muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Kepala MI Muhammadiyah Karanganyar, Sartini, M.Pd., membeberkan lima kunci sukses pengelolaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dalam forum Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad). Pemaparan tersebut bertujuan memberikan panduan strategis bagi madrasah agar mampu bertransformasi dari sekadar dikenal menjadi pilihan utama masyarakat.
Mengusung materi bertema “5 Kunci Sukses SPMB: Dari Madrasah Dikenal Menjadi Madrasah Pilihan”, Sartini menekankan bahwa indikator keberhasilan SPMB tidak diukur dari megahnya fasilitas atau besarnya jumlah siswa yang sudah dimiliki. Menurutnya, fondasi utama SPMB terletak pada mutu pelayanan, keunggulan program, konsistensi promosi, serta tingginya kepercayaan publik.
“SPMB bukan sekadar mencari murid baru, melainkan membangun kepercayaan masyarakat. Ketika orang tua merasakan mutu dan pelayanan yang baik, kepercayaan akan tumbuh dan madrasah semakin mendapat tempat di hati masyarakat,” ujar Sartini.
Dalam forum tersebut, Sartini merinci lima langkah praktis pengelolaan SPMB yang relevan untuk dikembangkan sesuai potensi masing-masing madrasah:
Menunjukkan Keunggulan Nyata: Mengidentifikasi dan mengomunikasikan program unggulan secara konkret. MI Muhammadiyah Karanganyar sendiri menawarkan empat pilihan program, yakni ICP, Bilingual, Reguler, dan Tahfidz yang diperkuat pendidikan karakter Islami.
Maksimalisasi Promosi Digital: Memanfaatkan saluran website dan media sosial sebagai media informasi resmi secara berkala. Konten pembelajaran, prestasi, dan aktivitas keislaman dikemas terencana tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi.
Menjadikan Wali Murid Duta Madrasah: Membangun komunikasi terbuka dan pelayanan yang ramah. Pengalaman positif serta testimoni orang tua murid menjadi alat promosi organik yang sangat efektif.
Layanan Ramah dan Responsif: Memberikan pelayanan cepat dan transparan sejak calon wali murid pertama kali mencari informasi, termasuk kejelasan biaya dan pendampingan pendaftaran.
Sinergi Tim dan Evaluasi Berkala: Menggalang kerja sama seluruh elemen madrasah—mulai dari kepala madrasah, guru, hingga tenaga kependidikan—yang dilengkapi pembagian peran serta evaluasi perkembangan secara rutin.
Sartini turut memberi motivasi kepada pengelola madrasah berkembang agar tetap optimistis dan fokus pada potensi internal tanpa terjebak dalam perbandingan skala lembaga.
“Besar bukan alasan untuk merasa paling hebat, dan kecil bukan alasan untuk merasa tertinggal. Kita mungkin tidak memiliki fasilitas yang sama, tetapi kita bisa memiliki semangat yang sama untuk terus meningkatkan mutu dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tegasnya.
Melalui forum Diksuskamad ini, praktik baik yang dibagikan diharapkan dapat menginspirasi madrasah-madrasah lain dalam merancang strategi penerimaan peserta didik baru yang kreatif, terukur, dan berkelanjutan.
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














