muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mempertegas komitmennya dalam memperkuat ekosistem dan keilmuan fisioterapi olahraga difabel di Indonesia. Langkah strategis ini diwujudkan melalui inovasi kurikulum akademik serta keterlibatan aktif dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS,Suryo Saputra Perdana, Ftr., M.Sc., PT., sebagai ParaSport Physiotherapist bagi kontingen Indonesia pada Asian Para Games ke-5 di Aichi-Nagoya, Jepang.
Lewat Program Studi Fisioterapi FIK, UMS mencatatkan diri sebagai perguruan tinggi pertama di Indonesia yang resmi membuka mata kuliah pilihan Parasport Physiotherapy. Kehadiran mata kuliah ini bertujuan membekali mahasiswa dengan prinsip klinis dan kompetensi dasar penanganan kesehatan atlet difabel guna mendukung pelayanan kesehatan dan pengembangan olahraga adaptif nasional.
Suryo menjelaskan bahwa penanganan fisioterapi bagi atlet difabel memerlukan pendekatan spesifik yang mendasarkan tindakan medis pada kondisi fungsional masing-masing atlet.

“Pendekatan utama dalam fisioterapi para olahraga adalah seluruh tindakan harus berbasis klasifikasi (classification-based). Hal ini menuntut pemahaman mendalam mengenai impairment dan functional classification agar penanganan yang diberikan benar-benar spesifik sesuai kebutuhan atlet,” ujar Suryo pada Jumat (30/10/2026).
Pada ajang multievent yang berlangsung pada 13–25 Oktober 2026 tersebut, Suryo secara spesifik mendampingi atlet dari cabang olahraga Para Badminton. Pelayanan yang diberikan mencakup pertolongan pertama pada cedera akut di lapangan, pemeliharaan kondisi fisik, pemulihan (recovery), hingga rehabilitasi untuk memastikan performa atlet tetap optimal selama kompetisi.
Rekam jejak keterlibatan akademisi FIK UMS dalam ajang olahraga internasional ini melanjutkan pengalaman sebelumnya pada Paralympic Tokyo 2020. Pengalaman lapangan di tingkat global tersebut menjadi modal berharga dalam memperluas wawasan keilmuan serta memperkuat proses pembelajaran di lingkungan kampus.
Dalam pelaksanaannya, Suryo mengungkapkan bahwa tantangan utama pendampingan atlet para terletak pada aspek komunikasi dan koordinasi lintas profesi. Pengetahuan medis harus mampu diterjemahkan menjadi arahan praktis yang mudah dipahami oleh atlet, pelatih, maupun ofisial tim.
“Kita ini Avengers, bukan Superman. Kerja sama tim lintas profesi adalah segalanya,” tegas Suryo mengenai pentingnya sinergi seluruh tim pendukung medis dan teknis dalam membawa atlet meraih prestasi.
Lebih lanjut, UMS menilai pengembangan bidang fisioterapi olahraga difabel memiliki prospek jangka panjang yang luas di Indonesia. Selain mendukung atlet profesional meraih medali, disiplin ilmu ini mendorong pemberdayaan anak-anak penyandang disabilitas melalui aktivitas olahraga adaptif sejak dini sekaligus memperkuat ekosistem pembinaan prestasi olahraga nasional.
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














