muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan, dan Alumni (LP3A) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat komitmen kaderisasi Muhammadiyah melalui kegiatan Silaturahmi dan Pembinaan Penerima Beasiswa BKAD Tahun 2026. Sebanyak 33 mahasiswa penerima beasiswa mengikuti pembinaan tersebut di Ruang Sidang Badan Pembina Harian (BPH) UMS, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pengenalan awal agar penerima beasiswa memahami peran serta tanggung jawabnya sebagai kader Muhammadiyah. Melalui agenda ini, UMS mendorong para mahasiswa untuk memadukan pengembangan kapasitas akademik dengan penguatan karakter, integritas, dan pengabdian kepada Persyarikatan.
Ketua LP3A UMS, Dr. Bambang Sukoco, M.H., menegaskan bahwa beasiswa kader harus dimaknai sebagai nikmat sekaligus amanah yang wajib dipertanggungjawabkan melalui kesungguhan belajar dan kontribusi nyata.
“Menjadi penerima beasiswa merupakan nikmat sekaligus amanah yang perlu kita syukuri. Syukur bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui kesungguhan dalam belajar, menjaga amanah, meningkatkan kualitas diri, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Terlebih sebagai kader Muhammadiyah, rasa syukur itu semestinya diwujudkan dengan kesediaan untuk tumbuh, berproses, dan mengambil peran nyata dalam Persyarikatan,” ujar Bambang, Rabu (14/10/2026).
Ia menambahkan, program beasiswa kader tidak boleh dipandang sebatas dukungan finansial semata, melainkan bagian dari ikhtiar strategis Muhammadiyah dalam menyiapkan generasi penerus berkualifikasi akademik tinggi dan berkarakter kuat.
Sementara itu, Kepala Bidang Kaderisasi, Pembinaan Organisasi Otonom (Ortom), dan Beasiswa Kader LP3A UMS, Muhammad Ujianto, M.T., menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan keterikatan mahasiswa dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) maupun Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di daerah asal masing-masing.
“Kami berharap para penerima Beasiswa Kader secara rutin memperbarui surat rekomendasi dari PDM atau PCM asal masing-masing. Hal ini bukan sekadar pemenuhan administrasi, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga komunikasi dan komitmen mahasiswa dengan Persyarikatan. Harapannya, sejak menjadi mahasiswa mereka tetap memiliki keterikatan dengan Muhammadiyah dan nantinya dapat kembali mengambil peran serta memberikan kontribusi nyata di Persyarikatan,” kata Ujianto.
Melalui skema pembinaan berkelanjutan ini, 33 mahasiswa penerima Beasiswa BKAD Tahun 2026 diharapkan tidak hanya berorientasi pada capaian nilai akademik, tetapi juga aktif menginternalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan serta siap berkhidmat bagi umat dan organisasi di masa depan.
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














