Riw menganalogikan sejarah seperti sebuah foto yang mengabadikan peristiwa masa lalu untuk dipelajari kembali pada masa mendatang. Makna sejarah, menurut Doni, akan terasa semakin dalam ketika seseorang menyadari keterikatan dirinya dengan peristiwa sejarah tersebut.
Di sisi lain, Ustadz Tholhah menggarisbawahi pentingnya menuntut ilmu secara konsisten (istiqamah) sebagai bentuk ibadah sepanjang hayat. Ia menjelaskan bahwa proses belajar dimulai sejak seseorang memasuki fase tamyiz—kondisi saat anak mulai mampu membedakan hal baik dan buruk—hingga akhir hayat, baik melalui jalur formal maupun pengalaman hidup sehari-hari.
Rangkaian acara ini sekaligus menandai penutupan ajang IQT Fair XII 2026, sebuah kompetisi Al-Qur’an dan keislaman tingkat nasional untuk peserta berusia 15–24 tahun dari kalangan pelajar SMA/SMK/MA, santri pondok pesantren, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Sebelum puncak acara, babak penyisihan telah diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom pada Ahad (20/9/2026). Terdapat empat cabang kompetisi yang dilombakan, yakni Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Musabaqah Tilawah Qur’an (MTQ), Pidato Bahasa Indonesia, serta Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (MKTIQ). Rangkaian kegiatan resmi berakhir dengan pengumuman serta penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba.















