muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Obby Taufik Hidayat, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sukses menyelesaikan program international fieldwork (kerja lapangan internasional) selama enam minggu di Singapore Institute of Technology (SIT), Singapura.
Kegiatan yang berlangsung dari 12 Mei hingga 16 Juni 2026 ini berfokus pada penelitian komparatif bertajuk “Implementasi Pembelajaran Berbasis Pelayanan (service learning) di Perguruan Tinggi di Indonesia dan Singapura.” Riset ini bertujuan mengeksplorasi serta membandingkan praktik service learning, keterlibatan masyarakat (community engagement), dan inisiatif inovasi sosial di kedua negara.
Proyek akademik tingkat internasional ini berhasil memperoleh pendanaan bergengsi dari Sylff Research Grant (SRG) 2026. Selain itu, riset ini didukung oleh hibah dana Riset Kerja Sama Internasional (RKI) dari UMS, serta fasilitas penelitian (in kind) yang disediakan langsung oleh pihak SIT.
Selama di Singapura, Obby melakukan kolaborasi intensif dengan Community Leadership and Social Innovation Centre (CLASIC) SIT di bawah bimbingan langsung Director of CLASIC SIT, Prof. Dr. Intan Azura Mokhtar. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pimpinan dan staf CLASIC, observasi lapangan, analisis dokumen, serta diskusi dengan mahasiswa yang terlibat dalam Social Innovation Project (SIP).
Berdasarkan temuan di lapangan, SIP merupakan pedagogi inovatif di SIT yang memiliki karakteristik serupa dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Indonesia. Namun, SIP menerapkan pendekatan ‘beyond service learning’ karena mahasiswa diwajibkan menghadirkan produk inovasi konkret sebagai solusi atas masalah nyata di masyarakat.
“Di sana mahasiswa tidak hanya datang ke masyarakat untuk melakukan pengabdian, tetapi mereka harus menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan yang ada. Kalau KKN biasanya luarannya berupa refleksi atau laporan, tetapi SIP harus menghasilkan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Obby dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Beberapa contoh nyata proyek SIP yang ditemukan meliputi pengembangan kursi roda efektif untuk lansia pengguna transportasi publik, serta aplikasi digital pelacak daur ulang guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Selain itu, masa persiapan mahasiswa SIT tergolong panjang, yakni mencapai satu tahun untuk mengidentifikasi masalah sebelum terjun ke lapangan, berbeda dengan durasi KKN di Indonesia yang umumnya hanya berlangsung satu bulan.
Temuan ini dinilai dapat menjadi bahan evaluasi penting bagi pemangku kebijakan perguruan tinggi di Indonesia guna memperkuat pilar identifikasi masalah dan pemberdayaan berbasis keilmuan mahasiswa.
Selain melakukan riset, Obby juga berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan guest lecture di SIT untuk memaparkan konsep service learning di Indonesia. Momen tersebut dimanfaatkannya untuk menginisiasi kerja sama formal antara FKIP UMS dan CLASIC SIT.
Pihak CLASIC SIT menyambut baik peluang kolaborasi tersebut. Ke depan, kerja sama strategis ini diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen di atas kertas, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata seperti program pertukaran mahasiswa, kolaborasi riset internasional, hingga proyek sosial bersama antara Indonesia dan Singapura.















