muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan edukasi dan pendampingan kepada anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Sukoharjo, terkait pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi produk sabun cair pencuci piring ramah lingkungan yang bernilai ekonomis.
Rangkaian kegiatan penyuluhan dan sosialisasi ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) yang didanai oleh UMS, dan rampung dilaksanakan pada Jumat (9/10/2026) di Busthanul Athfal (BA) ‘Aisyiyah Sraten, Gatak, Sukoharjo.
Ketua tim pengabdian masyarakat UMS, Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., melalui Dr. Siti Fatimah, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa program kolaborasi dengan Lembaga Pengabdian ‘Aisyiyah (LPA) PCA Gatak ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan warga dalam mengelola limbah rumah tangga.

“Pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai jual berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga,” kata Siti Fatimah saat memberikan keterangan, Rabu (14/10/2026).
Siti Fatimah menjelaskan, limbah minyak jelantah yang dibuang sembarangan berisiko merusak lingkungan. Oleh karena itu, pengolahan menjadi produk berdaya guna seperti sabun pencuci piring menjadi solusi tepat untuk menekan pencemaran sekaligus menghemat pengeluaran rumah tangga.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan tiga dosen UMS sebagai pemateri beserta sejumlah mahasiswa lintas program studi. Dr. Siti Fatimah dari Prodi Teknik Kimia mengawali sesi dengan sosialisasi teknik pemurnian minyak jelantah menggunakan zeolit sebagai tahap awal pengolahan bahan baku.
Selanjutnya, Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum, S.K.M., M.Kes., menyampaikan edukasi mengenai risiko kesehatan akibat penggunaan minyak goreng berulang melalui media permainan edukatif yang interaktif.
Dari aspek psikologis, Setia Asyanti, S.Psi., M.Si., Psikolog, memberikan materi restrukturisasi kognitif untuk mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap produk berbahan dasar limbah. Ia menegaskan bahwa jelantah yang diolah dengan prosedur tepat bukan lagi limbah, melainkan produk bermanfaat.
Kegiatan ini diikuti oleh pengurus PCA Gatak serta 28 perwakilan dari 14 Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA). Sebagai tindak lanjut, tim UMS di bawah panduan Prof. Dr. Sri Lestari menyiapkan pendampingan praktik pembuatan sabun cair, mulai dari pengumpulan bahan, proses produksi, hingga strategi pengembangan produk berkelanjutan bagi kader ‘Aisyiyah.
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














