muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan program pemberdayaan lingkungan bertema “Pemberdayaan Sekolah Menuju Zero Waste melalui Edukasi Pengelolaan Sampah Terpadu” di SD Muhammadiyah 24 Surakarta. Kegiatan ini dirancang untuk membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan melalui sistem pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sampah secara mandiri.
Program yang dilaksanakan melalui skema Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) ini didanai secara internal oleh UMS. Tim pengabdian terdiri atas Herry Purnama, Rini Kuswati, Nur Hidayati, Haryo Bhaskoro, dan Rafi Amani Muflih Rahardi.
Ketua Tim Pengabdian, Herry Purnama, menjelaskan bahwa konsep Zero Waste School menitikberatkan pada pembentukan kebiasaan warga sekolah dalam mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

“Warga sekolah mendapatkan edukasi mengenai konsep Zero Waste School, yaitu upaya membangun sistem dan kebiasaan sekolah untuk mengurangi sampah sejak dari sumber, memilah sampah sesuai jenisnya, memanfaatkan kembali material yang masih bernilai, serta mengolah sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir sebagai residu,” ujar Herry, Rabu (4/11/2026).
Materi pendampingan yang diberikan mencakup empat pilar utama: reduksi sampah, pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, serta pengelolaan sampah anorganik. Pada tahap reduksi, peserta didorong membiasakan penggunaan kotak makan dan botol minum (tumbler) pribadi guna meminimalisasi sampah plastik sekali pakai. Pada tahap pemilahan, peserta diajarkan memisahkan sampah organik, anorganik bernilai guna, dan residu.
Untuk pengolahan sampah organik, UMS memperkenalkan inovasi teknologi sederhana seperti teknik pencacahan, proses komposting, hingga budidaya larva Black Soldier Fly (BSF). Teknologi ini dipilih karena mudah diterapkan di lingkungan sekolah sekaligus menjadi media pembelajaran praktis bagi para siswa. Hasil komposting dimanfaatkan untuk penghijauan lingkungan sekolah, sementara larva BSF digunakan untuk mengurai sampah sisa makanan basah.
Pada sektor sampah anorganik, pengolahan diperkuat dengan pemilahan material daur ulang seperti botol plastik, kertas, dan kardus, yang didukung oleh integrasi aplikasi digital SMOGRA agar pengelolaan administrasi sampah menjadi lebih terstruktur.

Guna memastikan keberlanjutan program pascakegiatan yang diselenggarakan pada Selasa (13/10/2026) tersebut, sekolah membentuk tim pengelola, menetapkan Duta Lingkungan, menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pemilahan, serta merancang mekanisme pemantauan berkala.
Herry menekankan bahwa mewujudkan Zero Waste School merupakan proses bertahap yang membutuhkan konsistensi dari seluruh elemen sekolah.
“Perubahan menuju Zero Waste School tidak harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan mengurangi sampah, memilah dengan benar, dan mengolah sampah organik secara konsisten merupakan fondasi penting untuk membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan,” pungkas Herry.
Editor: Asef Dwi Nugroho, S.I.Kom.














