muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Tim yang digawangi oleh mahasiswa UMS berhasil meraih Juara II dalam lomba esai MAJESTYNAS (Muhammadiyah Jakarta Scientific Competition Nasional) yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Universitas Muhammadiyah Jakarta pada 19-20 Juni 2026.
Prestasi membanggakan tersebut diraih oleh kolaborasi apik antara Zahirah Mentari Supriyono dan Rahma Cloudita Puspita Dewi (mahasiswa FK UMS), bersama Zahiyah Wulan Supriyono (mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga). Dalam ajang ilmiah tersebut, mereka mengusung esai inovatif berjudul “Proposed Mechanism: Potensi IL-1 Saliva sebagai Biomarker Noninvasif Osteoporosis Pascamenopause”.
Gagasan yang diajukan berfokus pada pemanfaatan Interleukin-1 (IL-1) yang terkandung dalam saliva atau air liur. Senyawa ini dinilai berpotensi menjadi penanda (biomarker) noninvasif untuk mendeteksi gejala osteoporosis secara dini, khususnya pada perempuan pascamenopause.
Zahirah Mentari Supriyono menjelaskan, pemilihan topik ini didasari atas keprihatinan terhadap tingginya kasus osteoporosis pada lansia (geriatri) yang sudah sangat akrab di masyarakat, namun sering kali terlambat ditangani.
“Kami memilih osteoporosis dibanding osteopenia atau Alzheimer karena merasa osteoporosis merupakan salah satu penyakit teratas geriatri. Saya merasa bahwa masyarakat awam itu sudah sangat familiar dengan osteoporosis,” ujar Zahirah, Kamis (2/7/2026).
Lebih lanjut, Zahirah menjabarkan bahwa osteoporosis kerap dijuluki sebagai silent killer. Karakteristik penyakit ini berkembang secara perlahan tanpa gejala klinis yang jelas, sehingga penderita baru menyadarinya setelah terjadi fraktur patologis—yakni patah tulang akibat benturan ringan yang pada kondisi normal tidak akan menyebabkan cedera fatal.
Selain faktor kesadaran masyarakat, tim mahasiswa ini juga menyoroti mahalnya biaya diagnosis medis saat ini yang masih mengandalkan teknologi pemindaian DEXA (Dual Energy X-ray Absorptiometry). Hambatan biaya inilah yang mendorong mereka merancang alternatif metode deteksi yang lebih terjangkau dan nyaman bagi pasien.
“Maka dari itu banyak penelitian menggagas mengenai biomarker lain,” lanjut Zahirah.
Kendati demikian, tim menyadari bahwa gagasan pemanfaatan IL-1 dalam saliva ini masih bersifat konseptual. Diperlukan serangkaian penelitian ilmiah lanjutan sebelum metode ini dapat diimplementasikan secara luas di dunia medis.
“IL-1 sangat berpotensi digunakan sebagai biomarker potensial non-invasif osteoporosis pasca menopause, namun masih membutuhkan analisis lebih lanjut dari segi in vivo, in vitro, dan membutuhkan kolaborasi quintuple helix antar akademisi, pemerintah, masyarakat luas, dan lain-lain,” terangnya.
Dalam prosesnya, kompetisi lintas instansi ini menyisakan tantangan tersendiri bagi tim, terutama terkait jarak geografis dalam berdiskusi dengan anggota tim yang berada di Surabaya. Namun, komitmen kuat untuk memanfaatkan kesempatan langka berkolaborasi antar-universitas berhasil mengantarkan delegasi FK UMS ini naik ke podium juara nasional.















