muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus mengubah peta industri komunikasi digital secara signifikan. Kendati efisiensi teknologi memungkinkan pekerjaan yang dulu membutuhkan tim multi-keahlian kini dilakukan oleh satu individu, kompetensi manusia dalam hal strategi, kreativitas, dan etika tetap menjadi penentu utama.
Dosen Ilmu Komunikasi bidang Komunikasi Digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ahmada Auliya Rahman, S.I.Kom., M.Pd., menilai pemanfaatan AI dalam industri komunikasi sudah tidak dapat dihindari seiring pesatnya kemudahan akses teknologi informasi.
“Kebermanfaatan penggunaan AI tentu tergantung dengan siapa yang memberikan perintah kepada AI melalui promptyang diberikan,” ujar Ahmada, Jumat (30/10/2026).

Ahmada mengibaratkan AI seperti pisau yang bisa mendatangkan manfaat maupun bahaya, tergantung pada penggunanya. Dalam pembentukan opini publik, pengolahan data berskala besar oleh AI membantu penyusunan strategi kampanye digital. Namun, teknologi serupa berisiko dimanipulasi jika penggunanya mengabaikan norma dan etika.
Pergeseran ini turut mengubah struktur kebutuhan tenaga kerja profesional di industri komunikasi. Pekerjaan yang hanya mengandalkan produksi teknis berpotensi menghadapi persaingan sangat ketat. Di sisi lain, kondisi ini mendorong praktisi untuk memperkuat kapasitas di bidang analisis data, perencanaan strategis, dan pengambilan keputusan.
Tantangan lain yang muncul adalah maraknya konten AI yang makin menyerupai produk asli tanpa disertai label keterangan resmi. Situasi tersebut menuntut peningkatan literasi digital agar masyarakat tidak sekadar menjadi penerima pasif, tetapi mampu menilai keabsahan informasi secara kritis.
Ahmada menegaskan, solusi atas dinamika ini bukanlah menolak AI, melainkan menempatkan teknologi tersebut sebagai alat bantu dengan kontrol penuh tetap berada di tangan manusia.
“Menggunakan AI bukanlah hal yang salah, selama AI sebatas digunakan sebagai asisten saja bukan sebagai eksekutor.Sehingga dalam berbagai jenis industri komunikasi digital, manusia tetap harus yang melakukan eksekusi akhir produk yang dihasilkan,” tegasnya.
Prinsip tersebut juga menjadi peringatan bagi mahasiswa serta lulusan Ilmu Komunikasi agar tidak sekadar mahir mengoperasikan perangkat teknis, melainkan memahami tujuan, konteks, dan konsekuensi dari pesan yang disampaikan kepada publik.
“Dalam menghadapi gempuran AI saat ini, mahasiswa harus semakin meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengenai keilmuan yang digelutinya,” pungkas Ahmada. (ARP/Humas)
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














