by | 28 Sep 2026 | KabarMu |

Sumpah Fisioterapis UMS: Isa Hanafi Tegaskan AI Tak Bisa Gantikan Clinical Reasoning

muhammadiyahkaranganyar.or.id, KARANGANYAR — Sebanyak 147 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi mengucap sumpah profesi pada Rangkaian Sumpah Fisioterapis Angkatan X Tahun Akademik 2025/2026 di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS, Minggu (27/9/2026). Momentum ini sekaligus menjadi ruang refleksi mendalam terkait tantangan profesi fisioterapi di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Dalam orasi ilmiah bertajuk “Transformasi Clinical Reasoning Fisioterapi di Era Artificial Intelligence: Dari Evidence-Based Practice Menuju Personalized Rehabilitation”, Isa Hanafi, Ftr., menegaskan bahwa sumpah profesi ini merupakan awal dari tanggung jawab pelayanan langsung kepada masyarakat.

Isa menjelaskan, kehadiran AI mempercepat akses informasi klinis secara signifikan dibandingkan metode konvensional. Namun, kemudahan tersebut tidak mengurangi pentingnya kemampuan berpikir kritis atau clinical reasoning bagi seorang fisioterapis.

“Dahulu kita membutuhkan waktu berjam-jam untuk membuka buku, mencari jurnal, dan membaca guideline. Hari ini, dalam hitungan detik AI dapat memberikan jawaban. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu mendapatkan informasi, tetapi apakah kita mampu menilai informasi tersebut dan menggunakannya dengan tepat,” ujar Isa.

Menurutnya, clinical reasoning meliputi keseluruhan proses berpikir, mulai dari assessment, anamnesis, pemeriksaan, hingga evaluasi. Proses ini krusial untuk menganalisis berbagai kemungkinan kondisi pasien, seperti membedakan penyebab nyeri lutut posterior antara masalah hamstring, meniscus, maupun indikasi red flag, sebelum menetapkan keputusan klinis.

Isa juga menyoroti integrasi evidence-based practice ke dalam personalized rehabilitation. Kendati bukti ilmiah menjadi fondasi intervensi, penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi spesifik individu, seperti usia, tingkat keparahan, serta tujuan hidup pasien. Sebagai contoh, penanganan rekonstruksi ACL pada seorang atlet akan berbeda prioritasnya dengan pasien umum yang ingin kembali beraktivitas harian.

Meski AI dapat membantu merangkum literatur dan menyusun alternatif program rehabilitasi, Isa mengingatkan agar pemanfaatannya tetap memperhatikan prinsip integritas. Beberapa aspek kunci yang wajib dijaga meliputi privasi data, akurasi, tanggung jawab klinis, pencegahan bias, transparansi, serta etika akademik.

“AI dapat membantu kita bekerja, tetapi AI belum dapat menggantikan kita untuk berpikir. Teknologi dapat berubah dan semakin canggih, tetapi pasien tetaplah manusia yang membutuhkan pelayanan berdasarkan pemahaman terhadap kondisi dan kebutuhannya,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Informasi PDM Karanganyar kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Muhammadiyah Karanganyar

Artikel terkait