muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Tim Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil meraih medali perak di kejuaraan Youth International Science Fair (YISF) yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 6–9 April 2026, dengan kategori Innovation Science. Tim FKG UMS membawa inovasi DentAware sebagai solusi dari masalah kesehatan gigi dan mulut.
Inovasi yang diangkat oleh tim adalah pengembangan sebuah prototipe berbasis Artificial Intelligence diberi nama DentAware, berfungsi sebagai sistem screening intraoral untuk mendeteksi plak dan kavitas karies secara dini. Melalui prototipe ini, pengguna dapat melakukan pemindaian kondisi gigi hanya dengan mengambil atau mengunggah foto gigi mereka.
Kemudian, sistem akan menganalisis citra tersebut menggunakan teknologi AI untuk mengidentifikasi adanya plak maupun indikasi awal karies. DentAware: AI-Based Prototype for Oral Health Screening Using Intraoral Images and Digital Visual Analysis Technology to Support Early Awareness merupakan karya inovasi dari Aryabima Aulia Nuswantoro bersama tim yang beranggotakan Hasna Faiha Tazkiya, Octavia Ferdina Faradilla Ramadhani, Raihan Priyanto, dan Ridha Naura Triviana yang dibimbing oleh drg. Morita Sari, MPH, Dr.PH.
Aryabima menerangkan, prototipe mereka tidak hanya berhenti tetapi juga diintegrasikan dengan fitur lanjutan seperti rekomendasi klinik gigi terdekat berbasis lokasi, serta oral care reminder yang membantu pengguna menjaga rutinitas perawatan gigi.
“Dengan menggabungkan seluruh fitur tersebut, kami berharap DentAware dapat menjadi solusi skrining yang praktis, mudah digunakan oleh masyarakat awam di rumah, namun tetap terhubung dengan layanan kesehatan profesional sebagai tindak lanjut,” kata Aryabima, Selasa (21/4).
Inovasi ini berangkat dari fakta bahwa permasalahan kesehatan gigi dan mulut, khususnya plak dan karies, masih sangat tinggi, namun kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini masih rendah. Berdasarkan data yang telah didapatkan oleh tim, sekitar 57% masyarakat Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut, tetapi hanya sekitar 11,2% yang mencari pengobatan.
“Ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan dan tindakan perawatan,” tekan Aryabima.
Di sisi lain, tambahnya, metode deteksi plak yang saat ini digunakan di dunia kedokteran gigi masih bergantung pada penggunaan disclosing agent, yang memerlukan bantuan tenaga medis seperti dokter gigi dan perawat gigi serta tidak praktis untuk dilakukan secara mandiri. Selain itu, proses evaluasi tingkat plak maupun diagnosis awal karies juga masih membutuhkan analisis langsung oleh dokter gigi.
DentAware bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai alat bantu skrining awal berbasis AI, agar masyarakat dapat mendeteksi kondisi gigi mereka secara mandiri sejak dini sebelum melakukan pemeriksaan lanjutan ke dokter gigi.
Dalam prototipe DentAware, terdapat beberapa fitur unggulan yang saling terintegrasi. Pertama, Dental Scan, yaitu fitur yang memungkinkan pengguna mengambil atau mengunggah foto gigi melalui kamera atau galeri. Gambar tersebut kemudian dianalisis menggunakan teknologi digital visual analysis berbasis Artificial Intelligence dengan metode Convolutional Neural Network atau CNN untuk mendeteksi indikasi plak dan tanda awal karies berdasarkan pola warna dan tekstur permukaan gigi.
Kedua, Plaque Detection, di mana sistem AI akan mengidentifikasi dan menandai area yang terindikasi adanya plak dengan highlight visual, sehingga pengguna dapat melihat lokasi plak secara jelas. Selain itu, sistem juga menghitung estimasi luas plak dan mengklasifikasikan tingkat risikonya menjadi rendah, sedang, atau tinggi, dengan integrasi data dari kuesioner kebiasaan kesehatan mulut.
Ketiga, Caries Detection, yang berfokus pada identifikasi tanda klinis karies seperti white spots, perubahan warna kecoklatan atau kehitaman, hingga adanya kavitas. Hasil deteksi ditampilkan dalam bentuk visualisasi area terdampak serta estimasi tingkat keparahan, yang kemudian dikombinasikan dengan data kebiasaan pengguna untuk menghasilkan advice and treatment plan.
Keempat, Nearest Location, yaitu fitur berbasis Location-Based Service yang merekomendasikan klinik atau dokter gigi terdekat lengkap dengan informasi lokasi, jam operasional, dan akses navigasi langsung, sehingga memudahkan pengguna untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Kelima, Oral Care Reminder, yang berfungsi sebagai pengingat kontrol atau perawatan gigi secara berkala, sehingga pengguna dapat menjaga kontinuitas perawatan mereka. Keunggulan utama dari DentAware adalah integrasi antara deteksi dini berbasis AI, edukasi, serta akses layanan kesehatan dalam satu sistem yang praktis dan user-friendly, sehingga tidak hanya membantu identifikasi masalah, tetapi juga mendorong tindakan lanjutan.
Dengan keunggulan DentAware, ia berharap DentAware tidak hanya berhenti sebagai sebuah prototipe atau karya kompetisi, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi aplikasi nyata yang dapat digunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia.
“Kami juga berharap inovasi ini dapat meningkatkan awareness masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, terutama dalam mendeteksi plak dan karies sejak dini, karena keduanya merupakan faktor awal dari berbagai penyakit gigi yang lebih serius seperti penyakit periodontal maupun periapikal,” harap Aryabima.
Selain itu, tim berharap DentAware juga dapat membantu tenaga medis, khususnya dokter gigi, dalam meningkatkan efisiensi pelayanan, baik dalam proses skrining awal maupun dalam pengelolaan data pasien.
Dekan FKG Dr. drg. Noor Hafida Widyastuti, Sp.KG., mengungkapkan rasa bangganya atas torehan prestasi yang dibawa oleh tim FKG UMS di ajang bergengsi Youth International Science Fair 2026 dalam kategori Innovation Science.
“Prestasi ini menjadi bukti nyata dedikasi, kerja keras, serta kemampuan akademik dan inovatif yang unggul di tingkat internasional,” ungkap Noor Hafida.
Menurutnya, karya DentAware merupakan bentuk kepedulian dalam meningkatkan derajat kesehatan gigi masyarakat. Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berinovasi, berprestasi, dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal menuju prestasi-prestasi gemilang berikutnya di kancah nasional maupun internasional. (Maysali/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Semangat Raden Ajeng Kartini tak pernah benar-benar usai. Ia hidup dalam denyut gerakan perempuan masa kini. Salah satunya tercermin dalam sosok Ninin Karlina, S.Ud., alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta ums.ac.id (UMS) figur inspiratif Muhammadiyah ‘Aisyiyah Solo Raya yang terus menghidupkan nilai-nilai emansipasi dalam wajah yang lebih kontekstual dan progresif.
Ninin juga menerima penghargaan dari Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., sebagai apresiasi dan dedikasi kemanusiaan, perdamaian, dan pemberdayaan perempuan pada momentum rangkaian Hari Jadi ke-66 UMS lalu. Pengakuan ini bukan sekadar simbolik, melainkan refleksi dari perjalanan panjang aktivismenya di tingkat lokal hingga global.
Ninin bukan hanya aktivis organisasi, tetapi juga aktor perubahan sosial. Kiprahnya menjangkau berbagai sektor, mulai dari isu keberagaman, gender, hingga penanganan bencana. Salah satu pencapaian pentingnya adalah saat ia terpilih sebagai penerima beasiswa International Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2021 dengan fokus Empowering Muslim Women as Peacemaker and Agent of Change di Amerika Serikat.
Aktivitas Alumni UMS pada Youth Training for Peace Solo
Pengalaman internasional tersebut memperkaya perspektifnya dalam membaca realitas global, sekaligus memperkuat komitmennya untuk menghadirkan Islam yang ramah, inklusif, dan berkemajuan di tingkat akar rumput.
“Saya fokus di isu-isu perdamaian, kesetaraan, dan kemanusiaan, baik dalam lingkup persyarikatan Muhammadiyah, umat, maupun bangsa,” ujarnya saat dimintai keterangan, Senin, (20/4).
Bagi Ninin, Muhammadiyah sebenarnya telah selesai secara ideologis dalam memandang keberagaman. Ia merujuk pada dokumen-dokumen resmi seperti Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah yang telah mengafirmasi pentingnya nilai toleransi dan kebhinekaan.
“Tantangannya bukan lagi pada wacana, tetapi bagaimana implementasinya di tengah masyarakat yang terus berubah,” jelasnya. Dalam konteks ini, Ninin melihat pentingnya pendekatan baru dalam dakwah, yang tidak hanya normatif, tetapi juga adaptif terhadap dinamika generasi dan budaya.
Alih-alih bertumpu pada pendekatan elitis, Ninin justru menyoroti kekuatan dakwah kultural di tingkat grassroot. Menurutnya, praktik dakwah yang humanis dan membumi justru lebih efektif dilakukan oleh kader di ranting dan cabang.
Dari mimbar kecil hingga interaksi sosial sehari-hari, nilai-nilai Islam berkemajuan disampaikan dengan cara yang menyentuh sisi kemanusiaan, bukan sekadar retorika. Salah satu langkah progresif yang dilakukan Ninin adalah saat memimpin Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah (PDNA) Sukoharjo dengan mendobrak stigma domestifikasi perempuan dalam organisasi.
Prosesi pengukuhan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah se-sukoharjo. Alumni UMS, Ninin Karlina S.Ud (kanan)
Selama ini, perempuan seringkali diposisikan pada peran domestik, bahkan dalam ruang organisasi. Ninin menolak pola tersebut. “Nasyiatul ‘Aisyiyah tidak hanya soal konsumsi. Kader kami harus tampil di panggung, menjadi pemimpin, intelektual, dan profesional,” tegasnya.
Transformasi ini membuahkan hasil. Kader Nasyiatul ‘Aisyiyah di Sukoharjo kini tampil lebih percaya diri, aktif dalam berbagai bidang, dan mampu mengelola organisasi secara profesional.
Di tahun kedua kepemimpinannya, Ninin mulai memperkenalkan isu-isu yang sebelumnya dianggap sensitif, seperti gender dan feminisme.
Melalui kolaborasi dengan akademisi dan tokoh perempuan, ia menghadirkan diskursus eco-feminism serta menginisiasi program lingkungan seperti Eko-Pesantren yang mengedukasi santri tentang gaya hidup ramah lingkungan, termasuk penggunaan pembalut kain sebagai alternatif berkelanjutan.
“Kalau bukan sekarang kita mulai, kapan lagi?” ujarnya. Meski sempat menghadapi resistensi, ia memandangnya sebagai bagian dari proses edukasi sosial.
Di tengah kesenjangan generasi, Ninin menghadirkan pendekatan yang cair. Ia menggabungkan nilai tradisional dengan gaya komunikasi kekinian. Rapat organisasi digelar di ruang-ruang yang dekat dengan Gen Z, seperti kafe atau ruang kreatif, tanpa meninggalkan adab terhadap generasi senior.
Hasilnya, 12 cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah di Sukoharjo yang sebelumnya pasif kini kembali aktif dan produktif. Tidak berhenti pada wacana, Ninin juga menghasilkan produk konkret berupa SOP Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual di lingkungan Muhammadiyah.
Selain itu, langkah untuk bekerja sama dengan lembaga seperti LBH APIK dan Rahimah, menjadi salah satu terobosan penting yang bahkan mendapat apresiasi dari Kementerian Agama wilayah.
Dalam refleksinya menyambut Hari Kartini, Ninin menyampaikan pandangan tegas namun reflektif. “Perempuan itu harus feminis. Lawan kita adalah patriarki, bukan laki-laki,” ungkapnya.
Baginya, menjadi perempuan Muhammadiyah berarti melawan segala bentuk ketidakadilan seperti marginalisasi, subordinasi, kekerasan, hingga stigma sosial, karena hal tersebut tidak sejalan dengan nilai Islam berkemajuan. Namun, perjuangan itu tetap harus dibarengi dengan manajemen diri yang baik, antara peran domestik dan publik, serta dukungan lingkungan yang sehat.
Di era yang serba kompleks, Ninin menegaskan bahwa perempuan harus terus bertumbuh. “Upgrade diri tidak harus selalu lewat pendidikan formal. Forum, diskusi, dan ruang berbagi adalah tempat belajar yang luar biasa,” pesannya.
Semangat itulah yang menjadikan Ninin sebagai representasi Kartini masa kini, bukan hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga menghadirkannya dalam aksi nyata.
Dari Solo Raya, jejaknya menegaskan bahwa perempuan berkemajuan bukan sekadar konsep, melainkan gerakan hidup yang terus menyala. (Fika/Humas)
muhammadiyakaranganyar.or.id, JENAWI – Semangat silaturahmi Idul Fitri yang berpadu dengan jiwa perjuangan Kartini terpancar kuat di Kecamatan Jenawi. Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Jenawi sukses menggelar agenda ganda berupa Halal bi Halal sekaligus Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung khidmat di Masjid Bazis, Desa Balong, Jenawi, pada Minggu (19/4/2026).
Acara yang dipadati oleh kader perempuan Muhammadiyah ini dimulai sesaat setelah berakhirnya pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jenawi. Kehadiran para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam memperkuat struktur organisasi sekaligus mempererat tali persaudaraan antaranggota pasca-Lebaran.
Gamma Tri Hapsari, selaku Ketua Panitia pelaksana, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi kolektif untuk menjalankan program kerja ke depan. Gamma menyampaikan bahwa pertemuan ini bukan sekadar seremoni saling memaafkan, melainkan momentum strategis untuk mengevaluasi dan merencanakan langkah dakwah Aisyiyah di wilayah Jenawi agar lebih berdampak bagi masyarakat luas.
“Kami berharap melalui Rakor ini, setiap divisi di PCA Jenawi dapat menyelaraskan visi dan bergerak lebih lincah dalam merespons isu-isu keperempuanan dan sosial di tingkat desa hingga kecamatan,” ujar Gamma saat memberikan laporan pembukaan kegiatan.
Puncak acara diisi dengan siraman rohani yang disampaikan oleh narasumber ternama, Ustadz Subandi Harun Al Rasyid. Dalam tausiyahnya, Ustadz Subandi mengupas tuntas mengenai urgensi menjaga konsistensi ibadah setelah bulan Ramadan dan bagaimana peran perempuan dalam membangun peradaban yang berakhlakul karimah.
Ustadz Subandi menyatakan bahwa kekuatan sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas para perempuannya. Menurutnya, perempuan yang memiliki spiritualitas kokoh dan kecerdasan sosial adalah kunci kemajuan peradaban. Selain aspek spiritual, pertemuan ini secara tidak langsung menyoroti peran strategis Aisyiyah dalam melanjutkan estafet perjuangan tokoh-tokoh perempuan bangsa.
Melalui koordinasi yang matang di Masjid Bazis tersebut, PCA Jenawi berkomitmen untuk terus menghidupkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang inklusif. Acara ditutup dengan sesi koordinasi teknis antarranting dan ramah tamah. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan sangat terasa saat para kader saling bertukar pikiran mengenai tantangan dakwah di lapangan. Momen ini menjadi fondasi kuat bagi PCA Jenawi untuk menyongsong berbagai agenda penting sepanjang tahun 2026.
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Transformasi digital di bidang kesehatan kembali menunjukkan perkembangan signifikan dengan diluncurkannya NutriAI Pro, platform berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk profesi ahli gizi. Peluncuran ini digelar melalui webinar bertajuk “Resolusi Gizi Berbasis Teknologi AI” pada Minggu (19/4), yang diikuti lebih dari 250 peserta dari kalangan mahasiswa, praktisi, hingga akademisi.
Platform yang dikembangkan oleh PT NutriAI Indonesia Cerdas ini menandai evolusi dari versi awal (Minimum Viable Product/MVP) yang sebelumnya telah digunakan oleh 119 ahli gizi berbayar di seluruh Indonesia. Kini, NutriAI Pro hadir sebagai platform web profesional yang lebih terintegrasi dan siap digunakan secara luas.
Acara dibuka dengan sambutan dari Hardinsyah, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University sekaligus Ketua Dewan Pengawas LAM-PTKes periode 2025-2030. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam praktik gizi modern.
“Hari ini menjadi momentum penting. Dulu semua dikerjakan secara manual, sekarang teknologi seperti NutriAI membuka peluang efisiensi dan peningkatan kualitas layanan,” ujarnya.
Sorotan utama dalam peluncuran ini juga tertuju pada sosok pendirinya, Saminur Fauzan, yang merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kiprahnya menunjukkan kontribusi nyata lulusan UMS dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi di sektor kesehatan nasional.
Founder & CEO NutriAI tersebut menjelaskan bahwa platform ini lahir dari pengalaman langsung sebagai ahli gizi klinis yang menghadapi beban administratif tinggi.
“NutriAI bukan sekadar alat, tetapi mitra kerja yang akan mengubah cara ahli gizi Indonesia bekerja. Dengan teknologi ini, pekerjaan administratif yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dalam hitungan menit,” ungkapnya, Senin, (20/4).
NutriAI Pro mengintegrasikan tiga fitur utama, yakni AI NCP Generator, AI Menu Diet, serta sistem manajemen pasien terintegrasi. Dengan teknologi ini, beban administratif harian ahli gizi yang bisa mencapai 4–5 jam dapat ditekan secara signifikan, sehingga mereka dapat lebih fokus pada pelayanan pasien.
Peluncuran ini juga didukung oleh sejumlah mitra strategis, termasuk International Islamic University Malaysia, PERSAGI, AIPGI, serta Harvard T.H. Chan School of Public Health.
Sebagai startup health-tech yang berdiri sejak 2025 di Dharmasraya, Sumatera Barat, NutriAI mengusung tagline “Built by Experts, Powered by AI” dengan fokus pada pengembangan AI Workflow Engine untuk profesi gizi.
Bagi Saminur, peluncuran NutriAI Pro menjadi langkah awal menuju transformasi layanan gizi berbasis teknologi di Indonesia, sekaligus menegaskan peran alumni UMS dalam mendorong inovasi dan kemajuan kesehatan masyarakat.
Dukungan internasional juga hadir melalui pesan video dari Deepali Sharma, Organizing Chairperson Harvard HSIL Global Hackathon 2026, serta Ganesh Kathiresan yang menyoroti potensi AI dalam transformasi layanan kesehatan, khususnya nutrisi klinis. NutriAI sebelumnya tampil dalam ajang tersebut yang digelar di UCSI Hospital, Malaysia, bersama tim dari lebih dari 35 negara.
Dalam sesi pemaparan, turut hadir Mikayla Yazmine Thwayya yang membagikan pengalaman dan tantangan profesi ahli gizi di lapangan. Ia menegaskan bahwa kebutuhan akan solusi digital seperti NutriAI semakin mendesak di tengah tuntutan pelayanan yang cepat dan akurat.
Puncak acara ditandai dengan demonstrasi langsung NutriAI Pro oleh tim IT. Platform ini mampu menghasilkan dokumen Nutrition Care Process (NCP) dan menu diet personal dalam hitungan detik, yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 30–45 menit secara manual. (Fika/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Banyak sekali manusia yang lalai akan syariat Allah SWT. Terkadang mereka melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kesenangan semata yang keluar batas syariat. Dengan berbagai variasi cara mereka lakukan, yang secara diam-diam atau yang nampak jelas.
Padahal Allah SWT adalah tuhan Maha Tahu segala sesuatu apapun, bahkan amalan yang masih dalam hati manusia Allah mengetahuinya. Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengajak untuk merefleksikan kembali kekuasaan Allah SWT melalui QS. Al-Mujadilah ayat 5-8.
Ia menjelaskan ayat kelima tentang konsekuensi manusia yang melanggar syariat Allah. Manusia akan dihinakan di dunia dan akhirat atas perbuatannya yang melanggar syariat Allah SWT.
“Konsekuensi orang yang melanggar syariat akan dihinakan oleh Allah SWT,” jelasnya, Senin (20/4).
Ainur Rhain menganalogikan orang yang berbuat dosa seperti orang yang berpakaian kotor yang tidak berani keluar dalam kerumunan. Menurutnya, secara sadar manusia jika melakukan sebuah dosa akan merasa dirinya malu untuk berbaur dengan masyarakat lain.
“Analogi orang yang melakukan dosa seperti orang yang berpakain kotor yang malu untuk keluar di keramaian masyarakat. Orang itu akan keluar jika pakaiannya sudah suci atau dalam artian dia akan berani membaur dengan masyarakat jika telah bertaubat,” terangnya.
Fenomena orang-orang yang melanggar syariat terjadi berulang-ulang. Menurut Ainur, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai penjelas hukum-hukum syariat secara komprehensif.
“Al-Qur’an turun sebagai pedoman hukum umat manusia sebagai pertimbangan dalam melakukan sebuah amalan,” ungkapnya.
Selain itu, keberadaan dunia adalah sebagai tempat kehidupan sementara seluruh makhluk Allah, sedangkan akhirat adalah tempat kehidupan makhluk Allah yang kekal. Ainur Rhain pada ayat keenam menjelaskan bahwa Allah akan membangkitan seluruh makhluknya.
Dosen IQT FAI UMS, Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I.
Penafsiran dari ayat tersebut adalah ada masa di mana manusia akan dibangkitkan secara kolektif untuk mempertanggungjawabkan amalan kita, sebagai penentu kehidupan abadi kita di surga atau neraka. Ia juga menjelaskan bahwa Allah akan mengabarkan hitungan segala amalan manusia yang tercatat dalam satu buku, sehingga manusia tidak akan mengelabui kekuasaan Allah.
“Buat apa merasa angkuh dengan kekayaan atau kekuasaan, jika nanti di akhirat kita disamaratakan tanpa memandang harta dan kekuasaan, tapi memandang amalan siapa yang paling mulia,” ujarnya.
Ainur Rhain juga menyoroti tingkah manusia yang merasa memiliki rasa kebebasan penuh di dunia, padahal kebebasan tersebut bukanlah kebebasan yang mutlak, setiap tindakan dan amalan manusia berada dalam cakrawala ilmu dan kesaksian Allah.
Lebih lanjut, ketika buku amalan itu diperlihatkan, manusia sadar dirinya tidak layak untuk masuk surga, tapi Allah mengatakan “Seperti di saat kamu di dunia dosamu saya tutupi. Maka, di sini (akhirat) dosamu saya maafkan”.
“Jangan jadi orang mujahir (orang yang menampakkan dosa), karena Allah menutupi segala perbuatan dosa manusia di dunia,” tuturnya.
Pada penjelasan ayat ketujuh dan kedelapan, Rha’in menerangkan bahwa kedua ayat tersebut dibuka dengan pertanyaan retoris اَلَمْ تَرَ (Apakah kamu tidak memperhatikan). Dalam bahasa Arab kalimat tersebut merupakan kalimat istifham taqriri yang berarti kalimat pertanyaan yang bertujuan untuk penegasan sesuatu yang sudah pasti.
Dua ayat tersebut menyoroti kebiasaan pembicaraan rahasia. Menurut Ainur Rha’in, pembicaraan rahasia merupakan kebiasaan orang kafir zaman dahulu, yang bertujuan untuk mengolok-olok nabi dan menghancurkan ukhuwah kaum muslim. Sehingga ayat ini turun sebagai counter atau tameng untuk membendung perbuatan orang-orang kafir.
“Ayat tujuh dan delapan sebagai penangkal keinginan umat kafir untuk memecah belah umat muslim,” jelasnya.
Di zaman perkembangan teknologi seperti saat ini, Ainur Rha’in berpesan untuk tidak membuat grup atau kelompok kecil di platform digital yang bertujuan buruk.
“Dalam konteks saat ini jangan membuat grup atau kelompok yang tujuannya eksis untuk membuat kegaduhan dan perbuatan buruk yang lainnya di platform digital, seperti WhatsApp, Instagram, dan lain sebagainya,” tutupnya. (Affiq/Humas)