Mahasiswa Fisioterapi UMS Lakukan Skrining Fleksibilitas 120 Lansia di Puskesmas Bulu

Mahasiswa Fisioterapi UMS Lakukan Skrining Fleksibilitas 120 Lansia di Puskesmas Bulu

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Sebanyak 120 lansia mengikuti kegiatan senam dan skrining fleksibilitas tubuh menggunakan Sit and Reach Test di Puskesmas Bulu, Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan yang berlangsung dalam rangka Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) ini digelar oleh 13 mahasiswa Praktik Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sebagai bentuk upaya promotif dan preventif kesehatan masyarakat.

Rangkaian acara yang diinisiasi pada 15 Juli 2026 tersebut bertujuan untuk mendorong para lansia menjaga fleksibilitas fisik sebagai kunci utama mencapai penuaan yang sehat dan mandiri.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Febri Dwi Kristanto, menyampaikan bahwa program ini menjadi sarana penerapan ilmu fisioterapi secara langsung di lapangan, mulai dari tahap pemeriksaan, penyampaian edukasi, hingga interaksi langsung dengan warga usia lanjut.

“Melalui kegiatan ini kami belajar memberikan pelayanan fisioterapi secara langsung kepada masyarakat, mulai dari melakukan pemeriksaan, memberikan edukasi, hingga membangun komunikasi yang baik dengan para lansia. Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga fleksibilitas tubuh sebagai bagian dari penuaan yang sehat,” ujar Febri, Jumat (24/7/2026).

Kegiatan diawali dengan sesi senam lansia menggunakan gerakan yang aman, sederhana, dan mudah diikuti. Setelahnya, para mahasiswa melakukan skrining Sit and Reach Test untuk mengukur tingkat kelenturan otot punggung bawah dan hamstring peserta. Hasil tes dicatat dan dijelaskan secara personal, lalu dilanjutkan dengan panduan latihan peregangan mandiri di rumah.

Fleksibilitas yang terjaga dinilai penting untuk menunjang aktivitas harian lansia, seperti berjalan, membungkuk, mengambil barang, dan bangkit dari duduk, sekaligus mengurangi risiko kekakuan otot.

Pembina Prolanis Kecamatan Bulu, Bu Lisa, memberikan apresiasinya atas kolaborasi tersebut. Menurutnya, hadirnya pemeriksaan fisik langsung dari mahasiswa UMS memberikan nilai tambah bagi peserta Prolanis.

“Adanya pemeriksaan fleksibilitas membuat kegiatan Prolanis menjadi lebih lengkap karena peserta memperoleh edukasi sekaligus mengetahui kondisi tubuhnya. Harapannya para lansia semakin termotivasi untuk tetap aktif bergerak dan menjaga kesehatannya,” kata Lisa.

Sementara itu, Clinical Educator Praktik Profesi Fisioterapis UMS, Warsino, AMF., menjelaskan bahwa Sit and Reach Test merupakan metode asesmen sederhana yang efektif di tingkat pelayanan kesehatan primer untuk memberikan rujukan latihan fisik yang tepat bagi lansia.

Melalui sinergi antara UMS, Puskesmas Bulu, dan Program Prolanis Kecamatan Bulu, kegiatan promotif-preventif ini diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan demi mewujudkan lansia yang aktif, sehat, dan mandiri.

Pemberdayaan Disabilitas Mental: Tim HealSpace UMS Terapkan Smart-Wicking dan Vermikompos

Pemberdayaan Disabilitas Mental: Tim HealSpace UMS Terapkan Smart-Wicking dan Vermikompos

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) HealSpace Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses melaksanakan program pemberdayaan berbasis inklusi bagi penyandang disabilitas mental. Program yang berlangsung pada 12 Juni hingga 9 Juli 2026 ini dipusatkan di Komunitas Karya Manunggal, Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali.

Kegiatan ini menggabungkan inovasi terapi hortikultura melalui teknologi Smart-Wicking dan pengolahan limbah organik menggunakan metode vermikompos. Langkah ini dirancang untuk memperkuat kemandirian sekaligus mendukung kesejahteraan psikologis para peserta.

Ketua Tim PKM-PM HealSpace UMS, Abqory Anis Subekti, menjelaskan bahwa intervensi tersebut didesain secara bertahap agar para peserta memiliki ruang aman untuk melatih rasa tanggung jawab, kerja sama tim, dan kepercayaan diri.

“Melihat senyum, antusiasme, dan kemandirian teman-teman saat merawat tanaman, membuat pestisida alami, hingga memanen pupuk menjadi pencapaian terbesar bagi kami. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dukungan hibah pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sehingga inovasi HealSpace dapat diwujudkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Abqory, Jumat (24/7/2026).

Rangkaian pemberdayaan diawali dengan pelatihan teori dan praktik vermikompos pada pertengahan Juni. Sebanyak 15 anggota komunitas terlibat langsung dalam pengolahan media tanam serta penyemaian benih pakcoy, tomat, cabai, terung, dan bunga mawar. Aktivitas fisik ini difungsikan sebagai bagian dari terapi hortikultura guna memberikan stimulasi sensorik bagi peserta.

Sebagai sarana pendukung, tim HealSpace bersama warga komunitas juga bergotong royong mendirikan greenhouse mini pada 20 Juni 2026. Keberadaan fasilitas ini dilanjutkan dengan jadwal pemantauan serta piket perawatan tanaman secara berkala guna menumbuhkan rasa kepedulian peserta terhadap lingkungan sekitar.

Memasuki bulan Juli, program berfokus pada penerapan teknologi Smart-Wicking, yakni sistem pengairan mandiri berbasis sumbu. Selain mengasah keterampilan teknis perakitan media tanam dan edukasi pot, proses ini mendorong interaksi sosial serta komunikasi aktif antarpeserta.

Program intensif ini ditutup pada 9 Juli 2026 dengan perakitan akhir sistem pengairan, pelatihan pembuatan pestisida alami dari bahan ramah lingkungan, serta panen perdana pupuk vermikompos yang telah diproduksi sejak bulan sebelumnya.

Dosen Pembimbing PKM-PM HealSpace UMS, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menegaskan pentingnya integrasi antara keterampilan ekologis dan penguatan psikologis dalam mendampingi kelompok disabilitas mental. Ia menggarisbawahi bahwa keberlanjutan dampak positif program ini memerlukan komitmen bersama dari keluarga dan pengurus komunitas.

“Kolaborasi antara mahasiswa, keluarga, dan komunitas menjadi faktor penting agar keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus diterapkan. Dengan demikian, terapi hortikultura tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian penyandang disabilitas mental,” pukas Siti Azizah.

Peringatan HAN di SD Muhammadiyah 16 Surakarta: Cegah Narkoba Lewat Modus Makanan

Peringatan HAN di SD Muhammadiyah 16 Surakarta: Cegah Narkoba Lewat Modus Makanan

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Surakarta mengingatkan anak-anak untuk mewaspadai berbagai modus baru penyebaran narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA), terutama yang disamarkan dalam bentuk makanan dan minuman dari orang tidak dikenal.

Himbauan tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi pencegahan narkoba memperingati Hari Anak Nasional yang digelar di SD Muhammadiyah 16 Karangasem (MunasSka) Surakarta serta Lapangan Karangasem, Kamis (23/7/2026).

Kaurmin Satresnarkoba Polresta Surakarta, Ipda Sutarmi, menegaskan bahwa ancaman penyalahgunaan narkoba saat ini tidak lagi hanya mengincar kalangan remaja dan dewasa, melainkan sudah menyasar anak-anak usia 0 hingga 18 tahun.

“Yang penting anak-anak selalu berhati-hati jika bertemu orang yang tidak dikenal dan diberi makanan atau minuman. Kandungan narkoba tidak bisa dikenali hanya dari bentuk atau warna makanan yang menarik, tetapi harus melalui pemeriksaan laboratorium,” tegas Ipda Sutarmi di hadapan para siswa.

Ia mengimbau para siswa agar tidak mudah menerima pemberian makanan atau minuman dari asing, serta segera melapor kepada guru maupun orang tua jika menemukan hal yang mencurigakan.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakasat Satresnarkoba Polresta Surakarta AKP Winarsih, S.H., M.H., menjelaskan bahwa paparan NAPZA dapat memicu kerusakan fatal pada organ tubuh vital seperti sistem saraf, jantung, hingga ginjal, selain merusak perilaku dan masa depan anak. Oleh karena itu, perlindungan serta edukasi dini menjadi hak esensial bagi setiap anak.

Sesi edukasi berlangsung interaktif saat AKP Winarsih mengajak siswa berdialog mengenai tanda-tanda seseorang yang terpapar narkoba. Puluhan murid antusias mengajukan pertanyaan, termasuk Emma, siswi kelas V yang juga menjadi reporter Majalah Sigma sekolah setempat.

Usai sosialisasi bahaya narkoba, peringatan Hari Anak Nasional dilanjutkan dengan memainkan aneka permainan tradisional seperti bekelan, dakon, betengan, jamuran, yoyo, hingga lompat tali bersama para guru.

Pejabat Humas SD Muhammadiyah 16 Surakarta, Dwi Rakhmawati, menyampaikan bahwa peringatan Hari Anak Nasional tahun ini sengaja dikemas dengan konsep fun learning.

“Kolaborasi dengan Polresta Surakarta ini menjadi upaya sekolah dalam menanamkan karakter, meningkatkan literasi keselamatan anak, sekaligus membangun kesadaran sejak dini agar siswa mampu melindungi diri dari bahaya NAPZA melalui kegiatan yang menyenangkan,” pungkas Dwi.

Dorong Inovasi Dosen, Rektor UMS Minta Hubungan Perguruan Tinggi dan Industri Kian Mesra

Dorong Inovasi Dosen, Rektor UMS Minta Hubungan Perguruan Tinggi dan Industri Kian Mesra

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menekankan pentingnya sinergi yang erat antara inovasi paten akademisi dan kebutuhan dunia industri. Hubungan saling melengkapi ini dinilai krusial agar hasil riset perguruan tinggi tidak sekadar berhenti di atas kertas, tetapi mampu diimplementasikan secara nyata oleh industri.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pelatihan Penulisan Deskripsi Permohonan Paten Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Meeting Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Kamis–Jumat (23–24/7/2026). Dalam agenda ini, UMS kembali dipercaya menjadi co-host oleh Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Rektor UMS menyebutkan bahwa laju perkembangan industri saat ini berjalan jauh lebih cepat dibandingkan perguruan tinggi, terutama dengan masifnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence). Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu menyesuaikan diri agar mampu menjembatani perbedaan ritme tersebut.

“Tolong memikirkan ke sana supaya industri di satu sisi, dengan paten yang dihasilkan teman-teman perguruan tinggi, itu bisa jalan searah. Orang industri sering kali tidak pernah memikirkan paten, mereka lari begitu cepat. Sementara orang paten ketika ingin masuk industri juga terlalu banyak mikir. Nah, ini juga perlu dijembatani,” ujar Harun optimis.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Tim Hilirisasi dan Industri Ditjen Risbang, Dr. Adhi Indra Hermanu, memberikan apresiasi atas konsistensi UMS yang telah lima kali menjadi mitra kolaborasi. Ia mengungkapkan adanya rencana untuk merekrut dosen sebagai pemeriksa di Ditjen Kekayaan Intelektual guna memperkuat Sentra KI di perguruan tinggi. Adhi juga memaparkan peluang pendanaan riset berfokus hilirisasi yang dilengkapi pendampingan aspek teknis, kelayakan bisnis, hingga penyempurnaan produk.

Kegiatan pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber ahli. drh. I Ketut Mudite Adnyane, SKH., M.Si., Ph.D., PAVet., memaparkan syarat administrasi serta sistematika penulisan dokumen paten. Selanjutnya, Prof. Dr. techn. Ir. Suyitno, S.T., M.T., menjelaskan langkah penelusuran patentabilitas dengan menekankan bahwa dokumen paten harus berfokus pada pemecahan masalah teknis secara lugas dan instruksional.

Sementara itu, Dr. Eng. Muhamad Sahlan, S.Si., M.Eng., mengulas proses pengubahan invensi menjadi hak eksklusif yang bertumpu pada tiga pilar utama: invensi, inventor, dan kekuatan hak eksklusif. “Paten itu juga harus dijelaskan sejelas-jelasnya, bukan disembunyikan,” tegas Sahlan saat pemaparan.

Rangkaian acara pelatihan ini kemudian ditutup dengan sesi pendampingan intensif penulisan deskripsi permohonan paten bagi para peserta bersama tim fasilitator.

DKPTI UMS Gelar In House Training Inklusif, Dorong Ormawa Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas

DKPTI UMS Gelar In House Training Inklusif, Dorong Ormawa Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Talenta Inovasi (DKPTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar In House Training Pendidikan Inklusif bagi Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di Ruang Seminar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Lantai 8, Kamis (23/7/2026).

Pelatihan bertajuk “Membangun Kepedulian dan Komitmen: Bersama ORMAWA Mewujudkan Kampus Ramah Disabilitas” tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari Program Penguatan Ormawa sekaligus wujud komitmen UMS dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang inklusif, aksesibel, adil, serta bebas dari diskriminasi.

Wakil Rektor I UMS, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., saat membuka acara secara resmi menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama sebagai ciptaan Allah SWT sehingga tidak boleh ada perlakuan diskriminatif terhadap siapa pun. Menurutnya, UMS tidak hanya berfokus pada capaian akademik dan non-akademik, melainkan juga memastikan tidak ada mahasiswa yang tertinggal dalam memperoleh hak belajar.

“Manusia adalah sebaik-baik ciptaan Allah, maka tidak boleh seorang pun merendahkannya. Merendahkan manusia sama dengan merendahkan Sang Pencipta,” tegas Prof. Ihwan. “Kampus tidak hanya melahirkan juara dan prestasi, tetapi juga tidak akan meninggalkan siapapun, terutama mahasiswa penyandang disabilitas. Karena itu, kampus ramah difabel harus kita wujudkan bersama.”

Senada dengan hal tersebut, Kepala Subdirektorat Soft Skill dan Layanan Kemahasiswaan DKPTI UMS, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi mahasiswa untuk meningkatkan kepedulian sosial. Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mendorong terwujudnya budaya kampus ramah disabilitas.

Rangkaian pelatihan diisi oleh tiga narasumber ahli. Dr. Joko Yuwono, M.Pd., memaparkan materi ragam disabilitas di perguruan tinggi dan kewajiban penyediaan akomodasi yang layak. Selanjutnya, Arsy Anggrellangi, S.Pd., M.Pd., mendorong Ormawa menerapkan prinsip kesetaraan dalam kegiatan kemahasiswaan, mulai dari pemilihan lokasi kegiatan yang aksesibel, materi yang inklusif, hingga pelibatan mahasiswa disabilitas dalam kepanitiaan.

Sesi materi diakhiri oleh Safira Nur Fitriana, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang membahas studi kasus kehidupan mahasiswa disabilitas. Ia menekankan bahwa inklusivitas harus diwujudkan melalui budaya saling memahami, mengidentifikasi kebutuhan, serta memberikan dukungan secara berkelanjutan.

Selain paparan materi, para peserta juga mengikuti simulasi langsung untuk merasakan tantangan yang dihadapi oleh penyandang tunanetra dan tunawicara guna membangun empati secara mendalam. Rifat, salah satu peserta kegiatan, menyambut positif simulasi tersebut dan meyakini bahwa pelatihan ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan inklusivitas di perguruan tinggi.

Seluruh rangkaian acara ditutup dengan pembacaan deklarasi bersama mengenai komitmen mewujudkan kampus inklusif bagi penyandang disabilitas, dengan harapan Ormawa dapat menjadi motor penggerak utama di lingkungan UMS.