Mahasiswa UNIMUS Ukir Prestasi Nasional pada Ajang MCEBI 2026 di Malang

Mahasiswa UNIMUS Ukir Prestasi Nasional pada Ajang MCEBI 2026 di Malang

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SEMARANG — Kontingen mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) sukses memborong empat penghargaan tingkat nasional dalam ajang Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI) 2026. Kompetisi antar-Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia tersebut berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Taman Rekreasi Sengkaling pada 17–19 Juli 2026.

Daya saing mahasiswa UNIMUS dibuktikan melalui raihan berbagai kategori perlombaan. Tim Arterra dari Program Studi S1 Akuntansi berhasil menyabet Juara 1 Proposal Bisnis Kategori Fashion. Sementara itu, Tim Crafting BPL dari Program Studi S1 Pendidikan Kimia sukses memborong dua penghargaan sekaligus, yakni Juara 2 Proposal Bisnis Kategori Craft dan Juara 1 Produk Kategori Craft.

Tidak ketinggalan, Tim Delvrese dari Program Studi S1 Sains Data melengkapi torehan prestasi tersebut dengan meraih Juara 2 Video Company Profile.

Ajang MCEBI 2026 sendiri diselenggarakan sebagai wadah strategis bagi mahasiswa untuk mengasah ide bisnis, merancang inovasi produk, hingga melatih kemampuan membagun branding usaha.

Capaian ini mempertegas kualitas mahasiswa UNIMUS yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga piawai memadukan kreativitas, teknologi, dan semangat kewirausahaan menjadi produk yang memiliki nilai jual serta daya saing di pasaran.

Keberhasilan tersebut turut memperkuat komitmen UNIMUS dalam mendukung lahirnya generasi muda yang adaptif dan siap menghadapi tantangan dunia usaha maupun industri. Melalui program pembinaan kewirausahaan yang berkelanjutan, civitas akademika UNIMUS terus didorong untuk menciptakan solusi kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Raihan empat trofi di tingkat nasional ini diharapkan dapat menjadi pemantik inspirasi bagi seluruh mahasiswa UNIMUS untuk terus berkarya, berinovasi, dan mencetak prestasi hingga tingkat internasional.

Mahasiswa UMS Inovasi Terapi Hortikultura Berbasis Smart-Wicking Bagi Penyandang Disabilitas

Mahasiswa UMS Inovasi Terapi Hortikultura Berbasis Smart-Wicking Bagi Penyandang Disabilitas

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) HealSpace Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) siap mengimplementasikan teknologi Smart-Wicking dan pendampingan terapi hortikultura bagi penyandang disabilitas. Program ini ditujukan untuk anggota Komunitas Disabilitas Karya Manunggal di Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali.

Kesiapan tahap implementasi tersebut dicapai setelah tim menyelesaikan penguatan kemitraan dan pemetaan kebutuhan peserta melalui agenda Sapa Mitra 2. Data lapangan yang terkumpul digunakan untuk menyesuaikan bentuk pendampingan, peletakan media terapi, hingga aksesibilitas teknologi sesuai kondisi masing-masing peserta.

Ketua Tim PKM-PM HealSpace UMS, Abqory Anis Subekti, menjelaskan bahwa kondisi fisik dan psikologis peserta yang beragam menuntut pendekatan yang bersifat personal (customized).

“Melalui kunjungan langsung, kami dapat melihat ruang aktivitas peserta secara nyata. Hal ini membantu kami menyesuaikan peletakan dan aksesibilitas media terapi hortikultura agar nyaman digunakan dan benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan psikologis peserta,” ujar Abqory pada Senin (20/7/2026).

Program HealSpace mengombinasikan teknologi Smart-Wicking dengan media vermikompos dalam kegiatan hortikultura terapeutik. Pendekatan inovatif ini dirancang agar mudah diakses, produktif, sekaligus mampu membantu pengelolaan kondisi psikologis penyandang disabilitas mental maupun fisik.

Selain kesiapan teknis, tim juga melibatkan keluarga peserta sebagai sistem pendampingan utama. Keluarga dinilai memiliki peran vital dalam memberikan dukungan psikologis, membimbing kegiatan, serta menjaga keberlanjutan aktivitas hortikultura di rumah.

Dosen pembimbing PKM-PM HealSpace UMS, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menegaskan bahwa pilar utama keberhasilan program ini terletak pada kolaborasi lintas pihak.

“Keberhasilan program pengabdian tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kekuatan kolaborasi antara mahasiswa, komunitas, peserta, dan keluarga,” jelas Siti Azizah.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan aktif lingkungan terdekat diharapkan dapat membantu peserta membangun rasa percaya diri, stabilitas mental, serta kemandirian dalam beraktivitas harian.

Sebagai dasar hukum pelaksanaan, Tim HealSpace UMS sebelumnya telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komunitas Disabilitas Karya Manunggal pada agenda Sapa Mitra 2 di Sambi, Boyolali, Senin (1/6/2026). Pascapenandatanganan, tim langsung bergerak mengunjungi kediaman peserta satu per satu untuk melakukan identifikasi mendalam sekaligus membuka ruang dialog bersama keluarga.

Melalui eksekusi program ini, Tim PKM-PM HealSpace UMS berharap terapi hortikultura berbasis Smart-Wicking dan vermikompos dapat mendorong anggota Komunitas Disabilitas Karya Manunggal menjadi lebih produktif, sejahtera secara psikologis, dan mandiri secara berkelanjutan.

Inklusi Berkelanjutan, PKM-PM UMS Luncurkan Program HealSpace di Kecamatan Sambi, Boyolali

Inklusi Berkelanjutan, PKM-PM UMS Luncurkan Program HealSpace di Kecamatan Sambi, Boyolali

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) HealSpace Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi mengawali rangkaian program pemberdayaan bagi penyandang disabilitas mental melalui acara “Sosialisasi Program” di Kantor Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (10/6/2026) tersebut digelar sebagai langkah awal untuk memberikan pemahaman secara komprehensif mengenai tujuan, mekanisme, serta seluruh rangkaian tahapan pelaksanaan program HealSpace yang akan dijalankan bersama mitra.

Dalam sosialisasi tersebut, tim HealSpace memperkenalkan implementasi sistem Smart-Wicking dan vermikompos sebagai bagian dari metode terapi hortikultura yang akan diterapkan. Selain pemaparan materi, para peserta juga mengikuti pre-test guna mengukur pengetahuan serta kondisi psikologis awal sebagai data dasar evaluasi efektivitas program ke depan.

Ketua Tim PKM-PM HealSpace, Abqory Anis Subekti, menjelaskan bahwa data pre-test ini menjadi pijakan penting untuk memetakan kondisi peserta sebelum mengikuti pendampingan utuh.

“Hasil pre-test akan menjadi data dasar untuk mengetahui tingkat pengetahuan, pemahaman, dan kondisi psikologis peserta sebelum mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Data tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap efektivitas program pengabdian yang dijalankan,” terang Abqory.

Dosen Pembimbing PKM-PM HealSpace, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan sosial yang ramah disabilitas.

“Program ini tidak dapat berjalan sendiri. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan komunitas menjadi kunci dalam menghadirkan perubahan yang berkelanjutan. Kami berharap HealSpace mampu menjadi ruang pemberdayaan yang mendorong kemandirian, meningkatkan kesejahteraan psikologis, serta memperkuat partisipasi penyandang disabilitas dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Siti Azizah pada Senin (20/7/2026).

Langkah inklusif mahasiswa UMS ini mendapat apresiasi positif dari Camat Sambi, Dony Mahendra, S.STP., M.Si. Ia menilai kepedulian terhadap kondisi psikologis kelompok rentan merupakan aspek krusial yang kerap terlewatkan.

“Kami sangat mengapresiasi langkah mahasiswa UMS yang tidak hanya hadir memberikan pendampingan, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis warga disabilitas. Kepedulian seperti ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami kebutuhan masyarakat. Semoga semangat ini terus tumbuh dan membawa manfaat yang lebih luas,” ungkap Dony.

Dukungan senada disampaikan oleh Kepala Desa Demangan sekaligus Pembina Disabilitas Mental Komunitas Karya Manunggal, Rosyid Setyawan. Ia berharap keterlibatan tim UMS dapat memberikan dampak jangka panjang bagi peningkatan kualitas hidup anggotanya melalui kegiatan yang terarah.

Antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung menandai kesiapan Komunitas Karya Manunggal untuk mengikuti seluruh tahapan pendampingan, pelatihan, hingga evaluasi yang akan dipusatkan di Desa Demangan, Kecamatan Sambi.

Cetak Humas Sekolah Profesional, Muhammadiyah Dorong Publikasi Berbasis Jurnalistik

Cetak Humas Sekolah Profesional, Muhammadiyah Dorong Publikasi Berbasis Jurnalistik

muhammadiyahkaranganyar.or.id, PURWOKERTO — Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menggelar Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) bertema “Branding Sekolah Muhammadiyah Melalui Kehumasan di Era Digital”. Kegiatan pelatihan intensif selama dua hari tersebut berlangsung di Auditorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada Sabtu-Minggu (18-19/7/2026).

Program ini bertujuan memperkuat strategi branding dan reputasi sekolah-sekolah Muhammadiyah melalui pendekatan jurnalistik yang profesional, jujur, serta berintegritas.

Sebanyak 50 peserta yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan pengelola media kreatif dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, hingga pondok pesantren Muhammadiyah hadir dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, antara lain Tegal, Pemalang, Brebes, Banyumas, Purwokerto, hingga Cilacap.

Koordinator Penguatan Media dan Jurnalistik MPI PP Muhammadiyah, Roni Tobroni, menjelaskan bahwa ajang AJM dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan aktual lembaga pendidikan Muhammadiyah saat ini.

“Akademi Jurnalistik Muhammadiyah ini khas sesuai kebutuhan, tetapi benang merahnya adalah jurnalistik. Apa yang kita lakukan hari ini adalah branding sekolah dengan pendekatan jurnalistik,” kata Roni di sela-sela kegiatan.

Sementara itu, Sekretaris MPI PP Muhammadiyah, Anam Sutopo, menegaskan pentingnya rebranding dan pengelolaan humas yang profesional agar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan siap bersaing di era digital. Ia mendorong generasi muda Muhammadiyah memanfaatkan dunia jurnalistik sebagai ruang dakwah.

“Jadilah jurnalis Muhammadiyah yang kritis dan jujur. Menulislah berdasarkan fakta, boleh bertanya tetapi tetap santun. Junjung integritas, tanpa meninggalkan ketepatan dan kecepatan. Jadilah orang yang menggunakan pena untuk mencerahkan,” ujar Anam.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Hendra Apriyadi, M.Pd., menyampaikan materi mengenai dampak langsung publikasi berita terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Menurut Dosen UHAMKA tersebut, publikasi berita yang konsisten dan berkualitas menjadi sarana promosi yang kredibel, hemat biaya, sekaligus membangun kepercayaan publik.

“Setiap kegiatan baik yang dilakukan sekolah jangan berhenti menjadi dokumentasi. Kegiatan tersebut perlu diolah menjadi berita yang mengandung nilai informasi, inspirasi, dan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, sekolah akan semakin dikenal dan kepercayaan masyarakat pun terus meningkat,” terang Hendra.

Selama pelatihan, para peserta dibekali beragam materi dasar hingga praktis, mulai dari paradigma branding, manajemen media sosial, hingga teknik penulisan berita menggunakan prinsip 5W+1H dan etika jurnalistik.

Pelatihan ini menghadirkan jajaran narasumber tepercaya, di antaranya Doktor Ilmu Komunikasi Roni Tobroni, jurnalis Muhammadiyah Jawa Barat Kelik, konsultan branding Rulli Nashrullah, jurnalis TVRI Mukhtarom, serta praktisi pendidikan dan humas Hendra Apriyadi.

Para peserta menyambut positif dan antusias pelatihan interaktif ini. Rian Khoirul Rizal dari PP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kabupaten Tegal menyatakan terinspirasi untuk segera berbenah memajukan media pesantrennya. Hal senada disampaikan Ulfiyani dari SMP Muhammadiyah 2 Sirampog Brebes, yang berharap ilmu yang didapat mampu memperkuat citra sekolah dan mendukung suksesnya SPMB mendatang.

Perluas Jejaring Nasional, FAI UMS Gandeng 80 Perguruan Tinggi Lewat PPPAII

Perluas Jejaring Nasional, FAI UMS Gandeng 80 Perguruan Tinggi Lewat PPPAII

muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi memperluas jejaring akademik tingkat nasional melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) multipihak. Kesepakatan yang diinisiasi oleh Perkumpulan Program Studi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAII) ini melingkupi kerja sama strategis dengan 80 perguruan tinggi penyelenggara Program Studi PAI dari berbagai wilayah di Indonesia.

Penandatanganan tersebut berlangsung dalam rangkaian acara Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 di Bandung, Selasa (15/7/2026). Dalam forum tersebut, FAI UMS diwakili oleh Wakil Dekan II, Dr. Istanto, S.Pd.I., M.Pd., sementara pihak PPPAII diwakili langsung oleh Ketua Umum, Prof. Dr. Eva Latipah, M.Si.

Wakil Dekan II FAI UMS, Dr. Istanto, menegaskan bahwa penandatanganan MoU ini menjadi langkah konkret institusi untuk memperkuat sinergi antarlembaga dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi Islam, khususnya pada pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Melalui jejaring PPPAII ini, FAI UMS memiliki ruang yang semakin luas untuk berkolaborasi dalam pengembangan tri dharma perguruan tinggi. Kami berharap kolaborasi ini dapat meningkatkan kualitas akademik sekaligus memperkuat rekognisi nasional maupun internasional,” ujar Istanto, Senin (20/7/2026).

Ruang lingkup kemitraan ini mencakup transformasi pendidikan seperti pengembangan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), penyusunan profil lulusan, capaian pembelajaran, hingga evaluasi mutu. Selain itu, kerja sama ini memfasilitasi program mobilitas akademik, mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, dosen tamu, magang, hingga Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Di bidang penelitian dan pengabdian, para pihak bersepakat membentuk kelompok riset kolaboratif, penerbitan jurnal bereputasi, serta program pemberdayaan masyarakat yang menyasar sekolah, madrasah, pesantren, hingga peningkatan kompetensi guru PAI. Secara kelembagaan, kemitraan juga mencakup pendampingan akreditasi, benchmarking, dan persiapan menuju rekognisi internasional.

Istanto menambahkan bahwa kemitraan ini merupakan wujud komitmen FAI UMS dalam membangun tata kelola pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan industri.

“Kami memandang kolaborasi sebagai salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing lulusan dan memperkuat inovasi pembelajaran,” pungkasnya.

Nota Kesepahaman ini dirancang berlaku selama lima tahun ke depan. Sebagai tindak lanjut teknis, implementasi dari kesepakatan ini akan dituangkan secara rinci melalui Perjanjian Kerja Sama (Memorandum of Agreement/MoA) dan Implementation Arrangement (IA) yang mengatur target, skema pembiayaan, serta luaran program.