muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Permasalahan pada pelaksanaan ibadah masih banyak dibicarakan oleh kalangan warga Muhammadiyah. Terutama, pada salat, yang sering kali mendominasi pada pertanyaan-pertanyaan di majelis ilmu atau platform digital milik Muhammadiyah.
Dosen Hukum Ekonomi dan Syariah (HES) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Isman, S.H.I., M.H., menemukan sebuah pertanyaan yang kerap kali dipermasalahkan oleh warga persyarikatan. Pertanyaan tersebut meliputi jumlah bacaan doa ruku dan sujud, serta hukum diperbolehkannya menambahkan do’a setelah tasyahud.
Isman mengatakan terdapat kegundahan pada masyarakat tentang jumlah bacaan ruku dan sujud. Banyak yang mengatakan tidak menemukan penjelasan spesifik untuk pelaksanaan ruku dan sujud dalam salat.
Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H., Dosen FAI UMS
“Bacaan tasbih dalam rukuk dan sujud tidak terdapat penjelasan jumlah spesifik angkanya,” ujar Isman, Selasa (14/4).
Menanggapi pertanyaan yang muncul pada masyarakat. Isman mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasai dari Hadits Anas bin Malik. عن أنس قَالَ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشْبَهُ صَلَاةَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هذا الغلام يعني عمر بن عبد العزيز فخررنا في الركوع عشر تسبيحات وفي السُّجُودِ عشر تسبيحات. [رواه أحمد وأبو داود والنسائي بإسناد جيد]
“Diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata, saya tidak melihat seorangpun yang salatnya mirip dengan Rasulullah SAW dan anak ini, yakni Umar bin Abdul Aziz, maka kami memperkirakan dalam rukuknya beliau membaca tasbih sepuluh kali dan dalam sujudnya tasbih sepuluh kali. [HR Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasai, dengan sanad yang baik].”
Menurut Isman, membaca doa ruku dan sujud, mungkin lebih dari tiga kali dengan merujuk hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa’i dari Anas. Namun terdapat dua kondisi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam pelaksanaanya.
“Terdapat dua kondisi dalam penetapan hukum tentang bilangan bacaan doa ruku dan sujud. Pertama, kondisi salat munfarid (sendiri) yang boleh lama, dan kedua, salat jamaah (bersama) yang harus menyesuaikan kondisi jamaah yang ada di belakang imam,” jelasnya.
Kemudian, masalah kedua terdapat pada persoalan menambah doa ketika salat selain doa-doa salat. Isman menjelaskan bahwa penambahan doa selain doa-doa salat dapat dilakukan ketika setelah membaca doa tasyahud merujuk pada dua hadis shahih.
Pertama, dalam hadis Ibnu Mas’ud dalam masalah tasyahud “Kemudian hendaklah ia memilih doa yang paling ia kagumi” riwayat Muttafaq ‘Alaih.
Kedua, dalam hadis riwayat Muslim: “Kemudian hendaklah ia memilih setelah tasyahud permohonan yang dikehendakinya atau disukainya”.
Melalui dua hadis tersebut, lanjutnya, dapat disimpulkan bahwa penambahan doa selain doa-doa dalam salat dapat dilaksanakan setelah doa tasyahud akhir.
Lebih lanjut, Isman menegaskan bahwa jumlah bacaan pada ruku dan sujud saat salat dilakukan dengan melihat kondisi ketika salat. Sementara penambahan doa selain doa-doa salat boleh dilaksanakan setelah doa tasyahud akhir.
“Bacaan doa rukuk dan sujud dapat ditambah kuantitas jumlahnya, dan tidak boleh ditambah dengan doa apapun. Lain halnya dengan diperbolehkan pada kondisi setelah bacaan tasyahud akhir,” pungkasnya. (Affiq/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA– Upaya peningkatan kualitas pembelajaran terus didorong Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui penguatan kompetensi guru, salah satunya dengan memberikan pelatihan penyusunan asesmen dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) terintegrasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi guru Muhammadiyah di wilayah Colomadu.
Kegiatan yang digelar di Laboratorium Pendidikan Matematika UMS itu kini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan UMS dalam memperkuat sistem evaluasi pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan pendidikan dan kebutuhan siswa.
Ketua kegiatan, Adi Nurcahyo, S.Pd., M.Pd., menerangkan bahwa sebanyak 20 guru dari 7 SD/MI dan 1 SMP Muhammadiyah di Colomadu terlibat dalam pelatihan ini. Program tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada peningkatan kualitas penilaian pembelajaran di sekolah Muhammadiyah.
“Kompetensi guru dalam menyusun asesmen menjadi aspek krusial dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran di kelas,” kata Adi saat ditemui pada Selasa, (14/4).
Ia menjelaskan, asesmen tidak hanya berfungsi sebagai alat penilaian, tetapi juga sebagai instrumen untuk memetakan kemampuan siswa secara lebih komprehensif sehingga dapat menjadi dasar dalam memperbaiki strategi pembelajaran.
Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I., memaparkan pentingnya integrasi nilai AIK dalam asesmen.
Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari UMS yang memberikan materi secara komprehensif dan aplikatif. Pada sesi awal, Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I., memaparkan pentingnya integrasi nilai AIK dalam asesmen. Menurutnya, penilaian yang baik tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga harus mencerminkan nilai aqidah, ibadah, akhlak, dan kemuhammadiyahan melalui desain rubrik yang menyeluruh.
Selanjutnya, Dr. Muhammad Noor Kholid, M.Pd., menjelaskan konsep dasar asesmen pembelajaran yang menekankan prinsip validitas, objektivitas, keadilan, dan keberlanjutan dalam proses penilaian. Noor Kholid juga menyoroti pentingnya penggunaan berbagai jenis asesmen seperti diagnostik, formatif, dan sumatif sebagai bagian dari strategi untuk memantau perkembangan belajar siswa secara berkelanjutan.
Dr. Muhammad Noor Kholid, M.Pd., menjelaskan konsep dasar asesmen pembelajaran yang menekankan prinsip validitas, objektivitas, keadilan, dan keberlanjutan dalam proses penilaian.
Pada sesi berikutnya, Nuqthy Faiziyah, S.Pd., M.Pd., mengupas secara mendalam mengenai Tes Kemampuan Akademik (TKA), mulai dari konsep dasar hingga penyusunan soal berbasis level kognitif siswa. Dalam diskusi, para guru mengemukakan sejumlah tantangan di lapangan, termasuk menurunnya motivasi siswa dalam menghadapi TKA karena sebagian telah diterima di jenjang pendidikan berikutnya sebelum tes dilaksanakan.
Selain itu, masih lemahnya pemahaman konsep dasar siswa juga menjadi perhatian, mengingat soal TKA menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi yang belum sepenuhnya dikuasai oleh peserta didik.
Menanggapi hal tersebut, pelatihan yang telah sukses terlaksana pada Kamis, (9/4), ini diarahkan untuk membantu guru merancang asesmen yang lebih relevan dan terstruktur, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai dasar perbaikan pembelajaran.
Salah satu peserta, Sariyanti, mengaku pelatihan ini memberikan wawasan baru dalam menyusun asesmen yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi pembelajaran di sekolah.
Melalui program berkelanjutan ini, UMS berharap guru-guru Muhammadiyah mampu mengembangkan praktik penilaian yang lebih berkualitas, sehingga berdampak langsung pada peningkatan mutu pembelajaran di lingkungan sekolah. (Yusuf/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ( IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta ( UMS) menyelenggarakan Seminar Inspirasi dalam rangka milad IMM ke-62, pada Minggu (12/4) bertempat di Auditorium Djazman kampus 1 UMS.
Mengusung tema “Healing the Nation: Perempuan, Empati dan Transformasi Peradaban di Tengah Arus Globalisasi”, seminar ini menghadirkan Drg. Hanum Salsabiela Rais, M.B.A., sebagai narasumber.
Dalam penyampaiannya, Hanum menekankan pentingnya seorang mahasiswa, selaku Agent of Change untuk memiliki identitas, karakter, dan ideologi yang kuat di era disrupsi saat ini, tidak hanya sekedar mengikuti tuntutan orang lain atau mengikuti trend media sosial.
Drg. Hanum Salsabiela Rais, M.B.A., memaparkan materi pada Seminar Inpirasi IMM FIK UMS
“Bagaimana kita menjadi seorang agent of change di tengah globalisasi seperti ini, tapi kita tetap memiliki identitas, karakter, dan ideologi yang tetap bergabung,” ujarnya.
Di samping itu, ia menyebutkan bahwa pendidikan tidak selalu menentukan jalur karir secara mutlak, namun tetap penting untuk kita mengetahui passion dan kemampuan diri masing-masing.
“Passion itu apa yang kamu bisa, apa yang kamu suka, dan terdapat nilai penghargaan di dalamnya atau biasa disebut rewarding,” jelasnya.
Hanum juga menekankan pentingnya pemikiran kritis yang dimulai dari pendidikan, dimana pendidikan akan membangun struktur pemikiran dalam otak yang sistematis, sehingga dari cara berpikir yang sistematis tersebut akan tumbuh pemikiran yang kritis.
“Anak muda itu perlu menghabiskan rasa sakitnya di masa muda, ia harus berjibaku dengan segala tantangan, namun sekeras apapun usahanya, tidak ada gunanya jika ia tak memiliki pemikiran yang kritis,” ungkapnya.
Ia juga mendorong para perempuan untuk berani bermimpi dan menentukan pilihan hidup, termasuk pendidikan dan karier, tanpa tertekan oleh stigma di masyarakat seperti menikah muda.
“Jadi perempuan itu sekolah dulu yang tinggi, jangan nikah muda biar banyak anak banyak rezeki, rezeki itu sudah ada yang mengatur,” ucapnya.
Di akhir penyampaiannya, ia berpesan untuk menjadi generasi coconut yang mampu menghadapi tantangan dan bangkit dari kegagalan, bukan menjadi generasi strawberry yang dilihat cantik dari luar namun memiliki rasa yang masam dan rapuh saat jatuh.
“Strawberry itu cantik kan dilihatnya, tapi saat jatuh langsung lembek berbeda dengan coconut yang dilihat itu jelek ya, warnanya coklat bentuknya besar, namun saat jatuh tidak lembek, saat dibuka pun airnya menyegarkan,” pungkasnya. (Choiril/Affiq/Humas)
muhammadiyahkaranganyar.or.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui SDGs Center menyelenggarakan kompetisi bertajuk UMS Berkelanjutan yang berfokus pada tiga isu utama, yakni energi listrik, plastik, dan sampah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam mendorong kesadaran dan kontribusi civitas academica terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Program UMS Berkelanjutan dikemas dalam empat kategori, yakni Video Challenge, Student Action Grant Application, Impact Award, dan Student Achievement Award. Kompetisi UMS Berkelanjutan akan berlangsung hingga 8 Mei 2026 dan mendukung 17 indikator SDGs, dengan fokus utama pada isu energi listrik, plastik, dan sampah.
Ketua SDGs Center UMS Rama Rizana, S.T., M.Sc., menyebutkan bahwa tujuan utama dari penyelenggaraan kompetisi ini adalah untuk meningkatkan kesadaran civitas academica, khususnya mahasiswa, terhadap pentingnya SDGs. “Jadi kita harapannya mahasiswa lebih aware lagi, lebih sadar lagi, lebih tahu lagi apa itu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs,” ujar Rama Rizana, Senin (13/4).
Selain itu, kompetisi ini juga bertujuan memotivasi mahasiswa untuk berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing, baik secara individu, kelompok, maupun melalui Ormawa. Secara lebih luas, kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi UMS dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Untuk kategori Video Challenge, peserta diminta membuat video berdurasi 1 hingga 3 menit tentang isu energi listrik, plastik, dan sampah. “Bisa berupa praktik baik, jadi meng-capture atau mengabadikan praktik baik yang ada di UMS yang kaitannya soal konsumsi energi, pengurangan penggunaan botol plastik, sama sampah atau limbah,” jelas Rama yang juga dosen Teknik Sipil UMS.
Sementara itu, kategori Student Action Grant Application memberikan hibah kepada Ormawa di tingkat program studi, fakultas, hingga universitas. Peserta diminta mengajukan proposal kegiatan yang dapat berupa webinar, pelatihan, atau kampanye media sosial terkait isu keberlanjutan. Selain itu, peserta juga dapat mengangkat solusi inovatif yang dapat diimplementasikan di lingkungan UMS terkait tiga isu tersebut. Meski demikian, topik lain tetap diperbolehkan selama mencakup minimal satu dari tiga isu utama. Lima proposal terbaik dari Ormawa akan dipilih untuk mendapatkan apresiasi dan melaksanakan program yang diusulkan.
Kategori Impact Award, merupakan bentuk apresiasi bagi organisasi mahasiswa (Ormawa) yang telah dan terus mendukung isu keberlanjutan. Lima portfolio akan mendapatkan apresiasi atas praktik baik dan implementasi kegiatan dalam mendukung SDGs.
Student Achievement Award, penghargaan bagi mahasiswa yang memiliki prestasi terkait SDGs atau isu keberlanjutan di tingkat nasional maupun internasional. Lima portfolio juga akan mendapatkan apresiasi dari SDGs Center UMS.
Terkait kondisi pencapaian SDGs secara global, Rama Rizana menyebut masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. “Secara umum kan tiap tahun di tingkat global ada laporannya. Kita masih banyak banget PR-nya. Terutama bisa dibilang tiga SDGs utama yang menjadi rohnya UMS, SDG 1 tentang No Poverty, terus ketiga tentang kesehatan (Good Health and Well-being), dan keempat tentang kualitas pendidikan (Quality Education),” sebut Rama.
Ia menambahkan bahwa tantangan masih besar, terutama dalam pemerataan kualitas pendidikan. “Nah itu sebenarnya masih banyak PR-nya. Apalagi kan kalau dari segi pendidikan, pemerataan kualitas pendidikan itu kan jadi catatan,” ujar Rama. (Maysali/Humas)