muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat (PK) Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Seminar Gender bertajuk “Misogini dalam Tafsir atau dalam Teks? Kajian Kritis atas Dalil-Dalil Gender” pada Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) UMS I.3.7 dan I.3.8 tersebut dihadiri oleh mahasiswa lintas gender untuk mendiskusikan pemahaman dalil-dalil keagamaan secara komprehensif.
Narasumber utama seminar, Alfiyatul Azizah, Lc., M.Ud., yang menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam (FAI) UMS sekaligus Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah, menegaskan bahwa Islam pada prinsipnya memandang laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sejajar.

“Laki-laki dan perempuan adalah setara, adalah sama. Namun, ada satu hal yang tidak akan bisa dilampaui manusia, yaitu laki-laki menjadi perempuan atau perempuan menjadi laki-laki, yakni fitrah,” ujar Alfiyatul di hadapan para peserta.
Sementara itu, Kepala Pondok Shabran UMS, KH. Yayuli, S.Ag., M.P.I., dalam sambutannya menekankan pentingnya peran strategis wanita muslimah dalam membangun peradaban. Menurutnya, batasan sosial tradisional terhadap perempuan harus dikikis dengan penguatan kapasitas intelektual dan moral.
“Menjadi wanita muslimah dan wanita sejati bukan sekadar tentang sumur, dapur, dan kasur. Perempuan juga memiliki ruang untuk berpikir, berpendidikan, berkarya, berdaya, dan memberikan kontribusi bagi peradaban. Sebab, kemuliaan seorang perempuan tidak hanya diukur dari perannya di dalam rumah, tetapi juga dari ilmu, akhlak, dan kebermanfaatannya bagi sesama,” tegas KH. Yayuli.
Ketua Umum IMM Shabran, Nashiruddin Amin, menjelaskan bahwa seminar ini dirancang untuk menjawab miskonsepsi publik terhadap ayat atau hadis yang kerap disalahartikan sebagai bentuk diskriminasi gender. Kesalahpahaman penafsiran ini, menurutnya, sering dimanfaatkan oleh pihak luar untuk menyudutkan posisi perempuan maupun ajaran Islam itu sendiri.

Mengenai latar belakang pemilihan tema, Ketua Panitia Seminar Gender, I Yuki Jasmine, menuturkan bahwa forum ini difokuskan untuk mengkaji secara akademis dalil-dalil yang kerap dipersepsikan merendahkan perempuan, seperti dalil mengenai populasi perempuan di neraka.
Yuki menambahkan, antusiasme peserta sangat tinggi hingga melebihi kuota awal yang ditetapkan panitia sebanyak 80 orang. Bahkan setelah pendaftaran resmi ditutup, panitia masih menerima banyaknya permintaan dari immawan dan immawati yang ingin bergabung.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, IMM PK Pondok Shabran UMS berharap dapat membangun tradisi intelektual di lingkungan mahasiswa serta mendorong pemahaman teks-teks keagamaan yang lebih kritis, objektif, dan proporsional.
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














