Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menggelar Gelar Karya Mata Kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia SD pada Rabu (1/7/2026). Bertempat di Taman dan Hall Moh. Djazman UMS, ajang ini memamerkan sebanyak 49 inovasi media pembelajaran interaktif yang dirancang khusus untuk memenuhi karakteristik siswa sekolah dasar.
Kegiatan ini menjadi wadah nyata bagi para mahasiswa untuk menyalurkan kreativitas dalam mendukung empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual, media-media tersebut diharapkan mampu mendongkrak minat belajar sekaligus memperkuat literasi anak sejak dini.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi PGSD UMS, Dr. Murfiah Dewi Wulandari, S.Psi., M.Psi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kemampuan merancang media pembelajaran yang menarik merupakan kompetensi krusial bagi calon pendidik guna menghadapi tantangan pembelajaran abad ke-21.
“Guru harus mampu membuat media pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan kognitif siswa. Literasi akan tumbuh dengan baik apabila didukung oleh media yang menarik, sehingga siswa merasa senang belajar dan terdorong untuk terus membaca, menulis, serta berkomunikasi,” ujar Murfiah. Ia juga memberikan apresiasi tinggi atas semangat mahasiswa yang telah melahirkan berbagai terobosan sebagai bekal sebelum terjun langsung ke dunia pendidikan.
Gelar karya ini merupakan bentuk implementasi dari project-based learning (pembelajaran berbasis proyek) pada mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia SD yang diampu oleh Dr. Fitri Puji Rahmawati, M.Hum., M.Pd., bersama Eko Purnomo, S.Pd., M.Pd. Melalui metode ini, mahasiswa tidak sekadar memahami teori di dalam kelas, melainkan dituntut menghasilkan produk aplikatif yang relevan dengan kebutuhan riil di lapangan.
Eko Purnomo, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan ini berfungsi sebagai sarana untuk membangun pengalaman belajar yang bermakna, bukan sekadar alat bantu mengajar di depan kelas.
“Harapannya, media yang mereka kembangkan mampu meningkatkan kemampuan literasi siswa sekaligus menciptakan suasana belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan,” tutur Eko.
Selama pameran berlangsung, antusiasme pengunjung tampak memadati area Hall Moh. Djazman. Setiap kelompok mahasiswa dengan sigap mempresentasikan konsep, metode penggunaan, hingga target capaian pembelajaran dari masing-masing media.
Melalui kesuksesan agenda ini, PGSD UMS (ums.ac.id) terus mempertegas komitmennya dalam mencetak lulusan calon guru yang profesional, kreatif, dan adaptif. Gelar karya ini menjadi bukti otentik bahwa mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, melainkan juga terampil dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung pada masyarakat. (Adi/Humas)
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kelompok 32 menggelar demonstrasi pertolongan pertama pada anak tersedak di Desa Geneng, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Senin (22/6/2026). Kegiatan ini menyasar para ibu balita sebagai upaya preventif menghadapi kondisi kegawatdaruratan yang kerap mengancam keselamatan anak.
Kasus tersedak diketahui masih menjadi salah satu ancaman utama pada balita yang berada dalam fase aktif mengenal makanan dan benda asing. Keterlambatan penanganan dapat memicu sumbatan jalan napas yang fatal, sehingga edukasi ini dinilai krusial bagi masyarakat setempat.
Ketua KKN UMS Kelompok 32, Ata Rafif Khalifah, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan orang tua. Melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan memiliki keterampilan untuk mengambil tindakan awal yang cepat dan tepat sebelum mendapatkan penanganan medis dari tenaga kesehatan.
“Sebanyak 20 ibu balita mengikuti kegiatan yang diawali dengan registrasi, kemudian dilanjutkan penyampaian materi mengenai pengertian tersedak, penyebab, tanda dan gejala sumbatan jalan napas, hingga langkah-langkah pertolongan pertama yang disesuaikan dengan usia anak. Materi disampaikan secara interaktif agar peserta memahami konsep dasar sebelum memasuki sesi praktik,” ungkap Ata, Rabu (1/7/2026).
Setelah pemaparan teori secara interaktif, mahasiswa KKN memandu sesi praktik menggunakan alat peraga. Tahapan penanganan didemonstrasikan secara sistematis sesuai dengan standar medis penanganan sumbatan jalan napas. Para ibu balita yang hadir juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan teknik tersebut secara langsung di bawah pendampingan ketat para mahasiswa.
Ata menambahkan, penguasaan teknik pertolongan pertama ini tidak hanya sekadar memberikan pemahaman teori, melainkan juga menumbuhkan keberanian mental bagi orang tua saat menghadapi situasi panik di rumah.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang acara. Berdasarkan evaluasi di akhir kegiatan, sebagian besar ibu balita di Desa Geneng tercatat telah memahami langkah-langkah dasar penanganan anak tersedak dan mampu mempraktikkannya dengan benar.
Melalui program edukasi intensif ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) domestik dapat meningkat, sekaligus memperkuat terwujudnya lingkungan keluarga yang sehat, tanggap, dan peduli terhadap situasi darurat. (Fika/Humas)
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA) Klaten Selatan menggelar Pelatihan Mengajar Anak Usia Dini Berbasis Perkembangan Anak. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan kompetensi guru prasekolah ini diikuti oleh 49 guru dari 19 lembaga Kelompok Bermain (KB), Raudhatul Atfal (RA), dan TK Aisyiyah se-Klaten Selatan.
Agenda pengabdian masyarakat tersebut berlangsung di Wisma Yatim Desa Ngalas, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, pada Kamis (25/6/2026).
Untuk membekali para peserta, UMS menghadirkan dua pakar dari Fakultas Psikologi, yaitu Lusi Nuryanti, M.Si., Ph.D., Psikolog, dan Bayu Suseno, M.Psi., Psikolog, sebagai narasumber utama. Keduanya memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya merancang proses pembelajaran yang selaras dengan tahapan pertumbuhan psikologis anak.
Ketua tim pengabdian UMS, Lusi Nuryanti, menegaskan bahwa pemahaman karakteristik perkembangan anak merupakan modal utama bagi guru untuk mengoptimalkan potensi murid sejak dini. Pengajaran di tingkat prasekolah tidak boleh hanya bertumpu pada satu aspek saja.
“Setiap anak berkembang dengan kecepatan dan karakteristik yang berbeda. Guru perlu memahami tahap perkembangan tersebut agar kegiatan belajar tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga mendukung perkembangan sosial, emosional, bahasa, motorik, dan kognitif anak secara seimbang,” ujar Lusi, Rabu (1/7/2026).
Ia menambahkan, sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi seperti IGABA merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan anak usia dini. UMS berkomitmen untuk memberikan pendampingan berkelanjutan agar para guru terus mendapatkan pembaruan ilmu psikologi pendidikan.
Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini juga mengedepankan metode interaktif. Selain mendengarkan paparan materi, 49 guru yang hadir terlibat aktif dalam sesi diskusi dan berbagi pengalaman mengenai tantangan mengajar di kelas.
Tim pengabdian UMS turut melibatkan dua mahasiswa Program Sarjana dan dua mahasiswa Program Magister untuk mendukung jalannya acara. Salah satu mahasiswa Magister Psikologi UMS sekaligus Kepala TK Aisyiyah dan Aktivis IGABA Magetan, Winarningsih, turut membagikan praktik baik (positive practices) yang telah sukses diterapkan di sekolahnya.
Kolaborasi ini disambut positif oleh pihak mitra. Ketua IGABA Klaten Selatan, Sri Suparti, S.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi kepada Fakultas Psikologi UMS atas kontribusi nyata dalam mendongkrak kualitas pedagogik para pendidik Aisyiyah.
“Kami sangat mendukung kerja sama seperti ini karena memberikan manfaat yang besar bagi guru-guru Aisyiyah. Materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan menambah wawasan para pendidik. Kami berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan,” tutur Sri Suparti.
Antusiasme serupa juga diutarakan oleh Siti Masitoh, perwakilan guru dari KB Aisyiyah Ngalas. Menurutnya, pelatihan ini sangat membantu para guru di lapangan karena selain materinya mudah dipahami dan relevan, aksesnya pun diberikan secara cuma-cuma.
“Kami sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini. Materinya sangat bermanfaat, mudah dipahami, dan memberikan banyak wawasan baru tentang cara mendampingi anak sesuai tahap perkembangannya. Yang membuat kami semakin senang, pelatihan ini diselenggarakan secara gratis,” pungkas Siti Masitoh.
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Interprofessional Education (KKN IPE) Kelompok 65 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan inovasi edukasi kesehatan melalui Games “Lampu Sehat Lansia”. Metode interaktif ini dihadirkan untuk memberikan pemahaman mengenai penyakit hipertensi dan diabetes mellitus dengan cara yang lebih menyenangkan dan partisipatif bagi para lansia.
Inovasi tersebut diterapkan dalam program SERUNI (Sehat Rutin Mengontrol Hipertensi dan Diabetes Mellitus) yang dilaksanakan di dua lokasi di Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan berlangsung di Posyandu Lansia Nusa Indah pada 20 Juni 2026 dan dilanjutkan di Posyandu Lansia Kamboja pada 22 Juni 2026.
Koordinator Kelompok 65 KKN IPE UMS, Afiza Fitriana Sabilla, menerangkan bahwa permainan “Lampu Sehat Lansia” ini sengaja dirancang dengan mengadaptasi konsep lampu lalu lintas yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Konsep tersebut kemudian diadaptasi menjadi media pembelajaran sederhana dengan tiga pilihan jawaban, yaitu kartu hijau yang berarti benar, kartu kuning yang berarti ragu-ragu, dan kartu merah yang berarti salah,” jelas Afiza pada Rabu (1/7/2026).
Pelaksanaan edukasi ini diawali dengan penyampaian materi secara bertahap menggunakan lembar balik (flipchart) berukuran A3 yang dilengkapi dengan tulisan besar, ilustrasi menarik, serta bahasa yang mudah dipahami. Materi yang disampaikan mencakup pengertian hipertensi dan diabetes, faktor risiko, gejala, pola makan sehat, pembatasan gula, garam, dan lemak, aktivitas fisik, kepatuhan minum obat, pemeriksaan rutin, hingga pencegahan komplikasi.
Setiap kali satu subtopik selesai dipaparkan, peserta lansia diminta untuk menjawab pernyataan pada flipchart dengan cara mengangkat kartu berwarna sesuai pilihan jawaban mereka. Setelah itu, pemateri langsung membahas jawaban yang benar sebagai bentuk evaluasi formatif untuk mengukur pemahaman peserta secara berkala sekaligus meluruskan kekeliruan secara langsung.
Afiza menambahkan bahwa pendekatan ini dipilih karena mempertimbangkan karakteristik fisik lansia yang umumnya mengalami penurunan fungsi penglihatan, daya ingat, maupun motorik halus.
“Dibandingkan harus mengisi lembar soal, peserta hanya perlu mengangkat kartu berwarna sesuai jawaban yang dipilih. Cara sederhana tersebut membuat lansia lebih percaya diri untuk berpartisipasi, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sekaligus menjaga fokus peserta selama penyuluhan berlangsung,” tambahnya.
Program SERUNI ini juga menjadi wujud nyata dari implementasi konsep Interprofessional Education (IPE), di mana mahasiswa dari berbagai program studi berkolaborasi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Kelompok KKN ini terdiri dari mahasiswa lintas disiplin ilmu di FIK UMS, meliputi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi, Keperawatan, dan Fisioterapi.
Selain mendapatkan penyuluhan interaktif, para lansia yang hadir juga mendapatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis. Pemeriksaan tersebut meliputi pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol sebagai langkah deteksi dini sekaligus pemantauan kondisi kesehatan berkala.
Guna menjamin keberlanjutan dampak program, mahasiswa KKN IPE Kelompok 65 UMS turut menyerahkan media lembar balik (flipchart) tersebut kepada para kader Posyandu Lansia Desa Plumbon. Harapannya, media ini dapat digunakan kembali sebagai sarana edukasi pada kegiatan posyandu maupun penyuluhan kesehatan di masa mendatang.
Berdasarkan testimoni para peserta setelah kegiatan, metode Games “Lampu Sehat Lansia” terbukti efektif membantu mereka memahami materi dengan lebih mudah. Kombinasi penyampaian materi yang bertahap, penggunaan visual yang jelas, serta selingan permainan kartu berwarna dinilai berhasil membuat lansia lebih nyaman dan aktif selama kegiatan berlangsung.
Pendidikan
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Obby Taufik Hidayat, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sukses menyelesaikan program international fieldwork (kerja lapangan internasional) selama enam minggu di Singapore Institute of Technology (SIT), Singapura.
Kegiatan yang berlangsung dari 12 Mei hingga 16 Juni 2026 ini berfokus pada penelitian komparatif bertajuk “Implementasi Pembelajaran Berbasis Pelayanan (service learning) di Perguruan Tinggi di Indonesia dan Singapura.” Riset ini bertujuan mengeksplorasi serta membandingkan praktik service learning, keterlibatan masyarakat (community engagement), dan inisiatif inovasi sosial di kedua negara.
Proyek akademik tingkat internasional ini berhasil memperoleh pendanaan bergengsi dari Sylff Research Grant (SRG) 2026. Selain itu, riset ini didukung oleh hibah dana Riset Kerja Sama Internasional (RKI) dari UMS, serta fasilitas penelitian (in kind) yang disediakan langsung oleh pihak SIT.
Selama di Singapura, Obby melakukan kolaborasi intensif dengan Community Leadership and Social Innovation Centre (CLASIC) SIT di bawah bimbingan langsung Director of CLASIC SIT, Prof. Dr. Intan Azura Mokhtar. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pimpinan dan staf CLASIC, observasi lapangan, analisis dokumen, serta diskusi dengan mahasiswa yang terlibat dalam Social Innovation Project (SIP).
Berdasarkan temuan di lapangan, SIP merupakan pedagogi inovatif di SIT yang memiliki karakteristik serupa dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Indonesia. Namun, SIP menerapkan pendekatan ‘beyond service learning’ karena mahasiswa diwajibkan menghadirkan produk inovasi konkret sebagai solusi atas masalah nyata di masyarakat.
“Di sana mahasiswa tidak hanya datang ke masyarakat untuk melakukan pengabdian, tetapi mereka harus menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan yang ada. Kalau KKN biasanya luarannya berupa refleksi atau laporan, tetapi SIP harus menghasilkan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Obby dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Beberapa contoh nyata proyek SIP yang ditemukan meliputi pengembangan kursi roda efektif untuk lansia pengguna transportasi publik, serta aplikasi digital pelacak daur ulang guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Selain itu, masa persiapan mahasiswa SIT tergolong panjang, yakni mencapai satu tahun untuk mengidentifikasi masalah sebelum terjun ke lapangan, berbeda dengan durasi KKN di Indonesia yang umumnya hanya berlangsung satu bulan.
Temuan ini dinilai dapat menjadi bahan evaluasi penting bagi pemangku kebijakan perguruan tinggi di Indonesia guna memperkuat pilar identifikasi masalah dan pemberdayaan berbasis keilmuan mahasiswa.
Selain melakukan riset, Obby juga berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan guest lecture di SIT untuk memaparkan konsep service learning di Indonesia. Momen tersebut dimanfaatkannya untuk menginisiasi kerja sama formal antara FKIP UMS dan CLASIC SIT.
Pihak CLASIC SIT menyambut baik peluang kolaborasi tersebut. Ke depan, kerja sama strategis ini diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen di atas kertas, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata seperti program pertukaran mahasiswa, kolaborasi riset internasional, hingga proyek sosial bersama antara Indonesia dan Singapura.