muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerja sama dengan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jombor menginisiasi pembentukan Tim Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari Kekerasan (P3AK). Langkah awal program berbasis komunitas ini diawali melalui Pengajian Tematik bertajuk “Merawat Sakinah: Bicara dengan Kasih, Tegas Tanpa Menyakiti” di Masjid Baitusyukur Walang, Jombor, Sukoharjo, Jumat (9/11/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 jamaah ini merupakan implementasi Program Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan (Dosen – Tendik Berkontribusi) UMS Tahun 2026 melalui skema “One Dosen – One Tendik – One AUM”.
Ketua Tim P2M UMS, Luthfiyyah Amalina Husna, S.H., M.H., menyampaikan bahwa kegiatan dakwah ini dirancang untuk memperkuat akhlak keluarga sekaligus mendasari pembentukan kelembagaan Tim P3AK di Kelurahan Jombor.

“Pengajian tematik ini merupakan bentuk dakwah sekaligus bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan inti dari program ini adalah inisiasi Tim Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari Kekerasan (P3AK) berbasis ‘Aisyiyah di Kelurahan Jombor, Sukoharjo, yang diperkuat melalui pembinaan akhlak keluarga,” ujar Luthfiyyah.
Tim P2M UMS tersebut beranggotakan Gita Aulia Nurani, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog; Diana Setiawati, S.H., LL.M.; Sinung Aribowo, S.E.; serta melibatkan dua mahasiswa Fakultas Hukum UMS, Shabrina Luthfiana dan Fatikha Ardhi Cahya Nusara.
Hadir sebagai narasumber utama, Gita Aulia Nurani menguraikan pentingnya pola komunikasi dalam keluarga untuk mewujudkan tatanan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah sesuai tuntunan QS. Ar-Rum ayat 21. Ia menekankan bahwa sikap tegas dalam keluarga tidak harus disampaikan dengan cara yang kasar atau melukai perasaan.

Untuk membangun komunikasi yang konstruktif, Gita mengenalkan formula “RASA”, yaitu Redam emosi sebelum berbicara, Akui dan validasi perasaan lawan bicara, Sampaikan maksud menggunakan sudut pandang pribadi (I-message), serta Ajak mencari solusi bersama.
Selain itu, jamaah diingatkan untuk menghindari lima kebiasaan lisan yang merusak hubungan rumah tangga, seperti membanding-bandingkan, mengungkit masa lalu, menggunakan kata-kata ekstrem, menyindir di media sosial, dan mendiamkan pasangan. Sebaliknya, pembiasaan empat kata kunci—tolong, maaf, terima kasih, dan ekspresi kasih sayang—didorong untuk menjadi budaya harian keluarga.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, Tim P2M UMS telah menyiapkan rangkaian agenda lanjutan, di antaranya Kajian Tematik Lanjutan serta Workshop Inisiasi Tim P3AK di Honocoroko Resto. Sinergi antara akademisi, organisasi persyarikatan, dan masyarakat setempat ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan Kelurahan Jombor yang humanis, ramah anak, dan bebas dari kekerasan domestik.














