Berita
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jatipuro melalui SD Muhammadiyah Program Unggulan (MPU) Jatipuro menggelar Rapat Awal Tahun Pelajaran 2026/2027 dan Sosialisasi Program Sekolah di Gedung IPHI Jatipuro, Kendal Lor, Rabu (5/8/2026).
Pertemuan strategis yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 10.15 WIB tersebut diselenggarakan untuk mempererat sinergi serta menyelaraskan visi antara pihak sekolah, komite, dan seluruh orang tua atau wali murid dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik.
Kepala SD MPU Jatipuro, Bayu Dwi Atmojo, S.Pd., bersama jajaran pimpinan sekolah memaparkan secara langsung berbagai program kegiatan strategis yang akan dijalankan sepanjang tahun ajaran 2026/2027. Pemaparan ini berfokus pada upaya peningkatan kualitas prestasi siswa, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
“Sinergi dan pemahaman yang sama antara sekolah dan orang tua menjadi kunci utama dalam mendukung keberhasilan program-program yang telah dirancang. Melalui komunikasi yang aktif dan komitmen bersama, kita optimis dapat mencetak generasi yang unggul,” ujar Bayu Dwi Atmojo di hadapan para wali murid dan pengurus komite.
Melalui forum ini, SD MPU Jatipuro menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kerja sama erat dengan komite dan orang tua siswa. Kolaborasi berkelanjutan ini diharapkan mampu mewujudkan peserta didik yang unggul, berkarakter kuat, dan berkemajuan sesuai dengan nilai-nilai Islam serta persyarikatan Muhammadiyah.
KabarMu
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Biro Humas dan Protokol Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan kunjungan kehumasan ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk memperkuat sinergi dan bertukar praktik baik dalam pengelolaan reputasi institusi. Pertemuan strategis tersebut berlangsung di Ruang Sidang Rektor UMS pada Rabu (5/8/2026).
Rombongan UAD diterima secara langsung oleh Direktur Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional (DRKUI) UMS, Nurgiyatna, Ph.D. Dalam sambutannya, Nurgiyatna mengapresiasi kedatangan tim UAD dan berharap momentum ini dapat dimanfaatkan kedua belah pihak untuk saling melengkapi serta berkembang bersama dalam meningkatkan kualitas kehumasan.
Perwakilan Biro Humas dan Protokol UAD, Ariadi Nugraha, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan agenda kelembagaan pertama timnya ke UMS. Pemilihan UMS sebagai tujuan studi banding didasari oleh rekam jejak universitas tersebut yang dinilai unggul dalam mempraktikkan manajemen komunikasi publik dan reputasi.

Ariadi menegaskan, fokus utama kunjungan ini adalah untuk mempelajari strategi tata kelola kehumasan yang diterapkan UMS, terutama dalam hal penguatan branding institusi, pengelolaan pemberitaan, serta penanganan manajemen krisis.
Selama diskusi berlangsung, kedua Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) ini secara interaktif memaparkan pengalaman masing-masing. Pembahasan mencakup strategi membangun citra positif, pengelolaan komunikasi publik yang efektif, mitigasi serta penanganan isu krisis, hingga mekanisme manajemen media di lingkungan akademis.
Sinergi antarinstitusi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada sesi berbagi pengalaman, namun juga mampu melahirkan kolaborasi berkelanjutan serta inovasi baru dalam pengembangan fungsi kehumasan di UMS maupun UAD.
Berita, Opini
Ditulis oleh Teguh Anshori
Sekreteris Muhammadiyah Karanganyar
Dosen IIM Surakarta
Perubahan merupakan entitas mendasar dalam dinamika kehidupan dan peradaban manusia. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji hakikat perubahan dalam perspektif pemikiran Islam, dengan menempatkan pemikiran dan aktivitas perubahan sebagai syarat mutlak keberlangsungan peradaban. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka, tulisan ini menganalisis hubungan antara gagasan perubahan, penolakan fatalisme (jabariyah), dan potensi naluriah manusia (gharīzah an-nau’). Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Islam memandang perubahan sebagai indikator utama kehidupan (al-harakah). Penolakan terhadap perubahan dan adopsi sikap fatalistik berimplikasi pada stagnasi dan kepunahan peradaban. Untuk mengatasi resistensi dari kelompok konservatif, diperlukan agen perubahan yang memiliki pemikiran cemerlang (fikr al-munīr), kepekaan indrawi, dan ketahanan jiwa yang kuat.
Realitas kehidupan manusia secara ontologis berada dalam dinamika yang terus berkembang. Manusia pada dasarnya tidak memiliki kecenderungan untuk menerima begitu saja (taken for granted) realitas yang dihadapinya. Ketika berada dalam situasi yang serba terbatas atau buruk, timbul dorongan alami untuk melakukan koreksi dan perbaikan (islāh). Sebaliknya, ketika berada pada kondisi yang kondusif dan sejahtera, manusia terdorong untuk mencatatkan akumulasi pencapaian yang lebih tinggi.
Berpikir dan bertindak untuk perubahan bukan sekadar pilihan opsional, melainkan sebuah keniscayaan eksistensial. Keengganan untuk berubah tidak hanya berakibat pada ketertinggalan, melainkan berujung pada kepunahan suatu peradaban. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan merekonstruksi landasan konseptual mengenai perubahan dalam Islam, bagaimana dorongan internal manusia bekerja, serta tantangan sosial yang dihadapi oleh para agen perubahan.
Perubahan sebagai Dialektika Gerak dan Kehidupan
Dalam filsafat dan kosmologi Islam, eksistensi ditandai oleh adanya gerakan (al-harakah). Gerak merupakan indikator utama dari kehidupan, sedangkan kondisi diam (al-sukūn) atau pasivitas merupakan pertanda dari kematian intelektual maupun sosial.
Prinsip teologis mengenai pentingnya ikhtiar transformatif ini secara eksplisit ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)
Ayat di atas menetapkan hukum kausalitas sosial (sunnatullāh) bahwa keberlangsungan dan kualitas hidup suatu masyarakat sangat bergantung pada dorongan internal (inward drive) masyarakat itu sendiri untuk menginisiasi perubahan.
Penolakan Terhadap Doktrin Fatalisme (Jabariyah)
Upaya menggerakkan perubahan menuntut pembebasan akal dari pandangan fatalisme. Fatalisme yang dalam sejarah pemikiran Islam diwakili oleh paham Jabariyah merupakan sikap pasrah secara total terhadap realitas tanpa adanya ikhtiar objektif. Pandangan ini mereduksi potensi akal dan kehendak bebas (irādah) yang dianugerahkan Tuhan.
Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya respons aktif dan optimisme dalam menghadapi situasi seburuk apa pun, sebagaimana dirwayatkan dalam sebuah hadis:
“Jika kiamat hampir tiba dan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad no. 12981 dan Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad no. 479)
Hadis ini memberikan pesan alegoris yang sangat kuat, manusia dituntut untuk terus berkarya dan melakukan tindakan perbaikan hingga detik terakhir kehidupan, tanpa terjebak dalam sikap pesimisme fatalistik.
Gharīzah an-Nau’ dan Sensitivitas Sosial
Secara antropologis, Allah SWT membekali manusia dengan berbagai potensi intrinsik, salah satunya adalah gharīzah an-nau’ (naluri untuk melestarikan dan mempertahankan jenis manusia). Naluri ini tidak hanya mewujud dalam dorongan biologis-reproduktif, tetapi juga termanifestasi dalam bentuk empati, kepedulian sosial, serta dorongan kolektif untuk melindungi sesama dari ancaman kebodohan dan ketidakadilan.
Prinsip kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa yang tidak mempedulikan urusan umat Islam, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7889)
Gharīzah an-nau’ yang terolah dengan baik akan melahirkan kepekaan (sensitivity) terhadap realitas objektif. Kepekaan inilah yang menggerakkan kesadaran manusia untuk memetakan persoalan di sekitarnya dan merumuskan langkah-langkah transformatif.
Tantangan Resistensi Sosial
Sejarah transformasi sosial menunjukkan bahwa gagasan perubahan selalu berhadapan dengan barikade resistensi. Penghalang utama perubahan umumnya bersumber dari:
1. Kelompok konservatif yang ingin mempertahankan status-quo (al-muta’as|s|ibūn).
2. Budaya ketidakmauan berpikir (intellectual laziness).
3. Kelemahan penalaran dalam merespons dinamika zaman.
Al-Qur’an mengkritik keras penganut sikap dogmatis-konservatif yang enggan melakukan perubahan hanya karena ingin mengekor pada tradisi lama tanpa pertimbangan rasional:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah [2]: 170)
Kualifikasi Agent of Change
Untuk menembus benteng resistensi tersebut, dibutuhkan sosok kepemimpinan dan agen perubahan (agent of change) yang memiliki kualifikasi unggul:
• Pemikiran Cemerlang (Fikr Al-Munīr): Mampu melihat akar masalah secara mendalam dan menawarkan solusi fundamental, bukan sekadar respons teknis-pragmatis.
• Kepekaan Indrawi-Intelektual (Sharp Perception): Memiliki jangkauan penginderaan yang tajam terhadap krisis yang sedang mengintai masyarakat.
• Ketahanan Jiwa (Spiritual & Mental Strength): Memiliki keberanian moral dan jiwa yang besar untuk menanggung risiko perjuangan perubahan.
Karakteristik ini direfleksikan dalam seruan Rasulullah SAW untuk mengubah kemungkaran atau ketimpangan sosial melalui berbagai tingkatan aksi:
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya (kekuasaan/tindakan nyata); jika tidak mampu, maka dengan lisannya (narasi/pemikiran); dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)
Perubahan dalam perspektif Islam merupakan representasi dari dinamika kehidupan itu sendiri. Menolak perubahan dan mengadopsi sikap fatalisme merupakan bentuk kemunduran yang mengancam eksistensi peradaban. Berbekal potensi intrinsik gharīzah an-nau’, manusia didorong untuk peka terhadap realitas sosialnya dan melakukan tindakan transformatif. Meskipun jalan perubahan senantiasa dihalangi oleh pemikiran konservatif dan stagnan, hadirnya individu-individu yang berintegritas, berjiwa besar, serta memiliki pemikiran yang cemerlang (fikr al-munīr) akan menjadi konduktor utama menuju terwujudnya tatanan peradaban yang berkeadilan dan bermartabat.
Aisyiyah, Berita
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Colomadu menggelar kegiatan Evaluasi Program Kerja Tahunan pada Sabtu (1/8/2026) di MI Muhammadiyah Gedongan, Colomadu. Agenda strategis ini menjadi momentum penting untuk meninjau capaian kinerja sekaligus memperkuat sinergi antarranting demi mewujudkan organisasi perempuan Islam yang semakin solid, profesional, dan berdaya guna bagi masyarakat.
Dalam forum yang mengusung semangat kolaborasi tersebut, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Tohudan secara resmi dianugerahi penghargaan sebagai ranting paling aktif. PRA Tohudan dinilai unggul dalam konsistensi kehadiran, partisipasi aktif pada setiap agenda cabang, serta kontribusi nyata dalam mendukung program kerja organisasi di tingkat kecamatan.
Kegiatan evaluasi tahunan ini dihadiri secara penuh oleh perwakilan dari 11 Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) se-Kecamatan Colomadu, yakni PRA Baturan, Blulukan, Bolon, Gajahan, Gawanan, Gedongan, Klodran, Malangjiwan, Ngasem, Paulan, dan Tohudan. Masing-masing ranting menyampaikan laporan kinerja, capaian program, kendala lapangan, hingga berbagai inovasi pelayanan yang telah dijalankan selama periode berjalan.

Sekretaris PCA Colomadu, Dian Ardiyani, S.Th.I., S.T., M.Pd., menyampaikan bahwa evaluasi ini bukan sekadar ajang penilaian kinerja formal, melainkan sarana refleksi bersama untuk meningkatkan tata kelola organisasi yang adaptif dan berorientasi pada kemajuan.
“Kolaborasi yang baik akan melahirkan program-program yang lebih kuat dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas. Oleh karena itu, komunikasi, koordinasi, dan semangat saling mendukung harus terus diperkuat agar setiap program dapat berjalan secara optimal,” tegas Dian Ardiyani di hadapan para peserta evaluasi.
Lebih lanjut, Dian mengajak seluruh jajaran pimpinan ranting untuk terus mengasah kapasitas kepemimpinan melalui budaya kerja profesional dan semangat saling berbagi pengalaman (best practice). Langkah ini dinilai vital agar gerakan Aisyiyah senantiasa relevan dalam menjawab tantangan zaman dengan tetap berakar pada nilai-nilai Islam berkemajuan.
Penghargaan yang diraih oleh PRA Tohudan diharapkan mampu menjadi pemantik motivasi bagi 10 ranting lainnya untuk terus meningkatkan partisipasi dan mutu pelayanan organisasi. PCA Colomadu menegaskan bahwa parameter keberhasilan Aisyiyah tidak hanya diukur dari kuantitas kegiatan, tetapi dari dampak nyata, keberlanjutan kolaborasi, serta kemaslahatan yang dirasakan oleh masyarakat luas. (Setia Budi – MPI PCM Colomadu)
Berita, Pendidikan, SekolahMu
muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — MI Muhammadiyah Karanganyar sukses menyabet gelar Juara Umum dalam ajang Olimpiade Sains Madrasah (OSMA) tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kepastian tersebut diperoleh setelah kontingen sekolah memborong empat medali, yang terdiri atas dua medali emas dan dua medali perunggu.
Penghargaan resmi diserahkan dalam acara Penganugerahan Medali OSMA di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Tengah. Agenda tersebut dihadiri oleh jajaran kepala madrasah, guru pendamping, serta perwakilan Kantor Kemenag Kabupaten se-Jawa Tengah.
Capaian membanggakan ini diraih berkat kontribusi siswa-siswi terbaik MI Muhammadiyah Karanganyar pada dua cabang kompetisi. Pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Fahri Al Ghozali berhasil meraih Medali Emas, sedangkan Galendra Ruci menyumbangkan Medali Perunggu. Sementara di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Naufal Altaf Astama sukses mengamankan Medali Emas, disusul Faisal Yafiq Azizi Rakhman yang memboyong Medali Perunggu.
Perolehan empat medali tersebut mengantarkan MI Muhammadiyah Karanganyar menjadi madrasah dengan raihan medali terbanyak pada ajang OSMA Jawa Tengah tahun ini.
Kepala MI Muhammadiyah Karanganyar, Sartini, S.Pd., M.Pd., yang hadir mendampingi kontingen bersama Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Kabupaten Karanganyar, menyampaikan rasa syukur mendalam dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar MI Muhammadiyah Karanganyar sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh peserta didik untuk terus berani bermimpi, berusaha, dan berprestasi. Kami berharap capaian ini tidak membuat kami cepat berpuas diri, tetapi justru menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, pembinaan karakter, serta budaya berprestasi di madrasah,” ujar Sartini.
Sartini menegaskan, keberhasilan ini merupakan buah dari kedisiplinan, semangat belajar para siswa, pembinaan intensif oleh guru pembimbing, serta sinergi yang harmonis antara pihak madrasah, orang tua, dan seluruh warga sekolah.
Dengan raihan gelar Juara Umum OSMA Provinsi Jawa Tengah ini, MI Muhammadiyah Karanganyar kian memperkuat reputasinya sebagai lembaga pendidikan unggulan yang berfokus melahirkan generasi cerdas, berakhlak mulia, dan berdaya saing di tingkat regional, nasional, maupun internasional.