muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Tim dosen Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Workshop Penguatan Literasi Statistik dan Manajemen Pembelajaran Berbasis Teknologi. Kegiatan ini bertujuan mendampingi guru SMA/SMK/MA se-Kabupaten Klaten dalam memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk menyusun soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) berkualitas.
Agenda pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung pada Kamis (26/6) ini digelar melalui kolaborasi strategis dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten. Langkah ini diambil guna menjawab tantangan perubahan sistem evaluasi pembelajaran yang menuntut guru adaptif terhadap transformasi digital.
Dosen Pendidikan Matematika UMS, Annisa Swastika, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen kampus dalam meningkatkan kapasitas guru menghadapi paradigma baru dalam dunia pendidikan.
“Selain memperkuat kapasitas guru dalam menyusun asesmen yang sesuai dengan paradigma baru, kegiatan ini juga mempererat kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas pendidik untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujar Annisa, Rabu (1/7/2026).
Dalam sesi pertama workshop, Annisa memaparkan materi bertajuk “Pendampingan Guru SMA/Sederajat dalam Merancang Soal TKA Berbasis Literasi Statistik”. Pada sesi ini, para peserta diperkenalkan pada teknik prompt engineering agar mampu mengoperasikan AI generatif secara optimal dan beretika.
Melalui teknik tersebut, AI difungsikan sebagai asisten akademik yang membantu guru dalam: menyusun indikator soal secara presisi, mengembangkan stimulus kompetensi yang kontekstual, dan merancang butir soal yang mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Meskipun teknologi AI mampu memangkas waktu kerja, kompetensi kritis guru tetap memegang peranan paling vital. Pada sesi berikutnya, Adi Nurcahyo, M.Pd., memandu para peserta secara langsung untuk mempraktikkan manajemen pembelajaran berbasis teknologi.
Para guru diajak menyusun kisi-kisi soal, memproduksi butir soal berbantuan AI, hingga melakukan validasi ketat terhadap hasil yang dikeluarkan oleh sistem. Adi menegaskan bahwa kehadiran kecerdasan buatan sama sekali tidak dirancang untuk menggeser peran pendidik di ruang kelas.
“Guru tetap memegang peran utama sebagai perancang sekaligus penjamin mutu asesmen. Oleh karena itu, kemampuan memanfaatkan AI secara kritis menjadi kompetensi penting yang perlu dimiliki pendidik di tengah pesatnya perkembangan teknologi,” tegas Adi.
Antusiasme tinggi terlihat sepanjang pelatihan, di mana para peserta aktif mendiskusikan berbagai platform AI yang relevan untuk pembelajaran matematika. Berdasarkan survei evaluasi di akhir acara, mayoritas guru berharap program ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
Para peserta berharap adanya pendampingan lanjutan, khususnya dalam pengembangan bank soal berbasis AI serta analisis kualitas butir soal yang lebih mendalam. Pihak UMS pun menyambut baik harapan tersebut demi membangun ekosistem pendidikan di Klaten yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada mutu nasional.















