muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) HealSpace Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sukses melaksanakan program pemberdayaan berbasis inklusi bagi penyandang disabilitas mental. Program yang berlangsung pada 12 Juni hingga 9 Juli 2026 ini dipusatkan di Komunitas Karya Manunggal, Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali.
Kegiatan ini menggabungkan inovasi terapi hortikultura melalui teknologi Smart-Wicking dan pengolahan limbah organik menggunakan metode vermikompos. Langkah ini dirancang untuk memperkuat kemandirian sekaligus mendukung kesejahteraan psikologis para peserta.
Ketua Tim PKM-PM HealSpace UMS, Abqory Anis Subekti, menjelaskan bahwa intervensi tersebut didesain secara bertahap agar para peserta memiliki ruang aman untuk melatih rasa tanggung jawab, kerja sama tim, dan kepercayaan diri.
“Melihat senyum, antusiasme, dan kemandirian teman-teman saat merawat tanaman, membuat pestisida alami, hingga memanen pupuk menjadi pencapaian terbesar bagi kami. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dukungan hibah pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sehingga inovasi HealSpace dapat diwujudkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Abqory, Jumat (24/7/2026).
Rangkaian pemberdayaan diawali dengan pelatihan teori dan praktik vermikompos pada pertengahan Juni. Sebanyak 15 anggota komunitas terlibat langsung dalam pengolahan media tanam serta penyemaian benih pakcoy, tomat, cabai, terung, dan bunga mawar. Aktivitas fisik ini difungsikan sebagai bagian dari terapi hortikultura guna memberikan stimulasi sensorik bagi peserta.

Sebagai sarana pendukung, tim HealSpace bersama warga komunitas juga bergotong royong mendirikan greenhouse mini pada 20 Juni 2026. Keberadaan fasilitas ini dilanjutkan dengan jadwal pemantauan serta piket perawatan tanaman secara berkala guna menumbuhkan rasa kepedulian peserta terhadap lingkungan sekitar.
Memasuki bulan Juli, program berfokus pada penerapan teknologi Smart-Wicking, yakni sistem pengairan mandiri berbasis sumbu. Selain mengasah keterampilan teknis perakitan media tanam dan edukasi pot, proses ini mendorong interaksi sosial serta komunikasi aktif antarpeserta.
Program intensif ini ditutup pada 9 Juli 2026 dengan perakitan akhir sistem pengairan, pelatihan pembuatan pestisida alami dari bahan ramah lingkungan, serta panen perdana pupuk vermikompos yang telah diproduksi sejak bulan sebelumnya.
Dosen Pembimbing PKM-PM HealSpace UMS, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menegaskan pentingnya integrasi antara keterampilan ekologis dan penguatan psikologis dalam mendampingi kelompok disabilitas mental. Ia menggarisbawahi bahwa keberlanjutan dampak positif program ini memerlukan komitmen bersama dari keluarga dan pengurus komunitas.
“Kolaborasi antara mahasiswa, keluarga, dan komunitas menjadi faktor penting agar keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus diterapkan. Dengan demikian, terapi hortikultura tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian penyandang disabilitas mental,” pukas Siti Azizah.















